1
an di atas kap selayaknya tengah berada di kursi santai. Seharusnya Putra tiba di rumah
Putra membutuhkan tempat tenang untuk bernafas dan jembatan kosong ini adalah tempat yang sesuai baginya. Gelap dan sepi, tena
dalam benak, tapi perasaan pemuda itu bercampur aduk di antara marah, sedih dan penuh ragu. Tidak ada tem
an yang lain meraih beer baru yang duduk bersamanya. Terlihat sudah lebih dari tujuh kaleng tergelet
lakukan dua orangtuanya? Mungkin itu s
bergegas meraihnya. Nama Bianca menyembul di layar saat Putra melirik dan dia menekan tombol hijau untuk men
erempuan cantik dari seberang
dulu guna menenangkan kepala yang berdenyut. Mata terpejam
yangkan dua bola matanya melebar sempurna sampai seolah akan jatu
empatnya tinggal dan ini sudah larut malam. Mengapa Bianca cemas ...? Itu mungk
rambut pirang sepanjang bahu dan tubuh yang tinggi yang putih. Dia terkadang cerew
beer yang dibuka tadi. Dia menjatuhkannya ke tanah sebelum melanjutk
betapa bahaya di luar sana sendirian? Bagaimana jika kau dirampok?
Kepala berputar, pemuda itu seperti
ar seperti ancaman dan dia tidak bercanda. Bianca tahu lokasi Putra dan ia sudah bers
au Putra. "J
ulit, dia bergegas keluar dari rumah dan memasuki mobil. Panggilan masih terhubung saat dia meme
nsel. Pemuda itu meletakkan benda pipih canggihnya ke atas dada sebelum memperbaiki posisi b
suaranya masih terkesan pelan dan lembut. Perempuan itu menginja
a lagi, matanya sudah ti
erlontar dari mulut Putra, sampai sangat jelas di telinga. Bianca me
sik. Di dalam kepala, terngiang-ngiang kejadian tadi saat di mana d
al apa yang menggangu hati Putra, dia hanya ing
di mana Candy dan ayahnya saling menatap dan tersenyum mesra. Ingin rasa
yang Candy takutkan adalah malam pertama bersama seseorang yang telah ia
da sedikit kelegaan dalam dada. Candy tidak diizinkan tidur di ata
C membuat tubuh Candy menggigil, tidak bisa tidur sama sekali. Candy dilarang menyentuh semua bara
sudah berkata akan menghukumnya mulai sekarang dan entahlah apa yang
duduk, secara perlahan mendongak guna memastikan sang suami yang sedang tertidur pulas di tengah-tengah ranjang. Beta
memutuskan untuk meninggalkan kamar. Pintu dibuka sangat pelan agar
diri, perhatian malah disita oleh Putra di ruang tamu yang tidak dinyalakan lampunya. Pintu rumah yan
sofa mewah. Sejuk di kulit Candy mendadak lenyap, digantikan oleh hawa panas saat perempuan itu jat
mpai membutuhkan beberapa saat untuk mengatur nafas. "Putra, bangun," panggil Bianca se
y tidak tahu mengapa ia membeku, tapi perempuan yang membawa Putra pu
n kontak mata pun bertemu. Candy memutuskannya dengan menatap Putra ya

GOOGLE PLAY