Bagian barat merupakan wilayah gurun berpasir yang kering berdebu. Meski demikian wilayah Kerajaan AL-BARTA yang dipimpin oleh Raja OMAR ARBA itu tidak bisa dikatakan gersang.
Dengan banyaknya oase-oase bertebaran disana-sini menjadikan tanah disekitarnya subur dengan berbagai macam tanaman herbal dan buah unik gurun yang menjadi buah favorit para bangsawan di benua Swarna Dwipa, bahkan dikirim hingga ke kedua benua lainnya.
Selain itu wilayah AL-BARTA juga dikenal sebagai SWARGA MANIK yang berarti butiran batu sorga sebab banyak ditemukan batuan berharga di goa-goa perbukitan gurun.
Berbeda dari Kerajaan Utara, Barat, dan Timur yang dikuasai Raja, bagian tengah benua dipimpin oleh seorang wanita cantik bernama Ratu DELIA ASTA sebagai penguasa Kerajaan MEDILAN.
Karena berbatasan dengan tiga Kerajaan lainnya, otomatis MEDILAN yang mempunyai dataran luas dan lembah subur menjadi wilayah paling ramai dikunjungi di seluruh benua Swarna Dwipa. Pusat perniagaan, Pusat akademi, Pusat hiburan, Pusat pemerintahan, semua berada diwilayah ini.
Berbanding terbalik dengan Kerajaan MEDILAN, wilayah Timur yang sebagian besar tanahnya berupa pegunungan dan hutan bisa dikatakan jauh dari hiruk pikuk keramaian. Namun demikian justru suasana sejuk dan tenang sangat terasa di wilayah Kerajaan TIMORA yang dikuasai TENGKU BALMORA.
Karena tanah diseluruh wilayah Kerajaan ini sangat subur, tak heran jika Kerajaan TIMORA menjadi pemasok utama bahan pangan di seluruh benua Swarna Dwipa.
Disamping itu hutan di wilayah ini jarang ditemui binatang buas, sehingga binatang buruan yang biasa dikonsumsi manusia semacam Rusa, Babi Hutan, Ayam Hutan, Kelinci, bahkan kerbau liar semua berkembang pesat di hutan-hutan Kerajaan TIMORA.
Wilayah terakhir yang terletak dibagian selatan dikenal sebagai Tanah Kematian, SELATOR. Dimana tidak ada pemerintahan yang mampu menguasai wilayah itu. SELATOR terkenal akan struktur teritori alam yang tidak mudah ditaklukkan manusia. Sebagian besar berupa hutan perawan dengan banyak binatang buas, tanah berbatu, jurang dan tebing yang curam.
Dengan tidak adanya pemerintahan, tak heran jika tempat itu jadi tujuan utama para penjahat buronan kerajaan-kerajaan. Akibatnya berbagai macam tindakan kriminal, brutal, amoral, dan segala bentuk kejahatan tumbuh begitu subur.
SELATOR menjadi wilayah rebutan para bandit, perampok, dan para pelaku tindak kriminal karena memang tidak ada hukum di wilayah tersebut. Dengan berlakunya hukum rimba, dimana yang kuat memangsa yang lemah seiring berjalannya waktu pada akhirnya muncullah penguasa-penguasa di banyak area di Tanah Kematian, SELATOR.
Tampak di ufuk timur, sinar mentari masih malu malu menampakkan cahayanya. Bahkan rona merahnya masih belum mampu meluruhkan embun yang menetes dari ujung ujung daun. Sepi dan dinginnya suasana jelas membuat para suami enggan melepas kelonan mereka dari kehangatan tubuh istrinya.
Tenangnya alam di hutan area dukuh Pepesan, masuk ke dalam perbatasan wilayah Kerajaan TIMORA dan SELATOR, tiba-tiba suasana dikejutkan oleh dentuman keras yang meledakkan bukit diatas pedukuhan.
BOOM !!! BOOM !!! BOOM !!!
Begitu dahsyatnya tiga ledakan dari area berbeda di lereng bukit itu, hingga menyebabkan tanah longsor hebat. Longsoran tanah dan batu deras meluncur ke area pemukiman penduduk di bawahnya diikuti deru menakutkan dari segala sesuatu yang tergerus luluh lantak dilandanya.
Suara kentongan peringatan dari berbagai sudut di dukuh Pepesan sontak ramai terdengar, menyusul banyak penduduk yang keluar dari rumah mereka masing-masing.
Sayangnya peringatan itu jelas tidak mampu direspon para penghuni rumah yang terletak di samping tebing. Tanpa ampun mereka tertimbun longsoran maut yang melebar hingga hampir seratus meter.
Teriakan, jerit tangis para bocah yang tiba-tiba ditarik bapaknya saat terlelap, atau orang tua yang diseret paksa karena sudah tidak mampu berlari jadi pemandangan yang memilukan.
Di beberapa tempat terlihat tangisan pilu para wanita yang bahkan tidak sadar mereka hanya sekedar menutup tubuh telanjang mereka dengan kain seadanya.
Pagi itu suasana duka yang dalam tampak menyelimuti hampir seluruh warga dukuh Pepesan. Belasan rumah terkubur rata bersama puluhan penghuninya. Jerit tangis pilu tak bisa disembunyikan dari mereka yang tiba-tiba kehilangan sanak kadang, saudara, ataupun tetangga yang mereka sayangi.
Sementara itu pada waktu yang hampir bersamaan, dua ledakan serupa juga terjadi di wilayah barat, Kerajaan AL-BARTA.
Komplek pergudangan dimana buah gurun akan dikirim meledak dahsyat hingga mencapai radius ratusan meter. Tidak banyak korban jiwa memang, tapi bagaimanapun kejadian tersebut menciptakan teror bagi penduduk Al Barta yang biasa hidup damai.
Di Wilayah tengah, Kerajaan MEDILAN, memang tidak ada ledakan, namun di Dadaha, kota perbatasan antara Kerajaan tersebut dengan Kerajaan AL-BARTA terkena imbas cukup parah akibat ledakan pergudangan yang ternyata mengakibatkan kebakaran hebat lantaran buah gurun ternyata memiliki kandungan zat semacam alkohol.
Yang lebih mengejutkan, di wilayah Utara, Kerajaan LORENA, tempat dimana dikenal banyak mempunyai prajurit tangguh, dan memiliki sistem pengamanan ketat, ledakan dahsyat juga terjadi. Sebagian wilayah Utara pelabuhan meledak bersama lima buah kapal besar para saudagar yang tengah berlabuh.
Bencana beruntun yang terjadi dalam waktu hampir bersamaan itu sontak menjadi perbincangan khalayak ramai di seluruh benua Swarna Dwipa. Dari rakyat jelata hingga pucuk pimpinan kerajaan-kerajaan, mengingat hubungan keempat Kerajaan di Swarna Dwipa terjalin cukup baik dan solid selama ini.
Para petinggi istana dari keempat Kerajaan akhirnya sepakat mengirim duta raja masing-masing untuk membicarakan masalah ini. Untuk tempat pertemuan, diputuskan akan diadakan di Kerajaan MEDILAN sebagai Pusat pemerintahan.