tanpa daya di udara. Gaun biru itu. Senyum halus yang terlukis. Tangan i
ang untuk
cepat. Tubuhku terlalu
keheningan kantor, setajam
ping-keping menjadi rat
-pecahan itu. Rasanya seperti tulang rus
itu. Boneka itu telah hancur, sama seperti hi
t sebuah firasat. Aku mung
elinding di lantai-dan berh
hang Dante
terdengar ringan. Penuh deng
putus. Tali kekang yang telah kupakai untuk
erti binatang yang terkoyak dari tenggoro
aat aku meraih rambutnya. Aku tidak punya kekuatan untuk membantingnya. Aku hany
uaraku lemah dan terengah-
u, mengeluarkan darah. Aku tidak merasakannya. Aku hanya ingin menyakitinya. Ak
Dante menggeleg
engkeram pinggangku. Dia menyentakkanku lepas da
kar dan membutakan me
naik turun terengah-engah. "Lihat dirim
Namun tidak ada yang keluar. Hany
kali ini, darah itu bukan sekadar te
atuk, suara basah dan tersedak, lalu darah
ap noda merah yang men
Kemarahan itu lenyap seketika, digan
miring dengan hebat. Lantai seakan melesat naik meny
. Kegelapan berenang
pingku. Dia membalikkan tubuhku.
anikan di matanya. Kepanika
s!" teriaknya pada pa
bisa menyaksikan darahk
angit-langit. Se
isikku. Suaraku berge
ku membiarkan air gela

GOOGLE PLAY