img Istriku Kuyang  /  Bab 7 Bimbang | 35.00%
Unduh aplikasi
Riwayat Membaca

Bab 7 Bimbang

Jumlah Kata:991    |    Dirilis Pada: 05/01/2022

mil

ngucapkan doa. Ternyata semua itu hanya kedok belaka. Malamnya Sinta mengeluh sakit perut, wajahnya berubah pucat dan tak lama ia menghembuskan nafas terakhir

mbara. Tak akan lekang dimakan usia. Itulah mengapa aku begitu gencar untuk menolongmu

a harus segera kita hentikan!"

, nanti malam kita laksanakan

*

sedikit was-was aku melangkah mengendap-endap menuju rumah Arini,

in semilir dingin menusuk hingga ke tulang. Kilatan cahaya di langit menambah suasan

datang dengan kepala dan ususnya. Aku masih sangat trauma melihat

Seperti tak ada aktifitas di sana. Ke

ulihat Arini sedang tertidur pulas. Tak nampak sesuatu yang mencurigakan. Lam

dian berdiri di belakang pintu dan menghadap ke arahku. Beruntung sepertinya ia tak

lanya kemudian memutar dan bergerak ke kiri dan ke kanan. Ku

Kretek!

rah seperti darah, ia mengerang. Tubu

Wuzz

jeroannya. Di dekat hatinya nampak sinar sep

ala kepala Arini terbang melesat di atas kepalaku. Jantungku ras

langit malam. Ia terbang tinggi entah kemana. Tubuhny

kepala itu di depan mataku. Namun, sesuai pe

amar Arini. Perlahan namun pasti, jendela itu terbuka tanpa

i pintu. Kuperhatikan tubuh itu dengan seksama. Amat mengerikan. Tubuh

arik pelan-pelan agar ketika j

Bru

nimbulkan suara yang lumayan kuat. Darahku

ap-dra

amarku. Tak salah lagi. Ini pasti si Ibu. Terd

sampingku. Duduk diam dan terpaku. Sengaja aku membuka

Brak

hat dengan marah, seperti tau ada yang tidak beres dengan anaknya. Matan

iap sudut dan mengendus setiap benda. Ku perh

. Aku meringkuk di balik baju-baju Arini. Sempat ku lihat tatap

a hampir saja menyentuh rambutku. Beruntung

uh Arini yang diam terpaku. Ia menengadahkan tangan seperti seseorang yang

epalanya berputar dan bergerak ke kanan dan ke kiri

retek!

hhhh ...

sama seperti desisan yang kudengar dari

uzzz

anya. Matanya merah menyorot keluar kamar seperti mencari mangsa. Li

g. Tubuhku bergetar hebat melihat kengerian yang semakin sering kulihat. Ia pun melesat

Krek

lillah," ucapku merasa lega terbebas dari man

uhnya yang langsing. Ku seret hingga menuju bawah ranjang. Seperti titah Ibu pemilik warung , aku ha

u balik kan tubuh A

Brakk

da itu kemudian menggelinding dan jatuh ke

hingga tertelungkup. Aku kembali berbalik

Wuzz

uncul. Membuat suasana semakin mencekam untukku. Mataku mulai mengedar ke segala

menyeret kaki dan menahan ludah karena ketakutan yang luar biasa. Baru

gan sentuh

Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY