img Aisyah (Kisah Pilu Gadis tak Beribu)  /  Bab 2 Ketakutan yang Teramat Sangat | 1.68%
Unduh aplikasi
Riwayat Membaca

Bab 2 Ketakutan yang Teramat Sangat

Jumlah Kata:1111    |    Dirilis Pada: 05/07/2022

rosok ke sela-sela kran air yang bersisian dengan gedek. Gedek lapuk yang menjadi dindi

sya

peka akan keha

enyahut, "Aisya

ngan Ridwan, menarik tubuhnya dan mencoba mengeluark

h kecil mungil. Namun, ia sama sekali tidak berputus asa.

.," erangn

udah bisa," pinta Aisyah seraya t

isyah yang turut terpental. Tubuh keduanya ambruk di tanah

Aisyah m

pa-apa?" tanyanya dengan tangan mer

dak semakin membuat Simbah khawatir. Lengannya tergores beling dan ad

api ... Aisyah sedikit kesulitan b

f. Mbah akan

hu jika Simbah tidak memiliki cukup tenaga untuk bangkit. Ia pun terus berupaya untuk mencari jalan agar bisa cepat keluar d

seraya mencari

ti apa yang Ridwan cari. I

rus ke depan seolah mampu memandang cucu k

ngan tangan yang meraba-rab

hangat tangan k

Tidak usah takut lagi. Mbah m

a seperti itu, Ridwan

kanmu, ya, Nduk?" ucapnya lirih denga

rjap, menunjukkan betapa rapuhnya pria renta itu. Wajahnya pun k

Mbah Kakung sudah merawat Aisyah dengan sangat baik. Aisyah tidak akan

g berbeda Maimunah melihat semua kejadian mengharukan itu. Ia memegan

ak di sana?" tanya Aisyah sembari menuntun s

menga

e kran itu untuk membersihkan dir

diri. Kakinya pun masih dipenuhi lumpur. Secepat mungkin Aisyah menggandeng tangan Mbah Kakung menuj

mbali terdengar. Hati

ke mana, Syah?" t

hat saja nanti, ya? Jangan kemana-mana

pa memangn

k'an,

h. Mungkin di

bah Kakung di ranjang. Ia merapikan posisi tid

g masih duduk di luar. Gadis itu datang membawa segelas air putih, meminta sim

emauan Aisyah. Batu

ak jadi mengerokinya karena Maimunah bersikeras menolak. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Gad

nah mencoba tegar, tapi jelas itu hanya menc

s. Hidung Aisyah mulai tersumbat. Aisyah sesenggukan. Maimunah meras

ngin melihat Aisyah tumbuh, sekolah, dan menikah. Jatuh ke tangan

ingin Aisyah bahagia, hanya itu saja sebab penyakit paru-paru juga berhasil merenggut nyawa U

tikan seraut wajah sedih Aisy

is, Nduk?" tanyanya

ang begitu perih, ia pun menekan sesak di dadanya.

mengerti. Ia mencoba mengulurkan tangannya, meny

angisnya. Ia memeluk Mai

berbicara. "Mbok jangan mati, ya? Aisyah sudah tidak pun

gan kepala berat. Air m

Aisyah," ucapnya lirih sembari menyembuny

sudah batuk darah, dan Simbah yang tuna netra. Andai dirinya tetap me

ah. Setidaknya Abah harus bertanggung jawab at

ap lurus ke depan. Penuh arti, penuh rencana. Bagaimana pun c

eiring Aisyah yang mend

uhuk,

annya. Namun, percuma! Batuk it

at Simbok terus berupaya menye

anya Aisy

enyum. "Tidak apa, Nduk. Jangan khawati

ah ta

terus men

gilkan Bu bidan?" ta

ah men

pintanya seraya mencoba bangk

nah. Ketika perempuan renta itu berusaha mencari p

rit Aisyah

Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY