/0/3419/coverbig.jpg?v=565c14d510581c7469c005a45eb633a3)
Kisah murid SMK yang kehimangan kegadisannya saat mengikuti party di sebuah hotel milik temannya.
Kisah murid SMK yang kehimangan kegadisannya saat mengikuti party di sebuah hotel milik temannya.
Prolog
Bella, gadis bertinggi badan 145. Anak seorang supir taksi yang memiliki cita-cita tinggi untuk menjadi seorang desainer. Gadis yang memiliki lesung pipit di kedua pipinya dan juga kacamata yang bertengger di hidung mancungnya, membuat ia dijuluki gadis Kusu alias kurang susu karena badannya yang tak pernah bertambah sejak SMP.
Gadis ceria ini tak pernah memikirkan cibiran teman-temannya. Ia fokus dan fokus untuk belajar karena tiga bulan lagi ia akan melaksanakan ujian kelulusan sekolah.
Kebahagiaan berakhir saat Bella tak sengaja salah masuk kamar. Arki, pria bermata elang dan badan atletis tak sengaja meniduri Bella saat ia sedang mabuk. Arki mengira itu Adalah Ella, kekasih yang sudah memutuskan pertunangan secara sepihak hingga ia murka dan meminum banyak Alkohol untuk meluapkan amarahnya.
Bagaimana kisah Bella dalam menjalani kehidupannya setelah Arki merenggut kesucian nya secara paksa??
Bab 1. Bella
Ting!
Pesan dari Mama Nita masuk ke dalam ponsel Bella. Ia mengirim pesan jika malam ini, mereka akan pergi ke bandung untuk menjenguk Nenek Bella yang sakit. Bukan tak ingin mengajak tapi kedua orang tuanya tahu, jika anaknya ini sedang mengikuti les tambahan di sekolah untuk persiapan menghadapi ujian kelulusan.
Tak selang lama bel sekolah berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar kelas untuk segera pulang, karena jam belajar telah usai.
"Bel, aku ada undangan party di hotel Imperial. Kamu datang ya! Aku nggak enak pergi sendiri!" ajak Nayla saat hendak pulang.
"Memang ini acara yang ngadain siapa?" tanya Bella.
"Rafael, dia mau ngadain anniversary jadiannya sama Stevani yang ke lima."
"Lima tahun?" tanya Bella.
"Lima bulan, lah! Kamu kan tahu, dia playboy cap kucing. Kalau nggak tajir, udah ogah para wanita itu jadi pacarnya! Dia itu suka mesum. Hih! Ngeri pokoknya jadi pacarnya!" ucap Nayla.
"Ya udah, kalau gitu nggak usah dateng! Orang sama orangnya aja nggak suka!" Bella memang gadis cuek yang tak begitu memikirkan kisah percintaan, apalagi berhubungan dengan yang namanya pacaran.
Bukan Bella tak mau, tapi ia tak ingin kedua orang tuanya kecewa jika mereka tahu dirinya tak fokus belajar akibat memikirkan pacar. Misinya tetap sama, yaitu membuat orang tuanya bangga akan prestasinya. Kondisi ekonomi yang pas-pasan, membuat Bella sadar diri akan kapasitas pergaulan nya.
"Kita kan mau ujian, nggak enak banget belajar terus! Sekali-kali kita pergi. Lagian ini kan party, pasti nggak akan lama dan banyak orang juga. Kamu ikut ya?" bujuk Nayla penuh harap.
Bella tampak diam dan memikirkan permintaan sahabatnya ini. "Baiklah, tapi jangan sampai lewat jam sembilan ya! Aku nggak boleh main jika lewat jam sembilan malam!"
Akhirnya Bella menyetujui permintaan Nayla untuk pergi ke pesta. Bella berpikir tak masalah, karena kedua orang tuanya juga sedang tak ada dirumah. Ia akan berusaha pulang sebelum jam yang ayahnya terapkan itu. Walau tak ada orang tua, Bella berusaha disiplin dengan jadwal yang ayahnya buat agar Bella menjadi anak yang bertanggung jawab dan menghargai waktu.
Malam tiba, Bella yang sudah sampai di Hotel tempat Nayla katakan. Nayla mengabarkan jika dirinya telah sampai lebih dulu. Bella melangkah menuju ke dalam dan bertanya pada satpam tentang kamar yang teman-temannya ini gunakan untuk party.
Nayla bilang, Rafael hanya mengundang teman satu kelasnya. Dan Bella termasuk satu kelas dengan Rafael, walaupun kehadirannya tak pernah dilihat para teman sekolahnya. Hanya Nayla dan Radit, teman yang mau bersama Bella, karena mereka berdua memilih mencari sahabat dengan hati yang baik. Bukan hanya yang berduit.
Bella sekolah di sekolah ternama dan elit karena ia mendapat beasiswa sekolah gratis dari prestasi yang sudah ia raih sejak SMP. Ia siswi tercerdas dalam ilmu Fisika dan sains, tak jarang temannya mau mendekatinya jika mereka kesulitan mengerjakan tugas atau belum mengerjakan pr.
"Kamar lantai 7 nomor 8." Bella mengingat ucapan satpam tadi menunjukan ruang yang digunakan party sahabatnya itu. Ia memanggil nomor Nayla tapi tak juga diangkat. Mungkin ia sudah sampai di sana dan tak mendengar panggilannya ini, batin Bella.
Bella membaca seluruh nomor yang tertera di setiap pintu kamar hotel. Dan ia melihat angka yang ia ingat tadi terpampang jelas di sana.
"Apa aku tunggu Nayla ya? Di sini sepi. Mungkin mereka salah memberikan informasi kamar Rafael. Bella hendak pergi dari sana, namun ia melihat lelaki dengan pakaian jasnya tampak jalan sempoyongan ke arahnya.
Bella tampak takut dan ia hendak meninggalkan pria itu dengan ancang-ancang berlari. Langkah kaki yang siap melesat, tiba-tiba badan pria itu ambruk ke lantai.
Bella panik dan hendak memanggil satpam. Namun, tampaknya pria itu masih sedikit membuka matanya.
"Bantu aku ke kamar!" Perintahnya dengan serak.
"Ka_kamarmu yang mana?" Pria itu menunjuk kamar yang ada di depan Bella. Dengan ragu, Bella memapah tubuh yang lumayan berat ini dengan susah payah.
'Berat banget sih!' gerutu Bella dalam hati.
"Kunci mana?" tanya Bella. Pria itu merogoh kunci di saku celananya dan memberikannya pada Bella. Pintu terbuka, dan Bella segera membawa masuk pria mabuk ini ke dalam.
"Sudah tahu mabuk itu berdampak buruk, masih saja dilakukan. Dasar orang kaya, nggak sayang tuh uang dibuang-buang! Baik buat saya!" gerutu Bella saat pria tadi sudah ia baringkan di atas Ranjangnya.
Saat hendak keluar kamar, pria tadi meracau dan memanggil nama seorang yang Bella tak tahu. Ia akan keluar dengan segera, tapi pria tadi berjalan ke arahnya dan menarik tangannya kasar. Ia mengunci pintu kamar dan membawa Bella ke atas Ranjang.
"Ella, kamu wanita bo**h! Kamu sengaja membatalkan pertunangan ini karena tahu aku sedang bangkrut bukan? Dasar wanita ja**ng. Kamu akan menyesal telah membuangku!"
Arki terus saja meracau dan memaksa Bella untuk melayani semua perlakuan buruknya. Badan Bella yang kecil tak cukup tenaga untuk melawan keganasan Arki saat memainkan adegan panas pada Bella. Bella berteriak dan berusaha menyadarkan Arki bahwa dirinya bukanlah Ella, wanita yang ia maksud.
Sepertinya, malam ini malam terburuk sepanjang hidup Bella. Ia tak tahu jika kejadian naas ini bakal terjadi di saat orang tuanya sedang pergi. Ia merasa gagal jadi anak yang berbakti, wajah tulus ayah dan ibunya seakan sirna bersamaan dengan bercak darah di atas sprei ranjang durjana ini.
Bella menangis di atas ranjang dengan menekuk kedua lututnya, meratapi kemalangan yang terjadi. Ia melihat pria tadi sudah tertidur pulas di sana dan tak lagi meracau. Dengan segenap tenaga, ia berusaha kabur agar pria tadi tak memaksanya untuk melayaninya lagi. Dengan langkah terseok, ia memunguti pakaiannya yang sudah teronggok di lantai dan segera memakainya.
Pintu berhasil ia buka dan Bella segera pergi dan pulang ke rumahnya. Bella berjalan dengan cepat, ia tak peduli kemana arah ia berjalan. Pikirannya sudah buntu akibat kejadian tadi. Ia melihat ponselnya, dan banyak panggilan tak terjawab dari nomor Nayla.
Bella tak menghubungi Nayla kembali, sekarang pikirannya hanya pulang dan ingin menenangkan dirinya di kamar.
Sebuah taksi yang Bella pesan sudah berada di depannya, ia segera naik dan menumpahkan air matanya di dalam taksi.
"Kenapa, Non?" tanya supir taksi saat melihat Bella terisak di dalam taksinya. Bella menyeka air matanya kasar dan mencoba tersenyum.
"Tak apa, Pak! Jalan saja!"
"Baik, Non! Jika tak keberatan, Non Bisa cerita sama Bapak! Apa Non habis diputusin pacar?"
"Tidak, Pak! Aku tidak apa-apa!"
"Baiklah kalau begitu, Bapak nggak memaksa. Jangan sedih lagi, Non! Bapak jadi inget anak Bapak yang di kampung kalau lihat Non nangis!" ucap Supir Taksi sambil menyeka air matanya.
"Saya nggak nangis Pak! Lihat!" Bella menampakan senyum lesung pipit yang biasa ia tunjukan jika ia sedang bahagia. Tapi kali ini, senyum ini sengaja ia tunjukan agar supir itu tak lagi bersedih.
"Pak, anak Bapak umurnya berapa?" tanya Bella lirih. Melihat supir taksi ini, ia jadi teringat ayahnya yang sama berprofesi sebagai supir taksi juga.
"Sekitar enam belas tahunan lah kurang lebih. Sekarang sudah kelas dua SMK, Non sendiri masih sekolah atau_?"
"Saya masih sekolah, Pak! Tiga bulan lagi saya lulus, doakan saya agar dapat lulus dengan nilai terbaik. Agar orang tua saya bangga mempunyai anak sepertiku. Ayahku juga supir taksi, sama kayak Bapak!"
"Oh Ya?"
"Iya, tapi ayahku sedang di Bandung sekarang. Mungkin besok pulangnya," jawab Bella lembut. Ia sudah tak sekacau tadi, berbicara dan berbincang pada supir yang sangat ramah ini.
Tak terasa Bella sudah sampai di rumahnya, ia segera turun dari taksi setelah membayar dan memberikan uang tips kepada sopir tadi.
Badan Bella sangat lemas, kejadian tadi benar-benar membuat dirinya hancur dan terluka. Jika ia bisa memilih, ia tak akan datang ke acara party yang diadakan Rafael di hotel itu.
Bella memasuki kamar mandi, ia basuh semua kotoran dan juga dosa yang sudah diperbuat. Walau itu bukan inginnya, tapi tetap saja ia merasa menjadi gadis yang hina karena tak bisa menjaga harkat dan martabatnya sebagai wanita suci.
Bella menangis di bawah shower dan berteriak sekencang mungkin agar beban di pundaknya sedikit berkurang.
***
Pagi ini, Bella bangun agak kesiangan. Ia langsung beranjak dari ranjang dengan pelan karena area kewanitaannya masih terasa nyeri akibat semalam.
Setelah mandi ia mengambil roti untuknya sarapan dan pergi ke sekolah seperti biasa. Ia tak ingin menampakkan wajah sedihnya di depan kawan-kawannya.
"Bel, kamu tadi malam di mana sih? Aku cari nggak ada, di telepon nggak di angkat!" gerutu Nayla saat Bella baru memasuki kelasnya.
"Kamu yang aku telepon nggak diangkat! Ya aku pulang lah," imbuh Bella malas.
"Kamu marah? Kok jawabnya jutek begitu!" tanya Nayla sedih.
"Nggak, biasa aja! Udah bel masuk, aku ke dalam dulu!" Bella sengaja tak ingin berbicara dengan siapapun. Hatinya begitu terluka akibat kejahatan pria tak dikenal semalam.
"Bel, ini kamu marah loh! Aku minta maaf ya! Aku nggak denger waktu kamu telepon! Aku sedang di dalam kamar bersama teman-teman lain. Musiknya kenceng banget, Bel! Maafin Nayla dong!" Nayla memegang tangan Bella, dan Bella tetap diam tak menjawab.
'Maafin aku, Nay! Aku nggak ingin kamu punya sahabat hina seperti aku! Lebih baik kita nggak usah deket dulu' batin Bella.
Bella memilih duduk di lain kursi untuk menghindari tatapan dan juga pertanyaan Nayla. Mengetahui sifat berbeda dari sahabatnya ini, Nayla memilih mendekati Bella nanti dan menanyakan perihal alasan ia marah padanya. Jika hanya karena ia tak bertemu sewaktu di party, ia tak mungkin semarah ini. Nayla tahu sahabatnya ini, dia gadis periang yang tak pernah ngambek dan marah hanya karena di ejek atau di bully teman kelasnya. Bahkan semua sikap buruk dirinya selama ini, tak pernah Bella permasalahkan.
[Bayi yang lucu + Identitas rahasia + Tokoh utama yang kuat]. Cornelia mencintai Darius dengan sepenuh hati selama lima tahun. Dia menyerahkan segalanya untuknya dan hidup dengan rendah hati seperti abu. Ketika hubungan mereka mengalami krisis, dia berharap bahwa kehamilannya akan memperkuat pernikahan mereka, tetapi yang dia dapatkan hanyalah penyelesaian perceraian. Lebih buruk lagi, saat dia akan melahirkan, dia dijebak dan nyawanya terancam. Setelah selamat dari pengalaman yang mengerikan tersebut, dia bertekad untuk memutuskan hubungan dengan Darius. Lima tahun kemudian, dia kembali dengan kepala tegak dan menjalankan bisnis yang sukses. Mereka yang dulu menindsnya kini telah menelan pil pahit dan menyesalinya sekali. Dan kebenaran tentang masa lalu perlahan-lahan terungkap.... Terpesona oleh kepercayaan diri Cornelia, mantan suaminya ingin kembali bersama, tetapi Cornelia menutup mata terhadap rayuannya. Darius dengan putus asa memohon, "Sayang, anak kita membutuhkan ayah dan ibu. Tolong menikah lagi denganku!"
BERISI ADEGAN 21++ Rendi Satria, pria berusia 28 tahun yang memiliki postur tubuh yang ideal juga wajah yang tampan, hal itu menjadi daya pikatnya sangat kuat dan banyak perempuan yang terpesona akan ketampanannya. Namun Rendi sudah memiliki kekasih, yaitu Lisna. Perempuan yang sangat ia cintai. Akan tetapi kedua orangtua Lisna tidak menyetujui hubungan mereka lantaran sat itu Rendi tidak memiliki pekerjaan tetap. Suatu hari Rendi ditawari pekerjaan untuk menjadi gigolo oleh tantenya sendiri. Maka dari itu Rendi bersedia demi bisa membuktikan kepada kedua orangtua Lisna. Lantas apakah yang akan terjadi dengan Rendi? Alangkah dia benar-benar menikahi pujaan hatinya? Simak dan ikuti kisahnya.
Selama tiga tahun pernikahannya dengan Reza, Kirana selalu rendah dan remeh seperti sebuah debu. Namun, yang dia dapatkan bukannya cinta dan kasih sayang, melainkan ketidakpedulian dan penghinaan yang tak berkesudahan. Lebih buruk lagi, sejak wanita yang ada dalam hati Reza tiba-tiba muncul, Reza menjadi semakin jauh. Akhirnya, Kirana tidak tahan lagi dan meminta cerai. Lagi pula, mengapa dia harus tinggal dengan pria yang dingin dan jauh seperti itu? Pria berikutnya pasti akan lebih baik. Reza menyaksikan mantan istrinya pergi dengan membawa barang bawaannya. Tiba-tiba, sebuah pemikiran muncul dalam benaknya dan dia bertaruh dengan teman-temannya. "Dia pasti akan menyesal meninggalkanku dan akan segera kembali padaku." Setelah mendengar tentang taruhan ini, Kirana mencibir, "Bermimpilah!" Beberapa hari kemudian, Reza bertemu dengan mantan istrinya di sebuah bar. Ternyata dia sedang merayakan perceraiannya. Tidak lama setelah itu, dia menyadari bahwa wanita itu sepertinya memiliki pelamar baru. Reza mulai panik. Wanita yang telah mencintainya selama tiga tahun tiba-tiba tidak peduli padanya lagi. Apa yang harus dia lakukan?
Pernikahan tiga tahun tidak meninggalkan apa pun selain keputusasaan. Dia dipaksa untuk menandatangani perjanjian perceraian saat dia hamil. Penyesalan memenuhi hatinya saat dia menyaksikan betapa kejamnya pria itu. Tidak sampai dia pergi, barulah pria itu menyadari bahwa sang wanita adalah orang yang benar-benar dia cintai. Tidak ada cara mudah untuk menyembuhkan patah hati, jadi dia memutuskan untuk menghujaninya dengan cinta tanpa batas.
Raina terlibat dengan seorang tokoh besar ketika dia mabuk suatu malam. Dia membutuhkan bantuan Felix sementara pria itu tertarik pada kecantikan mudanya. Dengan demikian, apa yang seharusnya menjadi hubungan satu malam berkembang menjadi sesuatu yang serius. Semuanya baik-baik saja sampai Raina menemukan bahwa hati Felix adalah milik wanita lain. Ketika cinta pertama Felix kembali, pria itu berhenti pulang, meninggalkan Raina sendirian selama beberapa malam. Dia bertahan dengan itu sampai dia menerima cek dan catatan perpisahan suatu hari. Bertentangan dengan bagaimana Felix mengharapkan dia bereaksi, Raina memiliki senyum di wajahnya saat dia mengucapkan selamat tinggal padanya. "Hubungan kita menyenangkan selama berlangsung, Felix. Semoga kita tidak pernah bertemu lagi. Semoga hidupmu menyenangkan." Namun, seperti sudah ditakdirkan, mereka bertemu lagi. Kali ini, Raina memiliki pria lain di sisinya. Mata Felix terbakar cemburu. Dia berkata, "Bagaimana kamu bisa melanjutkan? Kukira kamu hanya mencintaiku!" "Kata kunci, kukira!" Rena mengibaskan rambut ke belakang dan membalas, "Ada banyak pria di dunia ini, Felix. Selain itu, kamulah yang meminta putus. Sekarang, jika kamu ingin berkencan denganku, kamu harus mengantri." Keesokan harinya, Raina menerima peringatan dana masuk dalam jumlah yang besar dan sebuah cincin berlian. Felix muncul lagi, berlutut dengan satu kaki, dan berkata, "Bolehkah aku memotong antrean, Raina? Aku masih menginginkanmu."
Lenny adalah orang terkaya di ibu kota. Ia memiliki seorang istri, tetapi pernikahan mereka tanpa cinta. Suatu malam, ia secara tidak sengaja melakukan cinta satu malam dengan seorang wanita asing, jadi ia memutuskan untuk menceraikan istrinya dan mencari wanita yang ditidurinya. Dia bersumpah untuk menikahinya. Berbulan-bulan setelah perceraian, dia menemukan bahwa mantan istrinya sedang hamil tujuh bulan. Apakah mantan istrinya pernah berselingkuh sebelumnya?
© 2018-now Bakisah
TOP