img Noda Penyesalan  /  Bab 5 Garis Dua | 5.21%
Unduh aplikasi
Riwayat Membaca

Bab 5 Garis Dua

Jumlah Kata:1294    |    Dirilis Pada: 10/03/2022

_Peny

rt

is

un, disusul bunyi alarm dari ponse

egera aku turun dari atas ranjang kayu, dengan kasur busa yang tipis. Rumah Nenek Rod

cucu perempuan yang berumur 17 tahun. Namun, cucu--Nenek Rodiah meninggal karena sakit. Nenek Rodiah tidak punya uang untuk membawa cuc

tidak mau menyerahkan cucu satu-satunya, kepada sang ayah karena takut istri barunya kejam. Kasih sayang ibu kandung, tentu tidaklah sama dengan ibu tiri. Sej

ng bayi merah tersebut dalam dekapan sambil berjualan sayur ke pasar. Namun, sayang di usia y

ang cantik, dan menjadi kembang desa hingga banyak para pemuda memperebutkanny

ri lamunan. Nenek sudah bersiap-siap hendak melaks

gangannya dalam keranjang. Sayur tersebut dipetik dari

abku sambil mengu

s itu salat subu

k dibelakang rumah. Baru satu langkah kaki berjal

u

kuning yang disertai rasa mual. Nenek yang melihat kondisiku menguru

r. Tubuhku terhuyung ke lantai, merasa

Dia setengah berlari mencari benda tersebut. Perasaanku kian campur aduk. Antar

Aku lupa kalau tamu bulananku selalu datang tepat waktu di awal tanggal. Sementara ini sudah pertengahan bulan belu

Pasti dia tidak akan pernah mengakuinya karena dia hanya menyentuhku sekali," r

rtama kal, aku dalam keadaan masa subur. Mun

berpikir jernih. Aku benci dengan Mas Raja yang menuduh tidak suci. Bagaimana benih

engusapkan ke tengkuk leher. Kuhapus air mata yang menod

ujar nenek. Aku melihat kekhawatiran di wajah keriput nenek yang semakin berusia senja.

yang lalu aku kenal saat dalam angkutan umum. Namun, kasih sayang yang

Nek," uc

uara, sampai akhirnya ak

membersihkan diri, dan bersiap melaksanakan kewajiban lima waktu. Sehabis salat subuh sepert

kut Nenek ke pasar," ucap nenek. Tangannya masih sibuk

pa, N

mu. Biar Nenek saja yang pergi berjualan sendiri," ujar nenek. Sera

dengan berjualan sayur. Hasil sayur yang dapat tidaklah terlalu banyak, hanya lima puluh ri

ateri, namun dia setiap hari akan menyisihkan sepuluh ribu untuk ditabung. Jika aku bertanya mengapa nenek men

t berobat karena kemiskinan. Untuk itulah nenek menabung setiap hari y

u masih kuat untuk meneman

ai wajah ini. Tangan keriput itu

unggu bu Rt mengambil pesanan sayuran itu." Tunjuk nenek

n gapapa berju

mbali te

k, N

nan nenek sudah menunggu dengan sabar. Setiap ke pasar nenek selalu diantar becak untu

ya bilang harganya dua puluh ribu ya. Uang itu kamu pa

, Nek

. Wes kamu nurut aja

u untuk menemaninya ke pasar. Aku hanya bisa mengantar nenek hingga sampai

ya, Nduk!" nenek berkata

guk pelan.

ali ke dalam rumah. Aku akan bersiap-siap per

rbilang jauh. Untuk menuju kesana aku

enunduk sembari meremas jari-jemari ini. Aku merasa gugup, dan jantungku berdegup dengan

a apotek. Dia memandang ke arahku dengan penuh selidik. Tanpa be

Harganya s

engambil benda pipih tersebut, dan menyembunyikan ke

memakai tespek. Benda pipih tersebut aku celupkan sebatas maxima

e

rasa sesak yang menghimpit nafasku. Tubuh lunglai s

lam keadaan seperti ini, tetapi kondisinya sangat memprihatinkan. Man

ham

*

sam

Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY