El
h kecil di atas ubin yang berkilau, tetapi tak seorang pun berhenti untuk membantu. Aku adalah
reka menembus dinding
suaranya melengking dan kekanak-kanakan. "Aku merasa ti
," janji Raka. "Aku akan m
ya Wulan. Itu adalah jebak
n pisau bedah. "Dia tidak stabil. Rasa cemburunya bera
yah mengajari Raka memancing. Tempat Ibu mengajari Arka mengenal
pat itu milik
g, memegangi kakiku yang berdarah. Sesaat, tatapannya tertuju pada darah itu. Sekilas
, dan dinding pembatas i
ambil memeriksa jam tangannya, "aku in
yaku, suar
nya, Kamar Utama, tetapi Raka menyimpannya sebagai tempat penghormatan untuk
anaman obatku. Kamar yang dicat kuning oleh Ibu k
ambil menatapnya
amu hanya tamu di sana. Beban, lebih tepatnya. Ke
an patahan yang keras. Rasanya hening,
ah," k
ngharapkan air mata. Dia tidak tahu harus berbuat a
ah?" u
h," kataku. "Ni
uju lift. Aku tidak menoleh ke belakang. Jika menoleh, aku mungkin
pelayan menatapku dengan iba, tetapi m
tuaku. Aku mengambil surat penerimaanku. Aku mengambil diska kerasku yang b
un-tahun lalu. Aku meninggalkan buku-buku kedoktera
emasi sa
mbi. Rumah itu sunyi. Mereka akan ber
megang setumpuk paspor. Dia be
ibirnya. "Mau pergi ke mana? Menangis di rumah
ohongku. Suaraku mantap. "Kalian meng
mengenakan gaun sutra yang ku
gan kakiku membaik!" Dia tersenyum berseri-seri. Dia m
" ka
lalu menatap wajahku. Serigalanya, binatang hitam raksasa di dalam dirinya, tampak
t liburan kelua
ngundangku," aku
u Raka. "Kami akan kembali dalam dua minggu.
n ada di sini,
aiki sikapmu. Jika kamu belum kembali saat kami p
h," kat
lik mengh
ra?" pan
nganku berada di
n membayar asramamu. K
ahu,"
di luar berwarna abu-abu
ntarkan kata itu sepe
u yang berat itu terbanting menutup di be
tidak punya rumah. Aku tid
kalinya dalam sepu

GOOGLE PLAY