img Istriku Kuyang  /  Bab 6 Fighting | 30.00%
Unduh aplikasi
Riwayat Membaca

Bab 6 Fighting

Jumlah Kata:1106    |    Dirilis Pada: 05/01/2022

mil

"Istriku

ar

na Dewi

Ayah seraya menyerahkan sebuah kayu berukuran sejari kelingking orang dewa

kan bisa mencelakaimu," jelas Ayah kemudian. Ia lalu meme

r mata sempat mengalir tanpa bisa kutaha

gimu. Bagiku kamu menantu yang Ayah idam-idamkan. Itula

iba, biasanya saat seperti itu Arini

a," baik Ayah, terimakasih banyak u

gkah dengan cepat sembari memburu waktu karena

eolah ini lah gandengan terakhir untukku. Ya, ayah Arini memang

Sinar bulan berpendar menjadi penerang bagi kami

mpat beranjak masuk ke dalam mobil yang terparkir, kepala melayang itu

ini menghadang jalanku dan Ayah. Mereka menyeringai s

an, Arini!"

ta jeroan itu tetap mendekat dan menghembuskan udara ke ara

Bruk

atuh di atas tanah yang d

m kekalutan doa sempat kupanjatkan. Tapi sayangnya

mengusirku, karena aku bukan hantu! He-

ya sekitar sepuluh meter. Bau anyir darah mulai

tak akan mencelakaimu, aku sungg

i Arini, tapi tetap saja yang kulihat di hadapanku ini a

sampai di sini. Izinkan aku pergi ,"uc

ka kau harus mati dan menjadi santapanku!"

uatku tertidur sama seperti Ayahnya tadi. Namun dengan si

a. Segera berbalik dan berlari sekuat tena

Jarak mereka sekitar tiga puluh meter di belakangku.

dok-

angun-b

mataku tiba-tiba membesar melihat seseorang tegak sembari menggedor-gedor k

buka!" teri

l. Ia dengan lirih berkata," cepat pergi d

ar masih sepi. Remang-remang belum tersentuh sinar matahari pagi. Berarti aku mungki

ku, aku pernah bertemu dengannya. Ketika kami berhenti di sebuah wa

u tak akan bisa mencium keberadaanmu. Aku

Mataku memang sangat mengantuk. Akupun segera

*

di atas kepala. Sinarnya menyengat kuat pe

lai terkumpul kembali. Ibu warung datang menghampiri,

nya. Ia tersenyum dan menatapku iba. Duduk mengha

mengungkapkan satu demi satu cerita tentang keluarga Ari

u Ibu mau solat subuh, tak sengaja melihat benda melayang terbang

ebenarnya. Penciuman mereka amatlah tajam. Mereka bisa dengan mudah

us bagaimana, Buk?"

selamat, pilih nyawamu atau nyawanya," ibu men

sedot olehnya. Kau sudah lihat sendiri buk

tu. Antara cinta dan takut membuatku dilema. Jujur aku mas

a kau ingin selamat, kau harus m

k jauh dari rumah si Ibu. Di sana aku pernah merasa bahagia, nya

g harus aku lakukan,

"Kau ha

nnya. Karena jika kamu bersikukuh tetap membiarkannya hidup, hidupmu tak akan t

dadaku. Entah apa salahku masuk ke dalam lingkaran hitam in

pi inilah awal dari perjalanan hidupmu. Aku hanya ingin men

" selidikku. Penasar

atan mereka," jawabnya dengan pandangan mata ke atas .

memberi semangat kepadaku. Ternyata dia adalah

aku bisa tau lebih banyak tentang

ucu pertamaku, aku sangat bahagia. Menunggu kelahira

Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY