img Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan  /  Bab 4 Saya harap kamu bisa tenang | 7.02%
Unduh aplikasi
Riwayat Membaca

Bab 4 Saya harap kamu bisa tenang

Jumlah Kata:1009    |    Dirilis Pada: 09/09/2025

isi miring, rambutnya berantakan, wajahnya yang polos tampak lelah setelah semalam dipaksa menjalani pesta pernikahan

ngantin itu. Setelah selesai, ia duduk sebentar, menatap Raina yang masih terlelap. Ada rasa tanggung jawab yang berat di pundaknya, tapi wajahnya

engambil beberapa setel pakaian dari lemari, memasukkannya ke dalam koper bes

-acakan, kaos tidurnya longgar. Begitu matanya menatap punggung Fahri y

pagi-pagi gini?" seru Raina, suaranya

etap datar, tidak berubah sama sekali

rburu-buru, lalu berdiri di depan Fahri. "Apaan? Ikut? Gue nggak ada rencan

inya yang masih seperti singa baru bangun tidur. "Sekarang kamu ist

"Lu pikir gue mau tinggal di tempat yang penuh

ya menarik napas panjang, lalu berkata pelan namun tegas, "Kalau kamu menolak i

ang. Ia tahu, papahnya pasti akan lebih marah jika mendengar itu. Pap

a bergemeletuk menahan kesal. "Sialan...

ancam. Saya hanya mengingatkan. Kamu sek

pernah minta nikah sama lu, Fahri! Gue masih pengen bebas, gue masih pengen balapan, n

ng lagi. "Raina, saya tahu ini berat buat kamu. Tapi kamu harus

buk kerja terus. Gue cuma punya temen-temen gue. Balapan itu satu-satunya cara gue ngerasa hidup. Seka

benar marah, sementara Fahri tetap

Fahri tenang, "saya akan bicara

kali melawan. Tapi bayangan papahnya yang tegas dan keras kepala membuatnya

"Arghh! Gue benci banget sama situasi ini! Fine, gue ikut! Ta

ngangguk pelan, lalu berkata, "Baik. Kalau begitu, si

k punya barang yang cocok buat tinggal di pesantren lu. Baju gue semua pendek-pe

inya. "Saya sudah duga. Mulai sekarang, saya ingin

gue siapa? Gue bukan boneka lu yang bisa lu dandani seenak jidat! Gu

belajar. Saya akan bantu. Tapi

dup bebas, gue balapan, gue nongkrong sampai pagi, gue nggak peduli sama omongan orang. Dan sekarang lu mau

mun tidak menghakimi. "Saya tidak mimpi, Raina. Saya hanya

eriak, "GUE NGGAK BUTUH JALAN YANG LEB

eberapa pelayan di luar kamar sampai m

alau begitu, siapkan d

h, tapi ia buru-buru mengusapnya kasar dengan punggun

suci..." gumamnya d

nya meraih kopernya, lalu duduk sebentar

an tanpa peduli. Ia melempar-lempar baju ke dalam tas dengan kasar,

"Terima kasih sudah mau menyiapkan barangmu. S

sendiri ke arah pintu. "Tenang pala lu!

a yang menantinya di pesantren. Takut kehilangan jati dirinya. Dan mungkin...

Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY