img Satu Malam, Dua Anak  /  Bab 1 Aku Sudah Berusia Delapan Belas Tahun  | 0.63%
Unduh aplikasi
Riwayat Membaca
Satu Malam, Dua Anak
Satu Malam, Dua Anak
Penulis: GIULIO WOODS
img img img
Bab 1 Aku Sudah Berusia Delapan Belas Tahun
Jumlah Kata:1228    |    Dirilis Pada:13/01/2023

"Apa kamu sudah dewasa?"

Di bawah pengaruh obat, Melita Parasian menjawab dengan akal sehat terakhir yang dimilikinya, "Tentu saja! Aku sudah berusia delapan belas tahun hari ini!"

"Lalu kamu memutuskan untuk menjual tubuhmu begitu kamu dewasa, ya? Apa kamu sebegitu kekurangan uang? Atau kamu hanya tidak sabar untuk bisa tidur dengan pria?"

Pria itu menyentuh dagu Melita dengan jari-jarinya yang panjang dan mengangkatnya seolah memeriksa kondisi sebuah barang yang baru diperoleh.

Jari-jarinya yang kasar membelai wajah Melita dengan lembut sampai dia tiba-tiba mencubit dagunya dengan keras dan memaksanya untuk menatap matanya. Pipinya sedikit memerah karena efek obat, yang menjadi undangan tanpa suara untuk sang pria. Wangi tubuhnya yang samar memasuki hidung pria itu, membuat bagian bawah tubuhnya mengeras dan berdenyut di antara kedua kakinya.

Namun, predator tingkat tinggi dikenal lebih sabar daripada bertindak terburu-buru. Itu sebabnya, jari-jari pria itu justru bergerak menembus gaun selipnya untuk menemui kewanitaannya yang sudah basah.

Melita berseru karena ada sesuatu yang memasuki tubuhnya dengan tiba-tiba. Sebelum dia bisa bergerak mundur, bibir pria itu sudah turun ke bibirnya, membuatnya tanpa sadar menjepit kedua pahanya.

"Santai saja." Pria itu melepaskannya sejenak.

"Cepat ...," desak Melita yang sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Air liur pria itu masih berkilau di sudut mulutnya.

Sang pria membungkuk dan menyeringai.

"Kamu hanya seorang gadis muda ...."

Dia berhenti sejenak sambil menatap Melita untuk sementara waktu. Tiba-tiba, dia melonggarkan cengkeramannya dan melangkah mundur dengan dingin.

"Kamu tidak memiliki apa yang kuinginkan dari seorang wanita. Keluar dari sini." Perkataan itu membuat pria itu terlihat kejam dan menjaga jarak.

Sekujur tubuh Melita gemetar. Akan tetapi, dia sudah datang ke tempat ini dan rela mempertaruhkan segalanya, jadi dia tidak akan menerima jawaban tidak. Sambil mencondongkan tubuh ke depan, dia menggodanya lagi.

"Bagaimana kamu bisa tahu kalau kamu bahkan belum mencobanya?" Melita mulai melepas gaun terusan merahnya, lalu bra rendanya, memperlihatkan tubuh indahnya di bawah cahaya yang redup. Dia meraih segelas anggur merah di sampingnya dan menuangkan cairan itu ke tubuhnya. Rasa dingin membuatnya gemetar tak terkendali. Meskipun saat ini dia merasa sangat malu, tindakannya menunjukkan kesungguhannya.

"Aku basah kuyup sekarang. Aku tidak bisa pergi dalam keadaan seperti ini." Anggur merah itu mengalir dari leher ke tulang selangkanya, kemudian turun ke dadanya. Tubuh gadis muda itu terlihat sangat memikat saat ini dan membuat saraf kewarasan sang pria putus.

"Hmm ... dingin ...." Melita mendekatkan diri dengan erat padanya seperti seekor kucing jinak sambil sedikit memutar pinggangnya.

"Kamu yang meminta ini."

Pria itu tertegun selama beberapa detik, tetapi begitu akal sehatnya kembali, dia menarik Melita lagi.

Dia meraih gaun terusan berwarna merah yang masih menutupi paha Melita dan menariknya sampai kain tipisnya menutupi wajah wanita itu.

Dari awal, Melita sudah tidak bisa melihat wajah sang pria dengan jelas karena kamar itu hanya diterangi oleh lampu dinding. Sekarang, dia hanya bisa melihat garis samar sosok pria itu di atas tubuhnya.

Namun, sebaliknya, tubuh Melita benar-benar terlihat jelas bagi pria itu. Ketegangan di tubuhnya menunjukkan betapa gugupnya Melita ketika tangan besar sang pria perlahan meluncur ke tulang selangkanya, berhenti tepat di ujung dadanya yang berwarna merah muda.

Pada saat ini, karena efek obat dan gerakan tangan pria itu yang selang-seling, tubuh Melita pun mulai bergetar tak terkendali. Gairah yang muncul membuatnya menginginkan pria itu untuk masuk ke dalam tubuhnya sekarang juga.

Ketika pria itu menyaksikan betapa kuat reaksi Melita terhadap sentuhannya, tatapannya berubah dingin. Semua kelembutan yang hadir sebelumnya menghilang. Bagaimana dia bisa bersimpati dengan seorang wanita yang menggunakan obat sebelum menawarkan dirinya padanya?

Akhirnya, dia membentangkan kedua kaki Melita tanpa ragu dan segera menenggelamkan dirinya ke dalam wanita itu.

"Aduh ... sakit!"

Tangan lembut Melita menekan dada sang pria, berusaha mendorongnya menjauh, tetapi dia tidak memiliki cukup kekuatan untuk membuatnya bergerak.

Rasa sakit membuat tubuhnya menjadi sangat tegang, yang semakin menggairahkan pria itu.

Setiap kali sang pria mendorong dengan agresif ke dalam dirinya, dia mencapai tempat yang lebih dalam. Tubuh Melita pun mengikuti irama gerakan tubuhnya. Alisnya yang berkerut dengan erat tidak mampu membangkitkan belas kasihan pria itu.

Melita tidak tahu apakah dia akhirnya bisa beradaptasi dengan keganasannya atau apakah efek obat itu sudah sepenuhnya bekerja, tetapi begitu dia mengerang, wajahnya memerah seperti apel matang. Dia buru-buru menggigit lidahnya dengan keras, berusaha menahan erangan lain yang hendak keluar dari bibirnya.

Ekspresi wajahnya ini hanya semakin merangsang sang pria. Ketika gerakannya menjadi lebih cepat, dia mencium bibir halus Melita dengan kasar.

Suara bagian tubuhnya yang masuk dan keluar dari tubuh Melita serta benturan antar kulit membuat suhu seluruh kamar naik.

Keesokan paginya, Melita bangun dan mendapati dirinya sendirian di kamar itu. Pakaian dan tisu-tisu berserakan di lantai, menunjukkan betapa liarnya aksi tadi malam.

Setiap kali Melita bergerak, dia merasa tubuhnya seolah-olah terkoyak. Setelah berjuang dengan susah payah untuk bangun dari tempat tidur, dia mengambil pakaiannya dan mengenakannya.

Saat dia melihat sebuah notifikasi transfer uang di ponselnya, dia bergegas menuju rumah sakit kota dan bahkan tidak berpikir untuk mencari keberadaan pria itu.

Selama dia punya uang, ibunya bisa mendapatkan perawatan.

Tidak ada hal lain yang lebih penting baginya, bahkan kesuciannya sendiri.

Setelah membayar biaya pengobatan, Melita memegang tangan ibunya untuk terakhir kali sebelum para perawat membawanya ke ruang operasi.

Melita menunggu selama empat jam sampai dokter keluar dan mengabarkan bahwa kondisi ibunya stabil untuk saat ini. Ketika mendengar ini, dia bersandar ke dinding dan menghela napas lega.

Hanya saja, dia tidak pernah membayangkan bahwa akibat dari tindakannya tadi malam tidak berakhir begitu saja.

Setelah beberapa minggu, Melita menemukan bahwa dirinya hamil.

Meskipun dia hanya tidur dengan pria itu malam itu, dia sudah mengandung bayinya.

Untungnya, yang harus dia lakukan selama beberapa bulan ke depan hanyalah mengurus dirinya sendiri.

Orang yang mempekerjakannya sangat baik. Dia akan menerima uang setiap bulan, yang cukup untuk menutupi biaya pemulihan ibunya.

Seiring berjalannya waktu, perutnya mulai membesar dan kondisi ibunya terus stabil.

Tepat ketika Melita berpikir bahwa dia akhirnya bisa menjalani kehidupan yang damai, dia mendapat kabar dari rumah sakit bahwa kondisi ibunya memburuk.

Saat ini, kehamilannya sudah mencapai usia delapan bulan. Meskipun dia sudah bergegas sekuat tenaga ke rumah sakit, dia tidak bisa melihat ibunya untuk yang terakhir kali sebelum beliau meninggal.

Efek syok dari kematian ibunya memengaruhi kondisi fisiknya sehingga dia melahirkan secara prematur.

"Apa yang kalian lakukan? Tunggu sebentar! Biarkan aku melihat bayiku!"

Belum sempat Melita bangkit dari kesedihan karena kehilangan ibunya, sekelompok orang mendobrak masuk dan membawa pergi anaknya.

Dia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk menyentuh bayi itu.

"Oh! Masih ada satu lagi!"

Dalam keadaan linglung, Melita mendengar kata-kata perawat itu.

Dengan kekuatan terakhir yang dimilikinya, Melita memaksakan diri untuk membuka mata dan menyaksikan sang perawat menggendong bayi lain yang berlumuran darah.

"Kumohon ...."

Dia mengulurkan tangannya yang gemetar ke perawat itu, menghentikannya pergi dengan bayinya yang baru lahir.

"Biarkan aku melihatnya."

Hati perawat itu melunak ketika melihat air mata mengalir di wajah lelah Melita. Setelah membungkus bayi itu dengan selimut, dia menyerahkannya pada ibu yang malang itu.

Ketika perawat keluar, Melita turun dari tempat tidur dengan susah payah dan terhuyung-huyung keluar dari rumah sakit membawa anaknya dalam pelukannya. Dia tidak peduli dengan kondisinya yang masih terlalu lelah karena baru melahirkan sang kembar.

Bayi ini adalah keluarga terakhir yang dimilikinya.

Dia tidak bisa membiarkan orang-orang itu mengambil anak ini darinya juga.

Mereka tidak akan bisa menyentuhnya. Tidak akan!

Satu jam kemudian, ketika orang-orang itu mendapat kabar bahwa ada bayi kedua, mereka kembali ke rumah sakit. Seprai di ranjang rumah sakit masih berantakan, tetapi sudah tidak ada tanda-tanda keberadaan Melita.

Sebelumnya
             Selanjutnya
img
Konten
Bab 1 Aku Sudah Berusia Delapan Belas Tahun Bab 2 Pertama Kali Bertemu Pria Sampah Bab 3 Berkencan denganku Bab 4 Pengawal dan Asistennya Bab 5 Sulit untuk Menjadi Wanitamu Bab 6 Apa Kamu akan Melakukannya atau Tidak Bab 7 Mereka Terlihat Sangat Mirip Bab 8 Bukan Terserah Kamu Bab 9 Tiga Hari untuk Memikirkannya
Bab 10 Membalas Jordan
Bab 11 Hasil yang Mengecewakan
Bab 12 Membuat Kompromi
Bab 13 Bertemu Lagi dengan Keluarga Parasian
Bab 14 Jangan Berani-Berani Menyentuhnya
Bab 15 Ciuman
Bab 16 Permintaan Betran
Bab 17 Mengancam
Bab 18 Kamu Tidak Bisa Turun dengan Pakaian Seperti Ini
Bab 19 Adik Jordan!
Bab 20 Wanita Tak Tahu Malu
Bab 21 Mencium Bocah Laki-laki Itu lagi
Bab 22 Martabat Mulia
Bab 23 Memperlakukan Orang dengan Setara
Bab 24 Kamu Wanita Ambisius
Bab 25 Dia Sering Pergi untuk Menyelamatkan Dunia
Bab 26 Tinggallah Denganku
Bab 27 Calon Istrinya
Bab 28 Menemaninya Tidur Siang
Bab 29 Bukan Wanita Biasa
Bab 30 Wanita yang Sudah Menikah
Bab 31 Brengsek
Bab 32 Memberinya Kebebasan yang Cukup
Bab 33 Aku akan Mendukungmu
Bab 34 Konfrontasi dengan Seseorang dari Keluarga Parasian
Bab 35 Siapa yang Menyuruhmu untuk Menyakitinya
Bab 36 Memata-matainya
Bab 37 Ikuti Wanita Itu
Bab 38 Membalaskan Dendam untuknya
Bab 39 Kamu akan Kehilangan Grup Parasian
Bab 40 Benny akan Bersikap Patuh Kali Ini
Bab 41 Sekelompok Orang Tidak Berguna
Bab 42 Ibu Kandung
Bab 43 Beraninya Dia Mengunci Pintu
Bab 44 Celak Mata
Bab 45 Dia Bukan Ibu Betran
Bab 46 Ke Mana Kamu Pergi Selama Jam Kerja
Bab 47 Dia Serius Tentang Itu
Bab 48 Aku Dibayar untuk Itu
Bab 49 Aku Tidak Pernah Peduli dengan Hal Semacam Itu
Bab 50 Hubungan yang Serius
Bab 51 Dia Hanya Mengikuti Perintahku
Bab 52 Apa Kalian Makan Gaji Buta
Bab 53 Debat di Ruang Rapat
Bab 54 Kamu juga Anggota Grup Parasian
Bab 55 Tujuh Puluh Persen dari Keuntungan
Bab 56 Apa yang Terjadi Antara Kamu dan Keluarga Parisian
Bab 57 Mengapa Kamu Tidak Membiarkanku Tinggal dan Makan Bersamamu
Bab 58 Apa Kamu Cemburu
Bab 59 Tante Sudah Bangun
Bab 60 Betran Bukanlah Putramu
Bab 61 Apa Kamu Menertawakanku
Bab 62 Jangan Sampai Ayahku Tahu
Bab 63 Akulah Alasannya
Bab 64 Ibuku Tidak Mencintaiku Lagi
Bab 65 Aku Memang Disukai Orang
Bab 66 Tolong Pergilah
Bab 67 Siapa Wanita Itu
Bab 68 Saya akan Memenuhi Harapan Semua Orang
Bab 69 Kesempatan Luar Biasa
Bab 70 Aku akan Membunuhmu
Bab 71 Aku Sudah Berhenti dari Pekerjaanku
Bab 72 Aku Tidak Suka Jus
Bab 73 Temperamen yang Buruk
Bab 74 Jangan Membuatku Menunggu Terlalu Lama
Bab 75 Tidak Akan Ada Biaya Dukungan
Bab 76 Pesta Perayaan
Bab 77 Sosok yang Familier
Bab 78 Kenapa Dia Mirip denganku
Bab 79 Apa Dia Putra Tante
Bab 80 Haruskah Aku Minum Anggur
Bab 81 Aku Ingin Kamu Menjadi Istri Jordan
Bab 82 Seseorang Membiusku
Bab 83 Tidak Ada yang Berani Mempermalukanmu
Bab 84 Aku Sedang Sibuk Sekarang
Bab 85 Penyelidikan
Bab 86 Coba Katakan Lagi
Bab 87 CEO Seperti Dirinya adalah Tukang Servis Laptop
Bab 88 Seseorang di Balik Semua Ini
Bab 89 Datang Bulan
Bab 90 Bukan Penyakit
Bab 91 Apa Kamu Sudah Menyelesaikan Pekerjaanmu
Bab 92 Kita Tidak akan Membuat Kesalahan Seperti Itu
Bab 93 Pak Jordan Baik Sekali padamu
Bab 94 Tidakkah Aku Terlihat Cukup Cantik
Bab 95 Bukan Makanan Sampah
Bab 96 Lebih Profesional daripada Guru Musik
Bab 97 Apa Kamu Ingin Bertemu Benny
Bab 98 Harapan Melita
Bab 99 Memprovokasi
Bab 100 Para Gadis Suka Dipuji
img
  /  2
img
img
img
img