"Aku takut hamil"
Bibir Keenan menyungging, membentuk sebuah senyuman. Tak ada jawaban.
"Kak!" Tangan kanan Mutia bergerak menggoyangkan tangan Keenan.
"Apa?"
"Kalo aku hamil gimana?" Dengan wajah cemasnya Mutia menatap Keenan. Berharap cowonya itu dapat menenangkan hatinya setelah apa yang telah mereka perbuat tadi.
"Gak bakalan" pungkasnya.
Cup
Satu kecupan lagi lolos di puncak kepala Mutia. Setelah itu Keenan beranjak, memakai bajunya kembali setelah dia lempar di sembarang arah sebelumnya.
Sementara Mutia masih betah dengan selimut yang menutupi bagian tubuhnya.
"Kak.." rengeknya. Kali ini terlihat ada cairan bening di kelopak matanya yang siap terjun bebas.
"Hamil, lo, gue tinggalin" kalimatnya penuh dengan penekanan. Gak ada wajah bercanda disana. Keenan serius dengan apa yang dia ucapkan.
Mutia menatap tak percaya sama cowo yang udah nidurin dia ini. Cowo yang Mutia percaya ini bisa-bisanya ngomong kayak gitu. Apa yang Mutia akan lakukan jika dirinya benar-benar hamil. Keenan, cowonya ini gak akan tanggung jawab. Hancur sudah masa depannya!
"Kak!!!! Kamu gak boleh gini sama aku!" Kesalnya yang hanya dapat senyuman tengil dari cowonya yang lagi ngikat tali sepatunya di lantai.
Mutia meremas selimutnya dan memukul-mukul kasur di depan Keenan. Kali pertama Mutia marah dengan apa yang Keenan lakukan. Biasanya dia gak pernah protes apapun itu.
Keenan berdiri, selesai dengan kedua sepatunya yang udah rapi di kakinya.
"Gue cabut. Gak usah nangis"
Gitu aja pamitnya.
Mutia menatap tak percaya sampai tubuh cowonya itu menghilang ditelan pintu kostannya.
"Hiikk!!!!" Mutia menangis sejadi-jadinya. Memukul kepalanya yang menurutnya isi kepalanya itu tak berfungsi dengan baik. Kesal kenapa bisa-bisanya dia kerayu omongannya Keenan.
"Bodoh!!"
Sementara di lain tempat...
Drap
Drap
Drap
Terdengar derap langkah kaki dengan kompaknya diatas lantai yang begitu sengaja dibuat mengkilat. Di jajaran paling depan tentunya hanya satu orang. Penampilannya begitu rapi, masih muda dan tentu saja wajahnya tampan rupawan. Cowo yang masih berusia 18 tahun ini diyakini sebagai CEO baru dari perusahaan kosmetik, namanya KEENAN ALFARO. Ini hari pertamanya menjabat di perusahaan milik opanya setelah beberapa bulan lalu lulus dari SMA.
Sementara dibelakangnya disusul oleh sekretarisnya, tepatnya sekretaris dari CEO sebelumnya, namanya Alina. Wanita seksi berusia 38 tahun, belum menikah. Alasan utamanya karena sibuk mengabdi selama 20 tahun lamanya untuk perusahaannya ini sampai kini betah menjadi perawan tua.
Tak lupa para staff dan jajarannya mengiringi dua orang penting tadi menuju ruang rapat.
Di lobi, semua karyawan perusahaan berdiri menundukan sedikit kepalanya tanda hormat ketika sang CEO melewatinya.
"Selamat pagi"
Alfaro, wajahnya serius dan tidak berekspresi mengabaikan semua sapaan disana.
"Shakti"
Satu kata yang lolos dari bibir salah satu karyawan wanita disana, mematung menatap genting ke arah cowo yang diyakininya adalah bos barunya.
Cowo dengan postur tubuh tegak dengan langkah penuh percaya dirinya itu berhenti tepat di depan cewe tadi. Cewe yang betah menatap paras cowo yang beberapa bulan ini telah hilang dari dunianya.
"Lancang!" Alfaro dengan tatapan tajamnya. Satu detik kemudian tatapannya beralih, menatap dengan ujung mata sekretarisnya yang ada di belakang.
"Kasih peringatan!"
Alina mengangguk, setelah itu melangkah kembali karena sang CEO telah melangkah lebih dulu setelah mengeluarkan dua kata mematikan tersebut.
Masih beruntung gak nyuruh dipecat.
Ting!
Lift terbuka setelah dipencet oleh Alina dan menunggu beberapa detik.
Alfaro melangkah lebih dulu, masuk kemudian disusul oleh yang lainnya.
Sementara dibawah sana...
"Thalita, kenapa ngomong sembarangan tadi?" Agni, salah satu karyawan dibagian marketing, sama kayak Thalita.
"A-aku..." lidahnya terbata. Thalita bingung mau menjelaskannya dari mana. Yang dia tau kalo bos yang mereka panggil Alfaro itu sebenarnya bukan. Thalita yakin itu Shakti, cowo dingin dengan sejuta pesona. Cowo yang udah dia abaikan selama beberapa bulan lalu. Tapi sekarang malah terbalik, ketika Shakti pergi hati Thalita malah jadi jumpalitan gak jelas.
"Aduhh, kamu harus minta maaf gimana pun caranya, oke? Jangan sampai dipecat" sarannya, yang dapat Thalita angguki saja. Karena mau gimana lagi, nasi udah jadi bubur.
'Aku yakin kamu itu Shakti, bukan Alfaro yang mereka sebut itu' batin Thalita.
Beberapa karyawan disana memperhatikan Thalita, sangat menyayangkannya karena dianggap kurang sopan. Menurut gosip yang beredar bos mereka itu galak juga playboy. Apa jadinya jika hal buruk akan terjadi pada Thalita.
"Mirip tapi tak sama" Thalita menyunggingkan senyumannya, berucap lirih yang tak bisa di dengar siapapun. Thalita tau perbedaan si kembar ini.
"Selamat bergabung di Beauty Cosmetics. Semoga anda menjadi pemimpin yang dapat memajukan perusahaan ini seperti pemimpin sebelumnya" ucap pak Magani direktur keuangan, setelah rapat itu selesai. Bukan rapat penting, ini hanya perkenalan saja hingga waktu rapat hanya berlangsung setengah jam.
Disusul oleh yang lain, ucapan selamat juga dilontarkan oleh pak Cakra bagian perencanaan "Selamat datang di perusahaan. Semoga kita semua satu ide, satu pemikiran dan satu tujuan"
Kalimat penutup yang hanya dapat senyuman tipis saja dari sang CEO, mending sih dari pada tadi. Alfaro tak menunjukan ekspresinya.
Mahal!
Semua orang yang ada di ruang rapat itu berjumlah sepuluh orang, termasuk Alfaro dan Alina. Semua berjabat tangan sebelum meninggalkan ruang rapat, menyisakan Alfaro juga Alina saja.
"Pak, jadwal kita hari ini harus bertemu klien di restoran Pelangi jam 9.15"
Alina berdiri dengan Ipadnya membaca deretan kegiatan Alfaro hari ini.
"Panggil saya bos" ucap Alfaro yang masih betah duduk di kursinya, sedikit menengadah menatap ke samping kanan dimana Alina berdiri.
"Iya, bos" ralatnya. "Pak Levi dari perusahaan Glow Up ingin bertemu langsung dengan bos"
Alfaro dengan tatapan lurusnya ke depan "bawa bagian marketing"
Bukan Alfaro yang membuat keputusan, tapi opanya disebrang sana. Telinga kiri Alfaro dipasangi buds pro yang terhubung dan siap dengan perintahnya. Bisa dibilang Alfaro hanya boneka hidup.
Setelah beberapa menit berlalu Alfaro kembali ke ruangannya. Memeriksa satu per satu map yang udah numpuk di mejanya. Membaca secara rinci deretan kalimatnya pelan tapi masih terdengar jelas oleh opanya. Lalu membubuhkan tanda tangannya setelah disetujui.
Alfaro hanya nurut aja.
Selesai dengan pekerjaan awalnya, Alfaro menyandarkan punggungnya kasar, memejam dalam mengingat apa yang dia lakukan kali ini.
"Gue tebus kesalah gue di masa lalu, Keenan Alfaro"
8 bulan yang lalu...