img Nafsu Besar Sang Dokter  /  Bab 3 Nafsu (3) | 3.80%
Unduh aplikasi
Riwayat Membaca

Bab 3 Nafsu (3)

Jumlah Kata:1559    |    Dirilis Pada: 15/12/2023

yang terngah-engah dan memburu. Ronald mendaratkan ciumannya kali ini ke lehernya. Kemudian mulutnya merambat turun ke

enikmati hisapan-hisapan liar sang dokter pada kedu

rangsangan yang terus datang sejak tadi tanpa henti. Sambil menyusu, Ronald juga mengobok-obok vaginanya. Jari-jarinya

, udah gak tahan nih," kata Ro

ri sudah merasa kepalang tanggung, juga dia anggap memebrikan kegadisan ya

ini. Lagian dokter yang memintanya pun tidak mengecewakan. Muda, gagah dan tampan. Andai pun suatu

ih memastikan. Hanifah menjawabnya denga

bil langsung menempelkan ujung kepala

ah ketika Ronald sedikit menekan pantatnya hingga rudal

ng Ronald sambil terus mendorong-dorongkan rudalnya secara perlahan. T

ah tak urung juga mengerang kesakitan dan mencengkram kuat lengan Ronald seti

rah perawan mengalir dari sana. "Uuuuuu, enak dan legit banget memek kamu Han. Kamu memang benar-benar

tidak berniat menjawab pertanyaan itu. Ronald mulai menggoyangkan pinggulnya memompa vagina sang gadis yang kini sudah tidak perawan l

yang masih relatif muda, stamina dan rudal sang dokter memang masih sangat bisa dia

taminanya tetap stabil dan tidak cepat muncrat sebelum

menciumi bibir gadis itu, kadang menggelitik tel

kan senantiasa menjaga kesuciannya sampai bertemu dengan lelaki yang benar-benar telah menjadi suaminya. Hanifah tidak menyan

dalnya dan mulutnya semakin menceraca

a malu-malu lagi. Dan beberapa film porno yang pernah diam-siam dia tonton pun kembali terputar, seolah

dan Hanifah menaiki rudalnya. Batang itu digenggam dan diarahkan ke vaginanya. Hanifah lalu menurunk

fah yang sempit. Sang suster pun mulai menggerakkan tubuhnya naik turun deng

aaak banget kontolmu, Dooook, aaaah saya sangaa

esan alim itu cukup berisik saat sedang merasakan kenikmatan bersetubuhan. Bahkan lebi

ujung roknya lalu ditariknya ke atas seragam yang berupa terusan itu hingga terlepas dari tubuhnya. Seragam itu dijatuhkannya di lantai seb

as dari semua itu, Ronald terkesima dengan Hanifah yang memiliki tubuh sempurna. Buah dadanya montok dan proporsional, perutnya rata dan ken

ifah demikian liar menaik-turunkan tubuhnya di atas rudal Ronald, dia merasakan ke

amu ternayata sangat liar dan binal," kata

gung terus meladeninya. Wajahnya bersemu merah karena terangsang berat, kian membuat

anifah tidak tahan lagi, dia telah mencapai orgasmenya. mulutnya t

a Hanifah lebih kencang. Dia pun merasakan cairan hangat meredam rudalnya dan otot-otot vagina suster

h Hanifah melemas dan tergolek

an memekmu yang sangat nikmat ini,"

asi juga atas pengalaman

tnya dengan keras sehingga memberi sensasi perih bercampur nikmat bagi gadis itu. Sedangkan

rbar banget sih,"'kat

isangkal Hanifah juga merasakan nikmat yang tak terkira. Tak

untuk diservis. Hanifah menggunakan tangan dan mulutnya bergantian melayani rud

s itu, sebagian masuk ke kerongkongannya sebagi

ya jadi kesengsem loh sama kamu," puji Ro

ke sini ya, Suster

umku," balas Hanif

Bahkan Hanifah berani datang ke rumah dinas sementara Ronald, ketika sang dokter itu tidak ditemukannya di rumah sakit.

g sudah kerasukan syahwat hemaninya itu. Ronald menjadikan Hanifah sebagai budak seksnya. Tak jarang mereka melakukan persetubuh

sughkan sang dokter bernafsu besar itu, hingga tak sadar, jika sesungguhnya dia telah menjadi seorang wani

ah dan penuh nafsu, seolah akan menelannya hidup-hidup. Hanifah juga rela mengganti semua pakaiannya denga

ika Dokter Ronald harus pindah tugas ke tempat lain. Dia benar-benar kelabakan

in ditahan semakin membuncah. Hanifah pun sudah tahu cara mendapatkan kepuasan dari lelaki lain yang berada di dekitarnya. Se

ar-benar sedang menikmati semua perubahan hidup dalam dirinya. Terlebih

gangkatan itu sempat mendatanngkan gelobang protes dari sesama suster yang su

eng," ucap Hanifah sambil menciumi amplop berisi Surat

an Dokter Belinda, is

*

img

Konten

img
  /  1
img
Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY