/0/34541/coverbig.jpg?v=b69d8249f1454eb0720980e2fe2fa4c7)
tinggi seketika
ngi jendela, menciptakan kehadiran yang gelap dan menyesakkan di atas ranjang
hangatan sedikit pun. "Apakah ini strategi barumu untuk menghin
elalui tenggorokannya yang kering. Ia menyusut ke bantal, me
. Ia mengulurkan tangan dan menekan jarinya k
nya-penglihatan mengerikan dari komanya. Kehancuran Keluarga Wijaya. Kematiannya sendiri yang me
ikirannya. Dia masih memarahiku karena pewaris palsu Gisela itu. Dia bahk
i tombol plastik. Buk
dan gelap terkunci pada wajah Elara. Ia memi
lehernya. Ia dengan cepat memejamkan mata,
Tidak ada pengeras suara. Tidak ada orang l
angan palsu, Elara mengeluh dalam benaknya, matanya tetap terpe
epala Aditya. Itu bukan suara di ruangan itu. I
i ranjang dalam dua langkah panjang
menatapnya dengan ketakutan murni. Ia menggigit
nya desisan rendah dan berbahaya. Ia mendekat, rahangn
ngkan kepalany
pakah dia akan mencekikku sampai mati se
ngan tangannya seolah-ola
nding plester yang dingin. Ia menatap tangannya sendiri, napasn
ter yang merawat bergegas mas
k di atas Elara. "Nona Wijaya, bagaimana
sik Elara. Suarany
kspresi patuh dan penu
i otaknya lagi. Aku pasti gegar otak karena
. Ia diberitahu Elara terpeleset. Gisela menangis
meraih kerah jas putih dokter yang meraw
perintah Aditya, suaranya bergetar karena kemaraha
engkeram pergelangan tangan Aditya. "Y-ya, Baprgegas maju, dengan hati-hati membant
eka memindahkannya,
u menemukan penyakit mematikan. Aku tidak ingin tinggal
nya jauh ke dalam saku celananya, mengepalkan jari-jarin
nya. Ia mengeluarkan ponselnya dengan tangan kaku dan mengetik pesan kepada asisten eksekut
GOOGLE PLAY