erasakan pergeseran udara yang tiba-tiba dan keras. Sebuah beb
ng otot yang kokoh. Dunia berputar tak terkendali saat mereka terguli
ar benturan, punggungnya membentur pagar. Namun lengan yang melingkarinya tidak pernah mengendur. Dia mel
a jatuh bergema di poros beton, bercampur dengan
tiba, semua
jahnya menempel di kerah seragam pria itu. Dia bisa mencium bau darah yanmbuka
lekukan leher Clarissa. Dia berat, bobot tubuhnya yang tak
siknya, suara
sedikit bergeser, menopang dirinya dengan lengan bawahnya. Wajahnya hanya
rtama yang dia lakukan adalah menatap Clarissa. Tatapannya menya
nyanya. Suaranya
anya. Jantungnya berdebar sangat cepat hingga dia pikir akan mterbuka. Sepatu bot berat ber
i mendadak di pendaratan di atas mereka. Dia melihat pemandangan itu-atasannya terbar
uduk bersandar pada tumitnya, memegang lengan kanannya di dada. Bahu seragamnya r
embentak, suaranya se
timur," Baskoro melaporkan, wajahnya muram.
etapi kakinya lemas. Baskoro menerjang maju, mera
butuh ten
ari Baskoro, sedikit terhuyung. Dia menatap Clarissa, yang masih duduk di la
ajahnya dari luka di dahinya, dan dia memberikan perintah. Dia baru saja menjatuhkan dirinya menuruni
koro bertanya, menawarkan
ke dinding, matanya masih tertuju pada Adiwijaya. Dia bersanda
ulai, suaranya pec
ci rumah sakit. Tidak ada yang boleh masuk atau keluar. Aku ingin tinjauan
kter-" Baskor
arissa tanpa melihatnya, menaiki tangga dengan langkah kaku dan kesakitan. "Bawa dia ke tempat aman. Dan
pa di dadanya. Dia ingin mengatakan sesuatu-terima kasih, m
balau. Para dokter dan perawat berlarian, Polisi Militer
at. "Ya Tuhan, Clarissa! Kau baik-bai
atis. Tapi dia tidak baik-baik saja. Dia gemetar,
arkan lengannya di bahu Claris
. Di ruang istirahat, Clarissa ambruk di sofa, kakinya akhirn
enda berkata, menepuk luka
is kesakitan. "
nempelkan bantalan kasa di atasnya dan duduk di sam
bunuh, sensasi pisau bedah di kulitnya, perasa
aku melihat sepatunya. Dan cara dia memega
mperhatikan sepatunya? Saa
sebelumnya," Clarissa berkat
hu tidak? Desas-desus sudah menyebar gila-gilaan. Mereka bilang K
ni lebih kuat. "Dia melakukannya. Dia hanya... melingkarka
bahunya berantakan. Mungkin skapulanya retak. Dia akan
sa. Dia telah mengorbankan tubuhnya untuk melindunginy
kata lembut. "Kau syok. Kau ti
larissa berkata, suaranya
u? Sesu
ng di lehernya. "Kencan. Aku harus meminta maaf
issa, kau baru saja disandera!
ka aku tidak pergi, ibuku akan menelepon rumah sakit. Dia akan menelepon Gunawan Prakoso. Dia akan membuat keributan yang akan bergema di seluruh lorong ini selama sebulan. Aku tidak bisa... aku tidak bisaatapnya dengan tidak percaya. Dia berjalan melewati para penjaga, mele
g pembunuh. Sekarang dia haru
GOOGLE PLAY