andar pada tiang Romawi tebal, memegang piring kecil
menuju balkon t
wiski. Matanya merah padam dan tatapann
ai menjijikkan menyebar di wajahnya
mundur selangkah, punggungnya membentur pa
wah. Kalau bukan sampah yang dibuang keluarga W
angan, mencoba me
s tangannya
a mual karena jijik. Dia bengkak
g menerobos kerumunan. Suara
dua. Dia mendorong melewati sekelompok p
karena marah. Dia melangkah
bukan siapa-siapa sekarang. Tidur denganku
nya. Dia menatap wajah Reza, benaknya
kliping koran terl
ngat! Ini Reza Kusuma! Psikopat yang me
engar kata-kata itu, benang terakhir kewarasannya putus. Ni
ari-jarinya yang tebal mer
suara benturan yang memekakkan
l, memaksa kunci logamnya patah dengan suara retakan yang memekakkan te
Dia meraih kerah belakang Reza dan mena
dia sempat mencerna apa yang terja
menyembur dari hidung Reza. Dia berteriak,
kulit mahalnya dengan keras ke dada Reza, menahannya. Dia menatap
inya ke pagar, da
get. Tunggu, bagaiman
ksa detak jantungnya melambat. Dia menatap Elara, me
. "Sentuh dia lagi, dan
balkon, menginjak pecahan kaca. Mereka t
atap Wira. "Ini pria yang kau pilih untuk Ka
Dia tidak bertanya. Dia sepenuhnya pe
baikan tanga
et Reza pergi denga
a melepas jasnya lagi dan melilitdengan air mata yang tertahan. Dadanya ter
.. dia mengarahkan semua kekerasan itu pada orang lain, hanya untukku. Dadaku sesak, tapi
dia mendengar pikiran lembut Elara. Dia men
siknya di rambut Elar
GOOGLE PLAY