Unduh aplikasi
Riwayat Membaca

Bab 2

Jumlah Kata:1371    |    Dirilis Pada: 21/09/2026

Er

kulit saat aku terhuyung-huyung keluar dari The Obsidian. Aku tidak merasakan dingin. Aku tidak mer

lu pintar. Jalang. Sem

a itu.

asku. Nama itu melemparkanku kembali ke masa lalu, ke lantai linoleum dingin di asrama universitas, k

akhir. Sebotol pemutih "tidak sengaja" tumpah ke satu-satunya gaun formalku sebelum wawancara beasiswa. Mereka mengunciku di lemari petugas kebersihan yang gelap selama berjam-jam, tawanya menggema di luar saat napas panikku berubah menjadi isak tangis tersengal-s

ur dan ketakutan dari keluarga kelas pekerja yang tidak punya d

n, Andra Hu

bil setelah sesi belajar larut malam. Dia tidak pernah mendesak, tidak pernah mencampuri urusanku, hanya menawarkan kekuatan yang tenang dan kokoh yang sangat kubutuhkan. Dia mendengarkan, benar-benar mend

dapatkan beasiswa baru ketika beasiswaku dicabut tanpa alasan jelas. Dia melunasi utang medis ibuku yang mendadak dan me

menjadi pe

cinta dan rasa aman, telah memercayainya. Aku memperc

tertipu," suara ejekan Erv

ang bodoh. Benar-b

k mencoba bangkit. Aku hanya berlutut di sana di genangan air, air kota yang kotor meresap ke lutut celanaku, dan tertawa. Suara hampa dan hancur yang dite

gabaikannya. Kemungkinan itu rumah sakit, rekan kerja, atau-gel

rabanya dengan jari-jari yang mati rasa. Layarnya retak dan lic

geser layar untuk menjawab.

dari fasilitas panti rawatnya. "Erika? Ini tentang nenekmu. Beliau terkena stro

an. "Aku sedang dalam perjalanan," desahku t

sudah terisi. Pintu masuk kereta bawah tanah kebanjiran. Aku berdiri di sudut jalan, melambaikan tang

akang turun, memperlihatkan seorang pria berseragam militer rapi. Wajahnya bergaris te

rsi belakang, terengah-engah berucap, "Rumah

apanku di kaca spion tengah selama sepersekian detik, da

er itu suram. "Kami sudah melakukan semua yang kami bisa," katanya, suaranya

ku, wanita yang membesarkanku setelah orang tuaku meninggal, tampak begitu kecil dan lem

adar. "Erika, Sayang," parau suaranya,

capku tercekat, merema

Nenek mau melihatnya. Mau melihat pria

etar meraba saat memutar nomornya. Berdering sekali, dua kali, lalu beralih

rgerak cepat di atas layar. Nana sekarat. ICU Mou

p belum dibaca. Tanda centang abu-abu kecil itu menj

-kata itu terasa berat dan beracun di mulutku. "Dia terjebak rapa

a. "Anak baik," gumamnya, matanya p

yi bip teratur dari monitor jantung lenyap menj

pedih terkoyak dari jiwaku. Aku telah kehilangan bagian terakhir dari keluargaku. Aku telah keh

an dokumen, ucapan belasungkawa lirih, dan mati rasa yang begitu dalam d

rumah duka, rasa penasaran yang kelam menguasai diriku. Aku membuka ponselku, jemar

m pelukan Andra. Mereka berada di The Obsidian, sebotol sampanye berada di atas meja di antara mereka berdua. Andra tersenyum, senyuman langka dan memukau

t, saat aku dengan panik berusaha menghubunginya, dia justru sedang merayak

adi menangis dan hancur, menjadi hening. Rasa

ali. Aku berjalan menuju meja perawat, to

n dua panggi

ku. "Saya perlu menjadwalkan tindakan terminasi ke

endi, ini Erika Rahardian. Nenek saya baru saja meninggal dun

g kamu butuhkan. Pernikahanmu tiga minggu la

nnya dibatalkan. Saya akan mengambil cuti di luar tanggungan selama enam bulan setela

n terperangah di

rnikahan saya," lanjutku dengan tenang. "Namun sebelum saya pergi, ada had

img

Konten

img
  /  1
img
Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY