img ANAK KETIGA  /  Bab 1 Bagian 1 | 9.09%
Unduh aplikasi
Riwayat Membaca
ANAK KETIGA

ANAK KETIGA

img img img

Bab 1 Bagian 1

Jumlah Kata:3022    |    Dirilis Pada: 26/04/2024

i. "Saya kenal wanita itu! Dia, kan sering muncul di kantor polisi!" kata Naim. Dan dengan setengah berlari dia menuju ke teras rumah bapaknya. Membuat wanita itu terkejut dan melepas pelukann

cukup luas. Rama mengucapkan terima kasih dan mencium tangan semua orang dan kemudian dia segera berlari ke lapangan dan langsung bermain dengan teman-temannya.Fiki menghela napas berat."Kasihan, ya?" bisik Faza. Fiki tersenyum."Iya! Dia masih kecil dan sudah begitu dewasa. Menurutku hidupnya pasti berat, ya?" kata Naim.Mereka berpandangan lagi. Fiki masih diam dan tak berkata-kata. Dia teringat pada masa kecilnya sendiri, yang mungkin hampir seperti Rama, apa-apa dilakukan sendiri, tanpa kehadiran seorang ibu, apalagi setelah ayahnya meninggal.Ah! Kehadiran Rama seakan mengingatkan Fiki pada masa lalunya.****Sholat Subuh pertama di pesantren dalam keadaan yang mengantuk tiada tara. Nay berusaha menahan kuapnya. Tapi tidak bisa. Dia menguap dan akhirnya menyerah dalam tidurnya.Padahal ini adalah sholat Subuh pertamanya di pesantren ....****Mutia buru-buru membantu beberapa orang santri akhwat yang mengangkat temannya yang pingsan ketika sholat Subuh."Siapa namanya?" tanya Mutia."Nayaka, Ustadzah.""Dari blok mana?" "Blok C-2, Ustadzah. Yang dekat dengan tangga naik."Mutia mengangguk."Kita bawa ke ruang rawat dulu, ya?" kata Mutia. Teman santri akhwat dan tim kesehatan mengangguk dan segera membawa santri bernama Nay itu ke ruang rawat di bagian dalam pesantren. Cukup jauh dari masjid.Dan, ya, begitulah. Hari kedua tahun ajaran baru di pesantren. Mutia menghela napas panjang ketika akhirnya mereka berhasil membawa Nay ke ruang rawat. Mutia segera menghubungi seorang perawat yang menjadi istri salah satu ustadz, yang rumahnya ada di belakang pesantren. Kurang dari lima menit, perawat bernama Irawati sudah memeriksa Nay.Setelah memeriksa Nay, Ira keheranan. Dia memandang Mutia."Ustadzah, santri ini tidak pingsan!" kata Ira, "dia tidur!" kata Ira lagi.Mutia mengerutkan keningnya."Nopo leres, Mbak? (Apa iya, Mbak?") tanya Mutia sangsi. Ira mengangguk. "Napasnya sangat teratur dan pelan. Detak jantung dan denyut nadi semua normal. Dan kalau kita bangunkan, pasti santri ini akan segera bangun. Kita coba, ya, Ust?" Mutia mendadak menjadi ragu, tapi kemudian dia mengangguk juga, karena Mutia berpikir, bahwa Nay juga harus segera sholat Subuh lagi."Njih, Mbak, silahkan!" jawab Mutia.Ira segera menepuk bahu Nay."Mbak Nay! Mbak Nay!" Ira memanggil Nay. Nay nampak menggeliat perlahan. Persis seperti orang bangun tidur."Lima menit lagi, ya?" jawab Nay.Ira memandang ke arah Mutia setengah tertawa. Dugaannya benar."Mbak Nay, sholat Subuh dulu, ya!" panggil Ira lagi.Nay membuka matanya. Dia terlonjak kaget ketika dia melihat Mutia dan beberapa teman yang mengelilinginya. Matanya terlihat panik dan tak membutuhkan waktu lama, Nay langsung menangis."Ustadzah?" "Iya, Nay! Tidak apa-apa! Sholat Subuh dulu, ya! Nanti kamu istirahat di sini dulu, ya?" kata Mutia menghibur Nay.Nay mengangguk dia bangun dan dalam posisi duduk, dia memeluk Mutia."Ustadzah, tolong Nay, Ustadzah! Semua terjadi lagi, Ustadzah!" ****Kinanti melepas kacamatanya. Dia melihat Daffa tak percaya."Kowe serius, Mas? (Kamu serius, Mas?") tanya Kinanti.Daffa mengangguk. Dia menyerahkan selembar surat pada ibunya. Kinanti membaca surat itu dengan teliti. Dia mengembalikan surat itu pada Daffa. Wajah Kinanti berseri-seri."Ibuk suka, kan, Bu?" Kinanti mengangguk bahagia. Air mata mulai menetes di pipinya. Kinanti memeluk Daffa erat."Jazakallah, ya, Mas!" bisik Kinanti."Sama-sama, Buk! Tapi sementara aku tinggal di sini, ya, Buk! Sampai aku dapat rumah atau apartemen sendiri," kata Daffa.Kinanti mengangguk bahagia. Dia sebenarnya sangat ingin menyuruh Daffa agar tinggal di rumahnya saja dan tidak usah mencari kost atau apartemen, tapi Kinanti tahu pastilah Daffa tidak mau karena malu dengan adik-adiknya dan juga sepupunya."Oh, ya. Satu lagi, Buk!" kata Daffa, wajahnya menyiratkan suatu rahasia dan sebagai ibunya, Kinanti tentu saja mengetahui sorot mata itu."Apa, Daf?" Daffa tidak langsung menjawab, dia malah menengok ke sana ke mari mencari sesuatu."Cari apa?" "Bapak mana, Buk?" tanya Daffa. Kinanti mengerutkan keningnya."Sepertinya bapak sedang rapat di masjid. Ada apa dengan bapak?" tanya Kinanti, "apa nyuruh santri manggil bapak?" "Eh! Nggak usah, Buk! Nggak papa, kok! Daffa bilangnya sama ibuk saja, ya, Buk! Nanti ibuk yang bilang sama bapak," jawab Daffa buru-buru. Dan jawaban Daffa berhasil membuat Kinanti berdebar tak menentu."Ono opo, to, Daf? Kok marai ibuk deg-degan! (Ada apa, to, Daf? Kok membuat ibu deg-degan!)" kata Kinanti. Daffa tertawa."Maafkan Daffa, ya, Buk. Sebenarnya alasan Daffa pindah ke sini bukan karena Daffa di terima di Rumah Sakit Bedah saja, tapi sebenarnya karena alasan yang lain. Maksud Daffa, Daffa melamar ke rumah sakit itu setelah alasan sebenarnya Daffa pindah ke Karang Pandan sudah benar-benar mantap dan sudah fix."Kinanti mengerutkan keningnya lagi. Jantungnya masih berdebar kencang. Tapi Kinanti tidak bertanya, dia hanya menunggu keterangan Daffa."Aku ... aku ... aku sudah bertemu dengan seseorang yang cocok untukku, Bu! Insya Allah, semoga bapak dan ibu merestui," kata Daffa pelan, doa agak menunduk.Kinanti menelan ludah, dia memandang anak sulungnya itu dengan seribu satu rasa di dadanya."Maksud kamu, kamu pindah ke sini karena wanita idamanmu itu ada di sini?" tanya Kinanti. Daffa merona dan mengangguk malu."Njih, Buk," jawab Daffa pelan."Oh, Alhamdulillah," bisik Kinanti bahagia, sangat bahagia, "namanya siapa, Daf? Rumahnya mana?" Daffa tertawa mendengar pertanyaan beruntun ibunya."Namanya Gina, Bu. Rumahnya di Jambean," jawab Daffa.Kinanti mengangguk. Jambean adalah daerah elite di Karang Pandan."Kenal di mana?" "Dulu teman SMA Daffa, Buk. Dia sempat bekerja di Karang Legi tapi kemudian pindah ke sini, Bu. Tapi ... tapi ada hal lain lagi yang akan Daffa sampaikan," kata Daffa lagi. Kinanti menilai wajah Daffa. Wajah Daffa yang tadinya cerah dan berbinar kini nampak agak khawatir."Kenapa, Daf?" tanya Kinanti lembut. Daffa tersenyum. Dia begitu merindukan kelembutan dan senyuman hangat ibunya. Dan ketika Daffa melihat keduanya, air mata berebutan keluar dari matanya. Daffa tidak bisa menahan air matanya lagi. Dia terisak menumpahkan semua emosinya. Kinanti begitu terkejut melihat air mata itu."Astaghfirullah! Apakah ada hal buruk tentang Gina yang harus ibuk ketahui, Daf? Istighfar, ya, Daf!" kata Kinanti lembut, dia juga menangis, tapi dalam keheningan. Daffa semakin tak kuasa, dia tahu sekali ibunya selalu menangis dalam diam. Dia tahu bahwa ibunya selalu menangis tanpa suara, dan itu membuat Daffa semakin tersiksa. Mereka berpelukan. Daffa akhirnya mencoba menenangkan dirinya. Dia menghapus air matanya dan memandang ke arah ibunya nanar."Gina seorang janda, Buk. Dia sudah pernah menikah dan sudah punya anak."Daffa menghela napas lega. Semua beban yang selama ini dipikulnya, kini sudah dijelaskan kepada ibunya. Sekarang Daffa pasrah dan terus beristighfar dalam hati. Dia siap menerima apapun keputusan ibuny

Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY