El
langsung turun bagai air bah. Langit terb
odanya tersangkut di kerikil. Lututku yang sakit menjerit
. Arka sedang berdiri di balkon lanta
e kulitku. Aku menggigil hebat. Air mengalir di kakiku, b
ksikannya ke arah rumah. Kumo
elah memblokir tautan batin itu lagi. Dia hanya menonto
ampaknya. Aku tersandung. Pegangan koper terlepas dari genggamanku. Aku
angkit. Kekuatan
hujan, kudengar pi
Dia jatuh! Haruskah ak
di sana, memegang payung hitam be
. "Biarkan dia. Dia melakukan ini demi mencari perhatian. Kalau ka
knya kembali ke dalam. Pintu balko
ian di ten
Jadi begini akhirnya, pikirku. Aku mati d
mobil membel
enderu menaiki jalan masuk. Itu bukan mobil kawanan.
erhenti hanya bebera
ar. Seorang pria
predator yang membuat hujan seolah melambat. Dia t
mpingku. Tangannya
A
menyambar tanah-pe
yat dan melahap, meledak dari titik sentuhan tersebut. Rasa itu menjalar
ang biasanya tumpul
ah badai salju. C
aling memabukkan y
k kebakaran itu, tiba-tiba mengangkat kepalanya di kedal
meng
LI
endongak menatap mata sewarna awan badai-k
melebar hingga matanya hampir
ergetar di dadanya, cukup dalam
ng paling ditakuti di benua ini. Pemimpin dari
lah-olah aku tidak b
nkan
kan tubuh melewati pagar pembatas, wajahnya pucat. Dia juga t
an Perak!" teriak Arka, suarany
rambut gelapnya, tetapi matanya be
lebih besar daripada yang pernah dimiliki Raka. Itu bukan sekad
k Arka, meskipun dia mundur
arahku. "Kau mau tinggal
irai tertutup tempat Raka dan
rgi," bisikk
a sebagai ancaman. Dia membuka pintu belakang mobilny
, kepanikan akhirnya menyusup ke dalam
a bersandar pada pintu mob
menginginkannya kembali, dia boleh datang ke Tanah Bayangan dan mencoba mer
anting p
l itu terasa hangat. Aromanya sepe
atanya kini lebih lembut, dipenuhi rasa sakit yang tidak ku
nya. Arka masih berdiri di bawah hujan, mencengkeram pagar pembatas, t

GOOGLE PLAY