img Pesona Liar Sang Pelakor  /  Bab 3 Part 3. Maksiat Di Hotel | 5.45%
Unduh aplikasi
Riwayat Membaca

Bab 3 Part 3. Maksiat Di Hotel

Jumlah Kata:1509    |    Dirilis Pada: 27/07/2023

sapa mertua yang telah tiba di ruang perawatanku.

arapan dan mimpi kami. Cucu perempuan

jadi nenek." Ibuku langsung m

li ini merasa sempurna. Melur memang menantu yang b

berubah menjadi kesedihan sebentar lagi

ita, boleh enggak, ya?

u. Nanti pukul

ar mau lihat, temani ka

idak boleh semb

dari luar, ayolah

a ke ruang bayi, setelah Mas Gil

bahagia dengan kelahiran putriku," k

dekati ranjang, lalu duduk di

gi akan ada prahara bes

ksu

anakku. Bisa saja orang tuamu akan me

a maksudmu?" Dia mencoba menggengam tang

dibohongi. Aku mencium sesuatu ya

kau berprasang

hat saja

*

nya sendiri. Sebenarnya aku sudah mulai bosan dengan keberadaan mereka. Karena hal itu membuatku tidak bebas bersikap k

dia malah semakin bertingkah kulihat. Sekarang tokonya lebih sering ditiggal-tinggal. Dengan alasan menjumpai pelanggan, memantau toko c

na dan kenapa. Hari ini aku putu

ik, mau ke mana, Mel

mar Chika putriku. Matanya

urusan penting," sahut

eh ke luar rumah. Pamali!" protesny

nting sudah sehat." Kuraih kunci mobil dan tas sanda

u nyetir

a,

enggak bareng Gilang, sih? Ke m

ulang tadi malam," s

k yang di cabang, Mel. Kamu

bilang apa-

khawatir, kalau kam

a pintu mobil, lalu m

sanin sih, sama Bik Ina. Tapi, tol

ani yang mencarikannya. Sengaja kusuruh cari yang sudah

as, lalu kembali masuk kedalam

alam tas sandang dengan tangan kiri. Rani rupanya. Sahabatku yang telah kukontak

atan mobil men

i di depan rumahnya. Gadis

elur sudah data

segala. Bakal rame,

itu berjalan menuju mobil. Ked

uh perempuan baru melahirk

Tadi kemari bisa." K

orang, sini

asuk ke jok depan.

suamiku kemarin sore?" tan

panjangnya. "Nih! Lihat sendiri!" katany

a jualan pupuk di hotel, coba?"

ali aja dia memang nemui pel

hotel lho, ini!" ke

Kamu sabar, dong. Jadi nyesel gue ngasih tahu elu,

, aku sabar

au membantumu mencari dia sekarang. Tapi, kalau kamu emosi kek gin

t, aku enggak akan emos

gapain di hotel itu. Toh dia juga sendiri. Ka

dia kemarin tidur di hotel itu, pasti se

tir. Kamu ikut aja, pokonya

ki halaman Hotel yang kami tuju. Seoran

ar di kira kita masuk ke d

mu jadi cerewet gitu, sih!" sahut

parkiran ini, periksa mobil su

? Kita ke sini nyari orangnya, bukan n

pasca melahirkan! Kalau mobilnya ada berarti orang

t mencari. Kami bertiga akhirnya berpencar. Pelataran parkir hotel itu sangat luas, juga padat kendaraan yang terparkir. Mungkin karena hari libur, banya

kembali saja ke mobil. Sepertinya karena selama sebulan ini s

g kekasih berjalan sambil berpelukan keluar dari pintu hotel m

arkir. Mereka berjalan kian mendekat. Aku terpaksa mundur kebelakang. Ak

akang. Ya Allah, berarti dia betul-betul nginap di hotel ini. Ngapain, coba? Bukankah kalau pulang ke rumah juga cuma berjara

kini mereka berada persis di d

adi kap

irip suara Harum. Kalau itu benar Harum, berarti yang laki-laki itu siapa? Mas Gilang? Mereka masih bertemu? K

han Melur, masa Mas harus menjatuhkan ta

mereka sedang membicarakan aku rupanya? Mas Gilang mau mentalak aku, tapi menunggu selapan. Laki-laki bereng

u. Mas Gilang selalu ke kamarku dengan alasan masih sibuk di toko. Kita bisa kelonan sampai tengah m

am kelonan? Alasan Mas Sigit di toko atau

nyingkirkan Melur secara cantik. Udah, ya, Mas antar ke terminal! Kamu langs

uan itu merebahkan tu

siang sampai ini sudah mau siang lagi," Mas Sigit memegang dagu perempun

n, tepat saat keduanya sali

k!" ucapku denga

saling melepaskan peluk

o, buka!" perintahku mas

Gilang me

Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY