El
n Ikatan bukanlah rasa sakit fis
kar dan lingkaran-lingkaran garam. Tetua melantunkan mantra dalam bahas
gi yang menghunjam ke dadaku, menemukan benang emas yang
kehampaan abadi yang datang bersama pemutusan Ikatan T
u. Ikatan itu sudah menjadi tali jera
ah dem
acara perak ke bawah, meny
bius. Aku meringkuk seperti bola di atas permadani, terengah-engah, mencakar papan lantai. Hubun
eningan mutlak
hingga getarannya berhenti. Saat aku berdi
un setelah aku gagal bertransformasi pada usia delapan belas tahun, Lydia perlahan-lahan mengambil alihnya. Sekarang, itu hanya sebuah lemari
mnya ada foto diriku saat berusia delapan belas tahun, tersenyum, penuh harap, menunggu serigalaku
atas peti kayu yang k
?" ja
sebuah suara profesional. "Kami menelepon mengenai r
, aku bangkrut. Orang tuaku telah menghent
n saja," kataku pelan. "Ak
ya pembuangan jenazah a
rku terhem
Dasinya terlepas, rambutnya berantakan. Dia bernapas berat,
itu?" t
tanyaku, tanpa r
ng ruangan yang sempit dan berdebu itu seolah sedang mencari penyusup.
etelah ikatan itu putus, baginya, aku tidak akan berbau lebih dar
aku dengan suara datar. "Aku
ngungan yang tulus, seperti seorang pria yang melangkah dari tepi trotoar dan tidak menemukan tanah di bawahn
a kau bicara
ka," jawa
r ponsel dari tanganku dan melemparkannya ke
pulasiku dengan omong kosong bunuh diri ini! Kau pikir membeli lahan maka
dengan obsesimu terhadap kematian. Kau adalah Pasangan Alpha, dan kau tin
membalas tatapan mata emasnya
ang kukatakan!" Dia menggunaka
as. Perintah itu melewati otakku dan
Dia tampak berkuasa, tampan,
kita berusia delapan belas tahun. Kau bersumpah
ahan. Dia memasangkan seekor singa dengan seekor tikus. Kau tidak p
akitkan. Namun bagian dari diriku y
kataku. "Ak
ar dengan marah. Dia membanting pintu begitu k
t. Kemudian, aku merangkak menuju ponselku yan
uluh delapan jam. Terlampir catatan medisku, catatan 'obat' yang diberikan Lydia kepadaku
pada isi email itu: *Se

GOOGLE PLAY