Buku dan Cerita Calv Momose
Terlambat Menyesal: Mantan Istri Takkan Pernah Kembali
Pada hari ulang tahun pernikahan kami yang kesembilan, suamiku yang merupakan bos mafia justru membawa wanita simpanannya yang sedang hamil ke tengah pesta. Ketika simpanannya tiba-tiba mengalami pendarahan hebat malam itu, dia tidak memanggil ambulans, melainkan menyeretku ke klinik pribadinya untuk dijadikan kantong darah. Dia tahu aku memiliki penyakit jantung yang serius dan transfusi sebesar itu bisa memicu serangan jantung yang fatal. "Dia mengandung anak laki-lakiku. Kau akan memberikan apa pun yang dia butuhkan." Saat darahku mengalir deras untuk menyelamatkan wanita yang menghancurkan hidupku, dadaku terasa sesak dan monitor jantungku berbunyi nyaring. Dokter berteriak panik bahwa kondisiku kritis, tetapi suamiku bahkan tidak menoleh sedikit pun. Dia berjalan keluar ruangan hanya untuk menggenggam erat tangan simpanannya, meninggalkanku meregang nyawa di atas meja periksa. Puncaknya, ketika wanita itu dengan sengaja menyulut api di apartemen kami, suamiku langsung menggendongnya pergi dan membiarkanku terjebak di dalam kobaran api. Selama ini aku hanyalah alat pelunas utang baginya, sosok tak kasat mata yang darahnya bebas dia peras. Dia mengira aku akan mati menjadi abu atau memohon untuk kembali menjadi istrinya yang patuh. Dia salah besar. Pada saat dia menyadari bahwa mayatku tidak ada di antara puing-puing sisa kebakaran itu, aku sudah berada di dalam pesawat menuju London. Aku telah meninggalkan cincin kawin, surat cerai, dan rekam medis kekejamannya agar dilihat oleh seluruh keluarganya.
Cinta Terlarang, Murka Sang Wali
Selama sepuluh tahun, aku diam-diam mencintai waliku, Bima Wijaya. Setelah keluargaku hancur, dia membawaku masuk dan membesarkanku. Dia adalah seluruh duniaku. Pada hari ulang tahunku yang kedelapan belas, aku mengumpulkan semua keberanianku untuk menyatakan cintaku padanya. Tapi reaksinya adalah kemarahan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dia menyapu kue ulang tahunku ke lantai dan meraung, "Kamu sudah gila? Aku ini WALImu!" Dia kemudian tanpa ampun merobek lukisan yang telah kukerjakan selama setahun—pengakuanku—menjadi serpihan. Hanya beberapa hari kemudian, dia membawa pulang tunangannya, Clara. Pria yang telah berjanji untuk menungguku dewasa, yang memanggilku bintangnya yang paling terang, telah lenyap. Satu dekade cintaku yang putus asa dan membara hanya berhasil membakar diriku sendiri. Orang yang seharusnya melindungiku telah menjadi orang yang paling menyakitiku. Aku menatap surat penerimaan dari Universitas Indonesia di tanganku. Aku harus pergi. Aku harus mencabutnya dari hatiku, tidak peduli betapa sakitnya. Kuambil telepon dan menekan nomor ayahku. "Ayah," kataku, suaraku serak, "Aku sudah memutuskan. Aku ingin ikut dengan Ayah di Jakarta."
Pernikahan Sempurnaku, Rahasia Mematikannya
Selama tiga bulan, aku adalah istri yang sempurna bagi miliarder teknologi, Baskara Aditama. Kukira pernikahan kami adalah sebuah kisah dongeng, dan makan malam penyambutan untuk program magang baruku di perusahaannya seharusnya menjadi perayaan kehidupan kami yang sempurna. Ilusi itu hancur berkeping-keping ketika mantannya yang cantik tapi tidak waras, Diana, mengacaukan pesta dan menusuk lengan Baskara dengan pisau steak. Tapi kengerian yang sesungguhnya bukanlah darah yang mengalir. Melainkan tatapan mata suamiku. Dia memeluk penyerangnya, membisikkan satu kata lembut yang hanya ditujukan untuk wanita itu: "Selalu." Dia hanya diam saat Diana menodongkan pisau ke wajahku untuk mengiris tahi lalat yang menurutnya telah kutiru darinya. Dia hanya menonton saat Diana melemparkanku ke dalam kandang berisi anjing-anjing kelaparan, padahal dia tahu itu adalah ketakutan terbesarku. Dia membiarkan Diana menyiksaku, membiarkannya menjejalkan kerikil ke tenggorokanku untuk merusak suaraku, dan membiarkan anak buahnya mematahkan tanganku di pintu. Ketika aku meneleponnya untuk terakhir kali, memohon pertolongan saat sekelompok pria mengepungku, dia menutup teleponku. Terjebak dan dibiarkan mati, aku nekat melompat dari jendela lantai dua. Sambil berlari, berdarah dan hancur, aku menelepon nomor yang sudah bertahun-tahun tidak kuhubungi. "Paman Suryo," isakku di telepon. "Aku mau cerai. Dan aku mau Paman bantu aku hancurkan dia." Mereka pikir mereka menikahi gadis biasa. Mereka tidak tahu kalau mereka baru saja menyatakan perang pada Keluarga Wallace.
