V
erhasil sampai ke r
epi kasur yang melesak ke bawah, mendekap tasku seolah itu adalah penyelamat hidupku. Hendra berjalan mondar-adar terbuka; pintu itu
mar kecil itu, menghalangi cahaya dari lorong. Hendra bergerak untuk mengh
n gagang pistol ke pelipis Hendra d
karpet, tak sadarkan diri ba
ku sambil mener
an pergerakanku dengan cengkeraman keras yang menyakitkan. Aku men
mi
gkeram lenganku. Wajahnya adalah topeng
suaranya berupa geraman rendah yang berbahaya. "
lah pria itu tak lebih dari sampah di trotoar. Dia melemparkanku ke bagian belakang
ntahnya kepad
uaraku bergetar sangat hebat hingga
depan. "Tetapi kita tidak pulang k
nap
mosi sama sekali, benar-benar dingin dan datar. "Stres akibat
, merasa ngeri. "Apa hubu
ya. B-negatif." Dia akhirnya menatapku saat
Itu bukan sekadar rasa takut. Itu adalah aritmia yang telah kuderita sejak masa kanak-kanak. Kondis
u tahu aku tidak bisa. Jantungku... Dokter Evan bilang kadar
ang istri. Dia bahkan tidak melihat seora
ku," katanya dengan dingin. "Kau akan
septik dan kemewahan turun-temurun. Mereka menyeretku ke ruang persiapan. Chika bera
an, tampak pucat ketika Do
. "Catatan medis Ibu Riyadi... kondisi jantungnya. Transfus
" perinta
ngan Dominic, jemar
ar. "Jika aku menyelamatkan wanita simpananmu da
. Dia menyeringai, sebuah
ar, Anya. Tapi baiklah. Berikan darahny
dia berbohong. Tetapi
h gelapku mengalir melalui selang, meninggalkan tubuhku
u terasa berat, seolah ada sebongkah batu yang bertengger di
an memperingatkan, matanya tertuju pa
g pintu. Dia sedang memperhatikan m
urkan cahaya lampu neon yang menyilaukan. Jantungku berdebar tak menentu-seperti seekor
terasa luar biasa berat. "A..
dak me
stabil," seru seorang per
" kata
ip dari monitor jantungku semakin tidak teratur. Cepat
kepanikan meningkat dalam suaran
t secercah kekesalan di wajahnya, seolah kema
mbilannya!" ter
enelanku adalah Dominic yang melangkah keluar
kalinya setelah sekian lama, aku berh

GOOGLE PLAY