img Istriku Kuyang  /  Bab 2 Makhluk aneh | 10.00%
Unduh aplikasi
Riwayat Membaca

Bab 2 Makhluk aneh

Jumlah Kata:1000    |    Dirilis Pada: 05/01/2022

mil

"Istrik

pa

na Dewi

meter dari tempatku berdiri. Suasana malam yang gelap, hanya ada lampu lima watt di be

n-pohon tinggi menjulang. Kelebatan kelelawar malam seolah menambah suasana menceka

berpendar sangat indah. Ku beranikan diri melangkah dengan mel

Kre

ka pintu toilet. Sudah

Byur

Bukk

engar sesuatu jatuh menghantam atap rumah. Aku segera m

a kelelawar jatuh menimpa rumah, tetapi tak ada nampak satu buahpun ter

Pluk

i dengan kaki gemetar. Dengan pelan kubalikkan tu

i?" ucap

aku, Abang ngapain

dari mana saja? Abang cari-cari d

ang ga lihat aku di sana!" jawab Arini cuek.

. Aneh, perasaan tadi tak ada siapap

tukku. Entah kenapa aku merasa ada misteri di balik senyum Arini untukku. Bibirnya kulihat merah merona. Tapi, ad

panggilku menyuruh

Bang?" ia p

erhatikan secara seksama. Noda it

apa ini, Dek

arah?" ucap

kan badan dan membiarkanku terdiam dalam sejuta pertanyaan di benakku. Ya, akupun malas berdebat. Tubuhku sudah lelah

*

an solat subuh. Anehnya Arini enggan bila ku ajak solat bersama. Ia selalu menolak. Jikapun sol

akku duduk bersama dengannya. Hanya kami berdua . Adiknya sudah

a tambah bersinar padahal belum memakai make up. Yang kutahu ia tak

i kamu tampak semakin

alu bahagia menjadi istrimu," jawabnya semb

ntah mengapa aku merasa Arini menyembunyikan sebuah k

i sudah berada di dalam mobil yang

ini tiba-tiba menyuruhku berhenti di depan s

a yang mau aku beli," ucapnya t

Ia sangat ramah. Aku pun memutuskan untuk turu

ibu hamil. Yang kudengar dari percakapan mereka jika i

ang dengan si ibu. Ia pun sempat mengelus perut si i

li ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan.

*

adaan sudah sepi. Aku memutuskan untuk segera istirahat tanpa mandi

Kre

n karena mendengar pintu belakang seperti terbuka. Ya, sed

saran siapa gerangan yang membuka pintu belakang? Ah,

hhhhh!

jendela. Rasa penasaran menyergap hatiku. Apa benar m

uan menuju jendela kamar. Per

ndela . Sosok bermata merah itu tajam melihatku. Sempat beberapa detik kami

iku. Perlahan kubuka mataku, samar-samar kulihat Arini sedang terduduk mendekap tubuhku.

a, kan?" isaknya. Tangannya yang t

berbohong. Masih teringat jelas sosok menye

an, menyeringai seperti ingin menyantapku. Lidahn

sa di sini?" tan

g ngelindur, Dek,

aja, ya Dek. Badan Abang ga e

aja ya, Bang. Abang baik-baik di rumah," ucap Arini seraya mengecup ke

pusing, tapi rasa penasaranku kian membuncah. Perutku keron

Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY