img KIBAS DASTER BUNDA  /  Bab 6 Gejolak Dompet | 4.84%
Unduh aplikasi
Riwayat Membaca

Bab 6 Gejolak Dompet

Jumlah Kata:2027    |    Dirilis Pada: 14/01/2022

ah-tengah sedang goreng ikan, listri mati karena token lupa diisi dan pas lihat anggarannya cuma bisa beli yang seratus ribu, kepincut rayuan gombal tukang

ihat Dona berlari sambil menggen

Dona. Silvi melihat kaki Akasia yang merah seperti mengelu

dokter didekat rumah mereka. Hanya berjarak sepuluh rumah. Dua wanita itu ta

angguk. Akasia sudah tidak menangis lagi, karena sudah di bius untuk menghilangkan nyeri saat dijahit. Panjang l

ut sendiri." Dona duduk diruang tung

na?" tanya Silvi yang ju

arang, duhhh... gue nggak becus banget jaga anak, Sil."

jalannya, yang penting Akas udah di

n heran. Silvi sudah sadar. Namun ia masih dalam mode kalem. Tak lama, Akasia berjalan keluar dibantu asisten dokter. Ia lalu m

Dona yang mengeluarkan dompet dari kantung daste

ona mengangguk dan mengeluarkan uang enam ratus ribu. Petugas i

kelas 3 SD itu yang bertubuh tak begitu tinggi seperti saat Dimas seu

ntik pakai daster ya!" sewot Silvi. Dona menarik t

*

entara Silvi mengusap kepala Akasia, i

Sakura bersamaan. Mereka m

panik. Dimas mengambil alih

an plastik obat ke tangan Sakura. Ia dan Putrinya sudah tidak perang dingin lagi, Sakura perlahan juga mulai seperti sedia kala.

an." Silvi memang memanjakan Akasia, karena ia merasa mulai kesepian saat anak satu-satunya memilih

g banyak ya, Akas." lanjut Sil

i, cemilan." S

asia ikut menyahut. Dona menjewer kuping dua anakn

ket, yok!" Ajak Silvi. Do

a. Wanita itu mengangguk. Sakura merapihkan tempat tidur Akasia yang tidur satu kamar dengan

inggir-minggir ya, takut ada serpihan beling! Bunda lagi pung

-anaknya jika sudah memakai atau membawa sesuatu yang berbahan beling atau keramik. Karena presentase kerugian akan lebih besar, apa lag

memang dana kesehatan, tapi awalnya ia ingin gunakan untuk membayar biay

menatap saat mereka melihat Dona berjalan ke dap

letakkan lauk ayam gulai ke piring Sakura.

aja.

i marah kalo gue bilang ke elo. Tapi, jujur ... Kak, lebih

n dulu," u

*

t rumah mereka, keduanya duduk di sana. Bunda sedang mencuci pakaian walau mesin

ini." Dimas menatap Sakura yang membuat kakaknya

bersedekap. "Lo bisa ya, ngomong Bunda norak, kamp

lo!" cele

tu duduk di warung nunggu lo sama ayah. Ada mereka, bagusnya mereka nggak sadar gue adek lo dan wanita y

di Bunda suatu hari nanti. Lo digituin sama anak l

ari sekarang biar gue bisa jadi wanita yang lebih hebat dari Bunda.

korbanin demi anak-anaknya? Lo mikir ngg

Dim. Gue nggak suka lo

a, kalau lo nggak suka sama Bunda kita yang lo bilang norak. Sikap dan ucapan lo jaga. Otak lo cerdas dan pi

Siapa yang lo giniin sikapnya. Dan Algen, gue lihat lo deket atau

aan tentang Algen. Suara mobil yang mereka

Mami dong!"

wab Sakura da

umah Silvi yang di dep

pi kalau lo salah, mau lo lebih tua dari gue. Gue tegor!" Dimas meninggalkan S

*

mah Silvi sambil memakan rujak yang dibeli dekat supermarket. Dimas dan Sakura sumring

k gue lagi kan, Sil, elo bi

ilvi. Dona mendong

terkekeh. Ia akan kalah kalau berdebat

alu lo, lo kasih ke kucing juga ngg

ke Dona sambil mengunyah buah mangga yang asem. Sampai-sampai

t. Diketekin dulu kali ya, sama dia," celetuk Silvi yang mulutny

asa udah sa

ua

n?" Silvi menunjuk ke

ada kesempatan." Dona diam. Ia men

ta tetep rahasiain ini. Gu

antai dua rumah. Silvi beranjak. Ia berj

ai dua. Lantai dua rumah Silvi hanya ada dua kamar. Satu kamar anakny

ajah wanita tiga puluh sembilan tahun itu. "Gue yang atur

h gagal, Sil."

o kangen mereka, kan?" Silvi memasukan kunci ke lo

n kalau pembantu gue udah pada tidur

, kr

n halaman kecil, ia sudah memastikan lebih dulu sup

u. Terang. Ruangan itu terang. Silvi dan Don

Don?" Silvi me

emua dari sepuluh tahu

belum di jalanin, Dona." Silvi menatap raut wajah Dona ya

da yang

. Tenang,"

tang gue ya,

! Greretan gue. Kita mulai lagi demi ketiga anak lo

saling melempar senyum. Dona melangkah menuju ke satu titi

samanya, ya

*

ah. Dimas keluar dari dalam rumah. Bersandar di pintu sambil bersedekap

Dimas duduk

Mamen," ja

lai

ong, mere

ama lo, Dil," ucap Dimas s

nya buat lo semua dan --"Fadil berhenti berbicara sejenak. "Ada

inya?" ta

dil gitu, pak

kalau gitu,

reka, ya. Pegang amplopny

s celingukan, ia memasukan amplop itu ke saku celana pen

inya lumayan juga kan?" Fadil be

baru buat Bund." Mendengar jawaban itu, Fad

kin gue na

anter gue ke toko baju, jang

yang biasa Kakak gue datengin aja. Barangnya bagus ta

sam

img

Konten

img
  /  2
img
Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY