img Hasrat Berbahaya Sang Pewaris Duda  /  Bab 7 Bukan Pernikahan Biasa | 8.64%
Unduh aplikasi
Riwayat Membaca

Bab 7 Bukan Pernikahan Biasa

Jumlah Kata:1534    |    Dirilis Pada: 28/07/2023

rna! Aku suka pantulan wajah yang terlihat merona sehat. Tak banyak

rempat penghasilan bulanan habis hanya untuk perawatan

a ketukan di

ahutku tan

berdua saja denganku di apartemen ini. Siapa lagi yang berani m

ta aku

ata ini bertatapan dengan iris

sini ternyata", uj

get melihat

u mandi. Rambutnya yang lurus itu tampak disisir rapi tapi seperti diacak sedikit di bagian atasn

n ludah su

i-laki yang punya daya tarik berlebihan. Berdiri didekatnya s

u adalah salah satu d

tersenyu

ku cepat. Belum terbiasa saja bermanja ri

ngenal rasa kagum yang terpancar di matanya. "Hmm, Kurasa ka

ukenakan. Benar saja, kami berdua sama-sama pakai blue jeans. Bedanya keme

lalu beranjak mengikuti langk

saja, tak ada topik pembicaraan yang sekiranya mampu m

venue pernikahan, namun aneh saja rasanya. Mengingat kami

kita ke hotel?",

, kita langsung kesana", sahutnya s

dengan Joyc

si wajahnya melembut waktu nama ked

atang sore nan

n kedua cucunya memang tinggal di sebuah ko

satu unit yang dimiliki Hartono dalam apartemen

kses juga membawa kami di depan kantor capil. Begitu turun dari mo

erkas-berkas penting, bahkan surat nikah secara agama pun bisa did

dokumen tanpa banyak tanya, lalu kami pun res

biasanya k

akan dimulai pukul enam sore", ujarnya l

ik jendela kaca, memandangi gedung-gedung yang tamp

*

an, tak banyak, hanya 100 orang. Untuk ballroom ya

lu, sebelum akhirnya MC memanggil seorang kerabat dari pihak suami yang memberi kata sambutan singka

ahagia, kami sangat menanti

ang yang dimintanya untuk tersenyum lebar, mana mungkin dia ber

ampu membuat seluruh dekorasi di rua

lkan senyum kecut. Bisa dipahami, mengingat sebagian besar putri konglomerat yang hadir disini pe

ja pernikahan ini di

ono dengan suara seraknya yang terden

dukungannya yang murah hati ini

apkan. Kini giliranku pula menyuapkan kue padanya. Akhirnya

ka kebanyakan keluarga sudah memakai teh biasa bahkan teh instan, ibu mertuaku entah dengan alasan apa, berkeras memakai

berhasil menjadi menantu berk

a Lim. Beliau tersenyum meminumnya lalu memberikan angpao seraya berucap, "S

, Popo", bal

ang harusnya disapa sebagai shu shu olehnya. Saat ini b

ngkal aku juga tak suka dengan fitur wajah beliau. Mata memanjan

apun, hanya seulas senyum. Istrinya yang duduk di sebelahnya juga mengucapkan beberapa

ndas dalam opera sabun yang kerap ditonton emak-emak berdaster di waktu luang. Dari sorot matanya

yang empuk. Lega rasanya bisa lepas dari momen yang melelahkan tadi. S

ajakku berdiri dan bersala

u ramah. Orang-orang ini memandang rendah kaum

enggoda tanpa berusaha? Jelas momen ini. Aku benci setengah

ang dalam ini semestinya sudah cukup men

panggung tentu mertua dan kedu

erut, tak ada yang bisa dicela dari fitur wajahnya. Dengan langkah man

angannya agar berdiri di sebelahku. Lekas dia menarik

seperti kakaknya, Joan meski terseok mengikuti langk

nenangkan hatiku, "sabar ya Shan, mereka butuh w

ada penolakan dari Joyce. Yah, siapa suruh aku berperan jadi i

a dibanding penolakan orang dewasa.

ak yakin setan apa yang merasuki Hartono hingga mau menikahi entitas ta

ari sejak kecil dulu, karenanya aku sudah kebal. Senyum manis

. Tak seperti penampilan sinis di rumah sakit, kali ini dia

am korang ni boleh dapat good catch"

ra kami ini kawan akrab, kalau bukan

u. Lagipula saat ini sebaiknya kau memang

mengeras dibalik kacamata yang dia pakai. Menarik sekali b

elum tahu lagi for how long yo

an penuh dengki.Tak heran memang. Manusia in

doa baiknya", ba

nggun mengikuti pasangan paruh baya, yang adalah paman dan bib

lum. Dimana-mana kerabat penguasa s

Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY