/0/21054/coverbig.jpg?v=54dedf9df86851738bebaae6ee0ddb22)
Sudahlah putus cinta, putus kontrak kerja pula. Double sial yang Nania alami membuat dirinya memilih jalan pintas dalam pekerjaan. Sebuah tawaran menjadi teman ranjang seorang bos muda adalah pilihan Nania. Apalagi dirinya yang masih perawan menjadikan bayaran yang ia dapat tak tanggung-tanggung. Namun bagaimana jadinya jika ia jatuh cinta? Bagaimana jadinya jika hatinya semakin membara.
"Nania, aku mau kita putus!!!"
"Nania, Kamu di pecat!!"
Nania, gadis sebatang kara itu baru saja mendapatkan dua kesialan dalam hidupnya. Hanya karena ia tak mau mengikuti apa yang kekasihnya mau, ia langsung diputuskan.
Kesal? Tentu saja. Siapa yang mau kalau di suruh jadi perusak rumah tangga orang? Mending jaga lilin, pacarnya yang jadi babinya. Masih bisa dapat uang. Lah ini? Mana yang dirusak itu rumah tangga ayah pacarnya yang baru saja menikah lagi. Otak dimana?
Aaagggrrrr...
Nania berteriak histeris mengacak rambutnya. Bahkan ia tak peduli posisinya yang saat ini di halte bus dan banyak orang.
"Kenapa dek?" Tanya seseorang di samping Nania.
Dengan tatapan frustasi, Nania melirik ke kanannya. Dari penampilannya saja, Nania sudah tahu apa pekerjaan perempuan itu.
"Hidup di Jakarta memang sulit dek. Tapi kalau mau hidup enak," perempuan itu beringsut mendekati Nania dan berbisik, "Jadi sugar baby. Jadi teman ranjang bos kaya raya. Masih perawan nggak?" Tanyanya tiba-tiba, dan dengan polosnya Nania mengangguk, "Itu jauh lebih bagus. Biayanya pasti sangat mahal. Kamu bisa hidup enak. Kerjaannya enak, uangnya juga enak."
Tiinnn tiinnn.
Suara klakson menghentikan percakapan mereka. Perempuan itu melirik ke arah mobil mewah yang baru saja muncul, "Mau seperti ini nggak? Enak Lo." Perempuan itu berdiri lalu melangkah menuju mobil dan masuk ke dalamnya.
Pikiran Nania seketika berkecamuk setelah perempuan itu pergi.
"Sugar baby?" Gumamnya.
*****
Dave Pramudia Arkana. Seorang CEO muda berusia dua puluh sembilan tahun yang sukses dalam berbagai bidang bisnis yang ia jalankan. Dalam kesehariannya, Dave biasa dikenal sebagai pria Pecinta one night stand dan selalu berburu wanita-wanita yang ingin ia jadikan teman kencan malamnya jika dia kelelahan ataupun suntuk dengan pekerjaannya.
Dalam menemukan wanita-wanita tersebut, Dave tak melakukannya sendiri, melainkan ia dibantu oleh sahabatnya yang juga merangkap sebagai orang kepercayaannya di perusahaan, bernama Damian. Dari tangan Damianlah, wanita itu Dave dapatkan. Dan selama mencarikan wanita untuknya, Damian tak pernah membuatnya kecewa sedikitpun.
Seperti malam ini. Dave baru saja selesai menghabiskan malam panjangnya dengan seorang wanita. Di negeri +62 ini, tak sulit lagi untuk mencari wanita-wanita seperti ini. Justru kadang tak dicaripun, mereka akan dengan sangat bahagianya menyerahkan tubuh mereka begitu saja untuk dinikmati. Seperti itulah kehidupan perempuan zaman sekarang. Tapi tentu saja yang Dave cari tetap harus yang sehat dan tak berpenyakitan sedikitpun.
Wanita yang menjadi teman kencan Dave malam ini masih memejamkan matamya menikmati apa yang Dave lakukan padanya. Namun hanya sebentar. Ia kembali membuka mata cantiknya dan menatap Dave lekat.
Dengan berani, wanita itu menggapai wajah Dave namun seketika ditepis oleh pria itu. Dan jangan lupakan tatapan tajam dari Dave seolah ingin menghabisi wanita yang tadi baru saja ia tiduri.
"Turunkan tangan kotormu...!" Geram Dave dengan tatapan tajamnya. "Kau tahu peraturanku dalam bermain kan? Tak ada kontak fisik dari lawan main. Hanya dariku yang dibolehkan." lanjutnya. Dave turun dari ranjang setelah ia mengancam wanita yang masih terbaring.
Wanita itu yang tadi berharap dengan bahagia bisa menyentuh wajah Dave hanya bisa mendesah pasrah. Jujur ia ingin mencoba menyentuh Dave yang begitu sempurna itu walaupun hanya di wajahnya tapi tak pernah diberi izin oleh Dave selama permainan berlangsung.
Memang dalam setiap aktifitas 'bermainnya', Dave selalu bermain aman. Dave tak mau suatu saat nanti ada yang mencarinya dengan perut membesar merengek minta dipertanggung jawabkan. Karena menjadi ayah untuk saat ini belum terlintas dalam otaknya. Apalagi dengan status wanita yang tak jelas.
Dave segera beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi yang tersedia di kamar hotel untuk membersihkan dirinya lalu pergi meninggalkan hotel setelah penampilannya sudah kembali rapi.
"Uangmu akan kutransfer nanti." ucap Dave dingin sebelum akhirnya ia memutuskan untuk melangkah keluar meninggalkan si wanita yang masih belum sepenuhnya tersadar dari bayangan aktivitas mereka tadi.
*****
Nania tersentak saat alarm ponselnya kembali berbunyi. Entah yang keberapa kalinya ponsel itu mencoba membangunkan Nania tapi tetap tak digubris oleh gadis tersebut. Mungkin karena Nania yang juga bisa tertidur saat jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.
Ia tak berhenti memikirkan tentang ucapan perempuan yang bertemu dengannya di halte. Di tengah carut marut kehidupannya yang sebatang kara, apa lagi yang harus ia pikirkan bukan?
Ia hanya perlu memikirkan bagaimana ia makan besok dan bagaimana ia membayar cicilan apartemennya yang ia tempati saat ini.
Ia Bahkan tak memikirkan lagi kisah cintanya yang baru saja kandas.
Tapi untuk pekerjaannya, entah kenapa untuk yang satu ini ia benar-benar merasa sangat sial.
Pekerjaannya yang terakhir ini entah pekerjaan yang keberapa yang ia dapatkan. Dan ia dipecat Lagi?
Lagi?
Ya Lagi. Nania tak pernah bertahan dalam setiap pekerjaan yang ia dapatkan. Paling cepat ia bekerja selama dua bulan. Namun beruntungnya, ia tak akan terlalu lama menganggur dan ia sudah akan menemukan pengganti pekerjaannya sehari atau dua hari berikutnya. Dan Nania sendiri juga lebih suka mencari pekerjaan yang dibayar per hari atau per minggu melihat dirinya yang ceroboh dalam bekerja.
Nania menyibakkan selimut yang sedari tadi menutupi tubuhnya saat mendengar bel apartemennya berbunyi.
Dengan cepat Ia berlari keluar.
Aura gelap seketika muncul saat pintu ia buka dan memperlihatkan pemilik apartemen.
Nania tertawa canggung. "Buk...." Sapa Nania.
"Jangan senyum-senyum sama saya Nania. Mana uang cicilan untuk bulan ini dan bulan kemarin!"
"A, hahaha. Itu, buk Amoi yang cantik. Aku,"
"Jangan bilang jika uang itu belum ada? Saya tidak mau tahu Nania, kamu harus membayar cicilan apartemen ini untuk bulan ini dan bulan kemarin. Saya akan beri kamu waktu satu minggu jika tidak kamu angkat kaki dari sini."
"Ya Mana bisa bu. Saya sudah bayar apartemen ini selama 1 tahun."
"Kamu lupa perjanjian yang telah kita buat? Masih untung kamu tidak berhubungan dengan pihak bank."
Nania langsung diam. Memang benar, perjanjian jual beli ini ia lakukan hanya dengan pemilik apartemen karena datanya selalu ditolak pihak bank.
Nania kembali menutup pintu apartemennya.
Apa ia harus melakukan pekerjaan yang disarankan oleh perempuan kemarin?
Sepertinya ia tahu ke mana tempat yang bisa ia tuju untuk mendapatkan pekerjaan seperti itu.
Nania langsung berlari menuju kamarnya untuk mandi. Sembari menunggu air di bathtub penuh, ia memilih mengagumi dirinya di depan cermin. Keindahan tubuh yang sangat ia kagumi.
Dan jika dipikir-pikir, tubuhnya ini juga menjual jika ia mau.
"kau begitu cantik Nia." ucap Nia memuji dirinya sendiri.
Puas dengan memperhatikan dirinya di cermin, Nia melirik ke arah bak yang tadi diisinya. Bak itu sudah hampir terisi penuh. Dengan cepat Nia mematikan kran tersebut dan segera berendam.
Nania hanya butuh waktu setengah jam untuk kembali rapi dan segar setelah mandi. Hari ini Nania ingin menemui Adrian, kenalannya yang bekerja di sebuah Bar ternama yang hanya didatangi para petinggi atau golongan anak orang kaya. Siapa tahu saja nanti Adrian punya kerjaan untuknya. Setidaknya hanya sampai apartemennya lunas.
*****
Langit sudah kembali gelap. Dan Nania Baru saja sampai di bar tempat Adrian bekerja. Sebenarnya ia ingin pergi dari siang tadi namun pria itu mengatakan jika dirinya tak bisa diganggu di siang hari. Hasil Nania datang saat langit sudah gelap.
Aroma cinta, orang-orang yang meliuk-liuk di lantai dansa dan bau alkohol yang begitu menyengat. Itulah ciri khas aroma klub malam yang kini Nania kunjungi. Saat tiba di sini, tak jarang mata Nania menangkap orang-orang yang sedang bercinta di atas sofa yang sudah disediakan, atau saling berusaha untuk memuaskan pasangan masing-masing di lantai dansa. Hal seperti ini sudah menjadi khas dan lumrah dari Angkasa Club.
"Ada apa Lo kesini?" tanya Adrian yang tengah menuangkan cocktail untuk Nania sambil berteriak. Pasalnya suara dentuman musik cukup mampu melenyapkan suaranya.
"Gue cari kerjaan nih. Ada kerjaan nggak buat gue di sini?" Adrian seketika mengernyit.
"Emang kerjaan Lo di restoran Italia itu kenapa?
"Dipecat Gue..."
"Lagi?" tanya Adrian tak percaya. Adrian geleng-geleng kepala melihat temannya yang satu ini. "Lo mau kerjaan kayak gimana lagi? Semuanya udah Lo cicipin kan.. "
"Iya juga sih." Nania menarik nafas kasar lalu menghembuskannya secara perlahan, "Tapi mau gimana lagi. Nasib sial gue di sini.!" Balas Nania dengan wajah ditekuk. Adrian tampak sedikit berpikir.
"Lo mau kerjaan?" tanya Adrian yang membuat Nania mengangguk antusias. "Tapi gue nggak yakin Lo mau lakuinnya.."
"Emangnya kerja apaan?" tanya Nania penasaran.
"Bercinta sama orang kaya!" Nania melotot sempurna saat Adrian berbisik di depan telinganya.
"Gila Lo! Nggak mau gue...!" bantah Nania cepat. Padahal dalam hatinya ia sangat ingin mencoba pekerjaan seperti itu.
"Ya udah kalau Lo nggak mau. Lagian kalau gue pikir, hanya ini deh kerjaan yang bisa bertahan lama buat Lo. Enak lagi...!" Nania menatap Adrian horor. Teman macam apa seperti ini. Menjerumuskan temannya sendiri.
"gila Lo Rian! Saran tu yang bagus kek?"
"Ealaahh. itu udah bagus kali neng. Lagian menyenangkan kok. Lo bakalan ketagihan.?" Seru Adrian dengan semangatnya. Sedangkan Nania langsung melotot tajam mendengar tawaran Adrian.
Tapi jujur, Selama dia hidup, itu tawaran tergila yang pernah dia terima. biasanya Adrian memberikannya tawaran bekerja sebagai pelayan, atau sebagai OB dan juga sebagai karyawan mini market. Namun kali ini sungguh diluar nalarnya.
Apa, seorang wanita penghibur?
Adrian menatap Nania yang masih termenung memikirkan tawarannya, "Gini aja, kalau Lo memang mau. Gue punya kenalan yang bisa bawa Lo dapetin lelaki kaya. Sahabat gue sih! Dia udah kewalahan mencari pasangan ONS buat Bossnya yang gila wanita. Siapa tahu Lo bisa mendadak jadi milyader kan kalau tidur sama si Boss." Nania terdiam seketika. Otaknya langsung mencerna ucapan Adrian kata per kata. "Udahlah, jangan banyak pikir. Lagian di dunia ini, untuk hal yang seperti itu udah lumrah banget kali Nia. Lo kan Cuma jadi teman kencan satu pria, nggak banyak.."
"Tapi sama aja gue jual diri Yan.."
"Beda lah! Setelah lo dapatkan uang si boss, lo bisa hidup dengan baik. Dan cari pekerjaan lagi, tapi harus yang lebih layak."
Apa dia harus mencobanya? - batinnya bertanya. Mungkin ini gila. Bahkan sangat gila malahan, namun ini peluang bagus. Toh hanya sekali dan dia bisa mendapatkan uang yang banyak. Jika soal keperawanan, lakuin sekali juga nggak bakal masalah kan?.
"Coba aja Nia! Enak kok gue jamin. Banyak wanita malam di sini yang menawarkan diri buat dipuasin Dave si Boss kaya raya itu."
"Dave?"
"Iya, namanya Dave. Dia masih muda kalau Lo takut digempur lelaki tua. Heheheh"
"Sialan Lo.." dengus Nia. "Emang umurnya berapa?" lanjutnya penasaran
"Kalau nggak salah masih tiga puluh. Eh! Dua delapan apa dua sembilan gue lupa. Pokoknya kisaran itu." Jawab Adrian, "Pengusaha muda yang sukses Neng. Cuma beda tujuh tahunan dari Lo. Dari pada yang nidurin Lo pria tua jenggotan trus buncit, ayo? Mau yang mana?"
Nania seketika bergidik ngeri membayangkan jika opsi terakhir yang disebutkan Adrian tadi benar terjadi padanya. ditiduri pria buncit tua dan jenggotan.? Ih, amit-amit.
"Maunya gue nggak kerjaan macam ini.." bohongnya
Adrian mengangkat bahunya acuh,"Gimana? Terima nggak nih?" tanya Adrian.
Nania berpikir sejenak, "Tapi gue takut Rian..."
"Takut kenapa? Enak kok gue jamin. Kalau nggak enak, nggak mungkin Karin minta gue 'serang' tiap hari. Atau kalau sama Dave nggak nikmat nggak mungkin wanita malam di sini memohon-mohon untuk diambil sebagai pemuas Si milyader muda. Lo coba aja Nania..!"
Saat ini gadis itu tengah berpikir keras. Ingin menolak tapi dia butuh uang. Ingin terima, tapi dia takut. Apa akan baik-baik saja nantinya?.
"Gimana?" tanya Adrian kembali. "Gue jamin nggak bakalan nyesel kok...." Nania mendengus kesal pada Adrian sebelum akhirnya mengiyakan. Tapi gadis itu memberikan syarat yang harus Adrian sampaikan pada si Dave Dave itu.
*****
Lenny adalah orang terkaya di ibu kota. Ia memiliki seorang istri, tetapi pernikahan mereka tanpa cinta. Suatu malam, ia secara tidak sengaja melakukan cinta satu malam dengan seorang wanita asing, jadi ia memutuskan untuk menceraikan istrinya dan mencari wanita yang ditidurinya. Dia bersumpah untuk menikahinya. Berbulan-bulan setelah perceraian, dia menemukan bahwa mantan istrinya sedang hamil tujuh bulan. Apakah mantan istrinya pernah berselingkuh sebelumnya?
Evelyn, yang dulunya seorang pewaris yang dimanja, tiba-tiba kehilangan segalanya ketika putri asli menjebaknya, tunangannya mengejeknya, dan orang tua angkatnya mengusirnya. Mereka semua ingin melihatnya jatuh. Namun, Evelyn mengungkap jati dirinya yang sebenarnya: pewaris kekayaan yang sangat besar, peretas terkenal, desainer perhiasan papan atas, penulis rahasia, dan dokter berbakat. Ngeri dengan kebangkitannya yang gemilang, orang tua angkatnya menuntut setengah dari kekayaan barunya. Elena mengungkap kekejaman mereka dan menolak. Mantannya memohon kesempatan kedua, tetapi dia mengejek, "Apakah menurutmu kamu pantas mendapatkannya?" Kemudian seorang tokoh besar yang berkuasa melamar dengan lembut, "Menikahlah denganku?"
Arga adalah seorang dokter muda yang menikahi istrinya yang juga merupakan seorang dokter. Mereka berdua sudah berpacaran sejak masih mahasiswa kedokteran dan akhirnya menikah dan bekerja di rumah sakit yang sama. Namun, tiba-tiba Arga mulai merasa jenuh dan bosan dengan istrinya yang sudah lama dikenalnya. Ketika berhubungan badan, dia seperti merasa tidak ada rasa dan tidak bisa memuaskan istrinya itu. Di saat Arga merasa frustrasi, dia tiba-tiba menemukan rangsangan yang bisa membangkitkan gairahnya, yaitu dengan tukar pasangan. Yang menjadi masalahnya, apakah istrinya, yang merupakan seorang dokter, wanita terpandang, dan memiliki harga diri yang tinggi, mau melakukan kegiatan itu?
"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.
Wanita bertubuh ideal tidak terlalu tinggi, badan padat terisi agak menonjol ke depan istilah kata postur Shopie itu bungkuk udang. Menjadi ciri khas bahwa memiliki gelora asmara menggebu-gebu jika saat memadu kasih dengan pasangannya. Membalikkan badan hendak melangkah ke arah pintu, perlahan berjalan sampai ke bibir pintu. Lalu tiba-tiba ada tangan meraih pundak agak kasar. Tangan itu mendorong tubuh Sophia hingga bagian depan tubuh hangat menempel di dinding samping pintu kamar. "Aahh!" Mulutnya langsung di sumpal...
Warning!!!!! 21++ Aku datang ke rumah mereka dengan niat yang tersembunyi. Dengan identitas yang kupalsukan, aku menjadi seorang pembantu, hanyalah bayang-bayang di antara kemewahan keluarga Hartanta. Mereka tidak pernah tahu siapa aku sebenarnya, dan itulah kekuatanku. Aku tak peduli dengan hinaan, tak peduli dengan tatapan merendahkan. Yang aku inginkan hanya satu: merebut kembali tahta yang seharusnya menjadi milikku. Devan, suami Talitha, melihatku dengan mata penuh hasrat, tak menyadari bahwa aku adalah ancaman bagi dunianya. Talitha, istri yang begitu anggun, justru menyimpan ketertarikan yang tak pernah kubayangkan. Dan Gavin, adik Devan yang kembali dari luar negeri, menyeretku lebih jauh ke dalam pusaran ini dengan cinta dan gairah yang akhirnya membuatku mengandung anaknya. Tapi semua ini bukan karena cinta, bukan karena nafsu. Ini tentang kekuasaan. Tentang balas dendam. Aku relakan tubuhku untuk mendapatkan kembali apa yang telah diambil dariku. Mereka mengira aku lemah, mengira aku hanya bagian dari permainan mereka, tapi mereka salah. Akulah yang mengendalikan permainan ini. Namun, semakin aku terjebak dalam tipu daya ini, satu pertanyaan terus menghantui: Setelah semua ini-setelah aku mencapai tahta-apakah aku masih memiliki diriku sendiri? Atau semuanya akan hancur bersama rahasia yang kubawa?