n perhatiannya kembali kepadaku. Dia memberi isyarat kepada dua
tya mengumumkan kepada para penontonnya. "Mari kita i
aku. Rasa dingin semakin menusuk, terasa seperti pukulan fisik. Mereka melangkah masuk, wajah mereka tanpa ek
u memperingatkan, suara
keram lenganku. Aku memberontak, menendang dan menggeliat, tetapi sia-sia.
i ruangan sempit itu. Mereka merenggutnya, meninggalkanku hanya dengan pakaian dalam, tersing
matanya menyapu perut buncitku. "Bunti
Rasa malu membakar diriku, lebih p
tu dan air sedingin es menyebar menjadi genangan luas di dekat kakiku. Rasa dingin dari lant
ingin itu adalah rasa sakit yang membakar, bagaikan ribuan pisau kecil yang menusuk ke dalam tubuhku
u bisa merasakannya. Penderi
suaraku tercekat. "Bayiku
kilatan di mata Aditya. Mungkin ker
angan yang lembut di lengannya. Dia menatapku, m
ngan kepedulian palsu. "Aditya, sayang, mungkin
itujukan kepadanya, sebuah manipulasi halus. Dia memos
bangkit, gerakan itu membuat kulitku terkoya
melihat kebencian murni dan tak tercemar di dalamnya sebelum dia
dulu," kata Dewi lembut, suaranya tercekat. "Begitu din
h rasa kemanusiaan yang singkat itu hi
peduli pada siapa pun kecuali dirinya sendiri. Dia harus diber
menarik sebuah jepit rambut kecil berhias dari rambutnya dan, sambil meringis, menusuk t
sakit yang dibuat-buat. "Dia begitu kejam... dia membuatku sangat stres, maag l
egitu teatrikal, hingga seharusnya menggeli
ihat apa yang kau lakukan? Kau menyakiti semua
osong. "Ambil lagi. Lebih banyak es. Lebih banyak air. S
mar-samar kukenali, melangkah maju. "Aditya,
pernah peduli dengan kesehatanku," bisiknya kepada Aditya, cukup k
menatapku, terperangkap dan membeku di la
perintahnya

GOOGLE PLAY