/0/3296/coverbig.jpg?v=04db239502be524de3d35de6ac328d58)
Zafa, seorang Ibu rumah tangga yang memiliki anak kembar tiga. Selama ini rumah tangganya bahagia. Namun, setelah suaminya sukses. Pram mulai berubah. Hadirnya orang ketiga membuat rumah tangga yang dulu harmonis kini terasa hambar karena Pram diam-diam memiliki wanita idaman lain. Hingga Pram meminta izin untuk menikahi lagi dengan alasan karena Zafa sudah tidak menarik lagi. Mampukah Zafa mempertahankan rumah tangganya demi ketiganya anaknya di saat suaminya sudah tidak menganggapnya lagi?
" Zafa, izinkan aku untuk menikah lagi," kata Pram dengan suara tercekat.
Deg, Zafa menatap nanar suaminya, tidak ada angin tidak ada hujan, tapi kata-kata Pram seperti petir yang menyambar hatinya.
"Kamu ini baru pulang ngomong apa,Mas," kata Zafa sambil tersenyum menanggapi ucapan suaminya.
"Zafa aku serius!" seru Pram
Zafa yang sedang asik bermain dengan ketiga anaknya dikejutkan dengan ucapan suaminya.
Rumah tangga yang sudah dijalin selama hampir dua tahun kini sudah menghadirkan ketiga anak yang begitu cantik dan mengemaskan.
Zafa yang memiliki 3 anak kembar begitu bersyukur dengan amanah yang diberikan oleh sang pencipta kepada keluarganya.
Leo, Leon dan si bungsu Laura, ketiganya terlihat sehat, walau saat awal pernikahan keduanya harus hidup serba pas-pasan, hingga Pram membeli bengkel sahabatnya untuk dia kembangkan.
Zafa dan Pram kadang makan sepiring hanya berdua, bukannya hal romantis, tetapi karena kondisi yang mengharuskan hanya bisa beli nasi satu bungkus.
Hidup susah baginya tidak mengapa asal keduanya saling setia, selama ini Zafa disibukan dengan mengurus sikembar hingga tidak menaydari kalau suaminya bermain di belakangnya.
Zafa hanya diam, setelah ketiga anaknya tidur wanita itu keluar kamar di mana suaminya menunggu.
Pram menatap sang istri dengan Intens, dia begitu heran kenapa Zafa tidak marah dan menagis seperti apa yang dia bayangkan sebelum sampai di rumahnya.
Dua tahun sebelumnya.
Awal pernikahan itu indah. Bagaikan dunia milik berdua, Zafa dan Pram terlihat begitu bahagia. Kini keduanya disatukan dalam jalinan pernikahan untuk berjanji sehidup semati. Restu dari Ayahnya yang ia butuhkan saat ini, walaupun awalnya pria paruh baya itu menolak Pram.
Zafa gadis cantik yang baru menyelesaikan kuliahnya itu kini sudah menjadi seorang istri, ini awal mulanya kehidupannya dimulai. Menjadi Nyonya Pram, tak pula membuatnya merasa risi karena suaminya sampai sekarang masih pengangguran semenjak keduanya lulus kuliah.
Zafa berharap pria pilihannya itu bisa melindung dirinya dan anak -anaknya kelak. Terlahir sebagai anak dari simpanan Ayahnya membuat wanita itu berharap bisa memiliki keluarga yang utuh.
Di ruang yang tidak terlalu besar Zafa sedang memasukan pakaian suaminya ke dalam lemarinya, ia sedang menunggu Pram selesai mandi. Tidak lama pintu terbuka, Pria itu tersenyum menatapnya.
"Sayang," panggil Pram sambil duduk di samping istrinya di tepi kasur.
"Mas, ini tehnya diminum dulu ya," tawar Zafa sambil mengulurkan cangkir ke arah suaminya.
"Terima kasih," ucap Pram sambil menerima cangkir berisi teh hangat dari tangan istrinya.
Pram menatap lekat wajah istrinya, pria itu mengusap punggung tangan Zafa. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi ada rasa ragu dalam hatinya. Menikah setelah lulus kuliah belum ada pekerjaan tetap membuatnya ada rasa was-was.
Pram merasa malu kepada mertuanya, karena selama ini ia hanya membantu temannya kerja di bengkel. Kuliah saja ia mengandalkan beasiswa dari kampusnya.
Zafa yang melihat gelagat suaminya itu merasa ada sesuatu yang akan disampaikan, tetapi ada keraguan dari netra Pram.
"Mas, apa ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?" tanya Zafa.
Pram tersenyum, istrinya kini sudah begitu hafal dirinya sedang ingin membicarakan sesuatu. Namun, ada rasa keraguan dalam hatinya. Melihat Zafa menunggu tanggapannya akhirnya ia berkata." Aku rencana besok mencari kerja."
Zafa mendengar itu tersenyum, ia begitu bahagia karena sejujurnya wanita itu ingin mengatakan itu juga kepada suaminya.
"Aku juga mau mencari kerja, Mas. Apa boleh?" tanya Zafa kepada Pram.
"Boleh, asal tidak lupa dengan tanggung jawabmu sebagai seorang istri!" Suara Bram terdengar seperti sebuah pesan yang begitu dalam untuk Zafa.
"InshaAllah tidak, Mas." Zafa menatap wajah Pram yang kembali terlihat begitu muram.
Pria yang sudah menjadi suaminya itu biasa selalu ceria dan mampu membuatnya aman dan tenang, tapi entah mengapa kali ini ada yang disembunyikannya. Namun, Zafa tidak ingin banyak bertanya.
Zafa melihat jam sudah menunjukan pukul empat lewat, wanita itu mengusap bahu suaminya sambil tersenyum. Ia beranjak dari duduknya dan mengambil ikat rambut sambil berkata."Mas, aku masak dulu ya."
Pram tidak menjawab, tapi hanya menganggukan kepala. Melihat itu Zafa hanya tersenyum tipis, tanpa ragu wanita itu keluar dari kamar menuju dapur. Namun, langkahnya terhenti karena panggilan Ibunya.
"Zafa, kamu kapan akan pindah dari rumah sini?" tanya Ibu Tika sambil menatap sinis anak tirinya itu.
Zafa tahu kalau wanita yang kini duduk di ruang keluarga itu dari dulu tidak menyukainya, karena ia anak dari simpanan suaminya. Dadanya terasa sesak, karena rumah yang ia tempati ini adalah rumah jeri payah dari Bunda dan Ayahnya waktu masih bersama. Namun, karena sesuatu hal Bundanya memilih pergi. Ayah lebih memilih menikahi orang yang bisa membuat perusahaannya berkembang dari pada Bundanya yang hanya karyawan biasa.
Zafa tahu itu semua dari sahabat Bundanya. Selama itu Ayah dan Bunda menabung untuk membeli rumah ini dari belum renovasi, hingga tabungan sudah cukup sebelum menikah Ayah mengatakan kepada Bundanya untuk merenovasi full rumah ini.
"Maaf Bu, nanti Zafa bicarakan dengan Mas Pram," jawab Zafa sambil tersenyum.
"Makanya mencari suami itu yang kaya, sudah berkerja. Ini suami pengangguran tidak malu sama Ayahmu pagi-pagi sudah pergi bekerja!" seru ibu Tika membuat Zafa terkejut.
"Ibu jangan Khawatir, Pram bisa membahagiakan Zafa," sahut Pram dengan wajah datar.
"Mas," kata Zafa lembut.
"Kamu pikir dengan cinta bisa bahagia, basi!" sindir Bu Tika sambil beranjak dari duduknya meninggalkan sepasang suami-istri itu.
Zafa mengusap lengan suaminya supaya tidak tersulut emosi menanggapi cacian Ibunya itu, walaupun wanita itu tidak pernah baik padanya, tetapi tidak membuat Zafa membencinya.
Zafa berharap setelah ia dan suaminya mendapat pekerjaan bisa keluar dari rumah ini. Pram duduk di ruang keluarga sedangkan Zafa menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam nanti untuk keluarganya.
Urusan dapur selama ini Zafa yang selalu mengerjakannya, hingga terkadang ayah menegur ibu untuk ikut mengerjakan urusan rumah. Namun, itu hanya ditanggapi dengan jawaban ketus dari wanita yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri itu.
Zafa membuka kulkas hanya ada ayam dan telur, wanita itu segera mengolahnya menjadi ayam sambal balado. Pram yang melihat istrinya sedang memotong sayur menghampirinya.
"Sayang, aku keluar sebentar ya," pamit Pram yang sudah terlihat rapi.
Zafa menatap wajah tampan suaminya itu, kemudian ia tersenyum sambil berkata." Hati-hati."
Pram hanya tersenyum, dan pergi setelah Zafa mencium tangan suaminya. Wanita itu mengantarkan suaminya sampai di depan teras. Pram memakai motor metik milik Zafa. Setelah tubuh suaminya sudah tidak terlihat lagi barulah ia masuk ke rumah.
Setelah satu jam, Zafa baru siap menyiapkan menu makan malam. Ia segera masuk kamar untuk membersihkan tubuhnya. Jam sudah menunjukan pukul lima lewat, tetapi Pram belum juga pulang.
Suara mobil ayahnya sudah terdengar kalau pria paruh baya itu sudah pulang, Zafa segera keluar kamar untuk menyambutnya.
"Assalamualaikum," kata Ayah saat memasuki rumah yang terlihat sepi.
"Waalaikumsalam , Yah. Sini Zafa simpan tasnya," kata Zafa sambil mengambil alih tas dari tangan Ayahnya.
Raka langsung duduk di ruang keluarga karena merasa begitu lelah setelah seharian bekerja. Matanya melihat sekeliling, tetapi tidak mendapatkan istri dan menantunya. Zafa datang sambil membawa teh hangat untuk Ayahnya.
"Diminum tehnya, Yah!" kata Zafa.
"Terima kasih, Nak," balas Ayah Raka.
Zafa ikut duduk di samping Ayahnya sambil menunggu suaminya pulang, tak lama suara pintu terbuka dengan keras.
"Zafa!" teriak Ibu Tika membuat keduanya terkejut.
"Iya Bu, Ada apa?" tanya Zafa langsung berdiri.
Ayah Raka mendengar teriakan istrinya itu merasa marah rasanya, kalau saja Zafa tidak menahannya tangan pria itu hampir menampar mulut Ibu Tika.
"Ibu, tidak usah terika-teriak!" seru Ayah Raka.
Ibu Tika hanya masam saja saat suaminya lagi-lagi marah kepadanya, wanita itu langsung duduk di depan suaminya sambil meminum teh milik Ayah Raka sampai tandas.
"Zafa, Ibu tadi lihat kalau suamimu masih kerja di bengkel. Jangan membuat malu keluarga, bilang sama dia!" sentaknya membuat Zafa terjingkat karena terkejut.
Tepat pukul tujuh malam Pram baru pulang, pria itu terlihat lelah, tapi saat sampai pintu disambut Zafa lelah itu terasa hilang.
"Mas, mandi dulu ya," kata Zafa sambil mengikuti suaminya ke kamar.
Pram masuk kamar segera mengambil handuk dan menuju kamar mandi yang ada di kamar istrinya, Zafa menunggu suaminya mandi dan mempersiapkan pakaiannya.
Pram duduk sambil di samping istrinya. Pria itu merasa kasihan andai saja ia sudah dapat pekerjaan tetap pasti wanita yang kini berada di sampingnya tidak akan susah lagi.
Pram ingat saat masih di bengkel tiba-tiba mertuanya datang dengan memakinya dan mengatakan dirinya parasit dengan menikahi Zafa. Dadanya terasa sesak mengingat itu, harga dirinya sebagai lelaki merasa diinjak-injak.
"Zafa, apa kamu mau kita nanti mencari kos?" tanya Pram lembut.
"Iya Mas, aku mau. Nanti kita bilang sama Ayah ya," kata Zafa begitu senang.
"Iya sayang," ucap Pram sambil mengacak rambut istrinya.
Makan malam pun tiba, Semua makan malam dalam diam, karena Zafa sudah dibiasakan oleh Bundanya kalau makan jangan sambil berbicara. Selesai makan kini semua berkumpul di ruang keluarga.
Pram menarik napas panjang, ia mengatakan kepada mertuanya niatnya tadi untuk membawa istri keluar dari rumah ini.
"Ayah, ada yang mau Pram bicarakan," kata Pram.
"Apa itu, Nak?" tanya Ayah Raka lembut
"Pram rencana akan membawa Zafa untuk pindah," kata Pram.
Ayah Raka terdiam, tetapi sedetik kemudian matanya menatap tajam menantu dan putrinya itu bergantian. Pria itu ada rasa takut akan nasib anaknya jika ikut suaminya yang sekarang seorang pengangguran itu.
"Tidak. Kalian akan tetap tinggal di sini!" kata Ayah Raka.
"Ayah, biarkan kami mandiri," sahut Zafa.
"Baiklah, jika kamu akan ikut suamimu, tapi Ayah pastikan kamu Zafa! sepeser pun tidak akan mendapatkan bagian dari harta Ayah!" ancam Ayah Raka.
bersambung.
Jangan lupa sebelum baca subscribe terlebih dahulu. "Fani Santika, detik ini aku talak kamu. Sekarang kamu bebas!" seru Adam lantang membuat Fani menegang sedangkan Raka hanya tersenyum sambil mengusap bibirnya yang berdarah. Pasca bercerai dari Fani, Adam menjadi sosok pria yang dingin Dan Arogant. Hingga dia bertemu gadis desa saat berkunjung di rumah Kakak angkatnya Halim. Ririn yang mengadu nasib ke kota untuk mencari kerja, tapi sayang umurnya belum cukup. Gadis itu mendapatkan tawaran untuk mengasuh putri dari duda anak satu yang tak lain Sasa. Ririn mencintai Bagas, tapi dia merasa nyaman saat bersama Adam, siapakah yang akan dipilihnya?
Haris dan Lidya sedang berada di ranjang tempat mereka akan menghabiskan sisa malam ini. Tubuh mereka sudah telanjang, tak berbalut apapun. Lidya berbaring pasrah dengan kedua kaki terbuka lebar. Kepala Haris berada disana, sedang dengan rakusnya menciumi dan menjilati selangkangan Lidya, yang bibir vaginanya kini sudah sangat becek. Lidah Haris terus menyapu bibir itu, dan sesekali menyentil biji kecil yang membuat Lidya menggelinjang tak karuan. “Sayaaang, aku keluar laghiiii…” Tubuh Lidya mengejang hebat, orgasme kedua yang dia dapatkan dari mulut Haris malam ini. Tubuhnya langsung melemas, tapi bibirnya tersenyum, tanda senang dan puas dengan apa yang dilakukan Haris. Harispun tersenyum, berhasil memuaskan teman tapi mesumnya itu. “Lanjut yank?”
Kisah seorang ibu rumah tangga yang ditinggal mati suaminya. Widya Ayu Ningrum (24 Tahun) Mulustrasi yang ada hanya sebagai bentuk pemggambran imajinasi seperti apa wajah dan bentuk tubuh dari sang pemain saja. Widya Ayu Ningrum atau biasa disapa Widya. Widya ini seorang ibu rumah tangga dengan usia kini 24 tahun sedangkan suaminya Harjo berusia 27 tahun. Namun Harjo telah pergi meninggalkan Widy sejak 3 tahun silam akibat kecelakaan saat hendak pulang dari merantau dan karna hal itu Widya telah menyandang status sebagai Janda di usianya yang masih dibilang muda itu. Widya dan Harjo dikaruniai 1 orang anak bernama Evan Dwi Harjono
Warning!!!!! 21++ Dark Adult Novel Ketika istrinya tak lagi mampu mengimbangi hasratnya yang membara, Valdi terjerumus dalam kehampaan dan kesendirian yang menyiksa. Setelah perceraian merenggut segalanya, hidupnya terasa kosong-hingga Mayang, gadis muda yang polos dan lugu, hadir dalam kehidupannya. Mayang, yang baru kehilangan ibunya-pembantu setia yang telah lama bekerja di rumah Valdi-tak pernah menduga bahwa kepolosannya akan menjadi alat bagi Valdi untuk memenuhi keinginan terpendamnya. Gadis yang masih hijau dalam dunia dewasa ini tanpa sadar masuk ke dalam permainan Valdi yang penuh tipu daya. Bisakah Mayang, dengan keluguannya, bertahan dari manipulasi pria yang jauh lebih berpengalaman? Ataukah ia akan terjerat dalam permainan berbahaya yang berada di luar kendalinya?
Dua tahun setelah pernikahannya, Selina kehilangan kesadaran dalam genangan darahnya sendiri selama persalinan yang sulit. Dia lupa bahwa mantan suaminya sebenarnya akan menikahi orang lain hari itu. "Ayo kita bercerai, tapi bayinya tetap bersamaku." Kata-katanya sebelum perceraian mereka diselesaikan masih melekat di kepalanya. Pria itu tidak ada untuknya, tetapi menginginkan hak asuh penuh atas anak mereka. Selina lebih baik mati daripada melihat anaknya memanggil orang lain ibu. Akibatnya, dia menyerah di meja operasi dengan dua bayi tersisa di perutnya. Namun, itu bukan akhir baginya .... Bertahun-tahun kemudian, takdir menyebabkan mereka bertemu lagi. Raditia adalah pria yang berubah kali ini. Dia ingin mendapatkannya untuk dirinya sendiri meskipun Selina sudah menjadi ibu dari dua anak. Ketika Raditia tahu tentang pernikahan Selina, dia menyerbu ke tempat tersebut dan membuat keributan. "Raditia, aku sudah mati sekali sebelumnya, jadi aku tidak keberatan mati lagi. Tapi kali ini, aku ingin kita mati bersama," teriaknya, memelototinya dengan tatapan terluka di matanya. Selina mengira pria itu tidak mencintainya dan senang bahwa dia akhirnya keluar dari hidupnya. Akan tetapi, yang tidak dia ketahui adalah bahwa berita kematiannya yang tak terduga telah menghancurkan hati Raditia. Untuk waktu yang lama, pria itu menangis sendirian karena rasa sakit dan penderitaan dan selalu berharap bisa membalikkan waktu atau melihat wajah cantiknya sekali lagi. Drama yang datang kemudian menjadi terlalu berat bagi Selina. Hidupnya dipenuhi dengan liku-liku. Segera, dia terpecah antara kembali dengan mantan suaminya atau melanjutkan hidupnya. Apa yang akan dia pilih?
"Tolong hisap ASI saya pak, saya tidak kuat lagi!" Pinta Jenara Atmisly kala seragamnya basah karena air susunya keluar. •••• Jenara Atmisly, siswi dengan prestasi tinggi yang memiliki sedikit gangguan karena kelebihan hormon galaktorea. Ia bisa mengeluarkan ASI meski belum menikah apalagi memiliki seorang bayi. Namun dengan ketidaksengajaan yang terjadi di ruang guru, menimbulkan cinta rumit antara dirinya dengan gurunya.