Buku dan Cerita Edlin Barzelay
Pernikahanku, Bukan Denganmu
Lima tahun lalu, aku menyelamatkan nyawa tunanganku di sebuah gunung di Puncak. Insiden itu membuatku cacat penglihatan permanen—sebuah pengingat yang berkilauan, yang terus-menerus ada, tentang hari di mana aku memilihnya di atas penglihatanku yang sempurna. Dia membalasku dengan diam-diam mengubah rencana pernikahan kami di Puncak menjadi di Bali, hanya karena sahabatnya, Amara, mengeluh di sana terlalu dingin. Aku mendengarnya menyebut pengorbananku sebagai "drama murahan" dan melihatnya membelikan Amara gaun seharga delapan ratus juta rupiah, sementara gaunku sendiri ia cibir. Di hari pernikahan kami, dia meninggalkanku menunggu di altar untuk bergegas ke sisi Amara yang—sangat kebetulan—mengalami "serangan panik". Dia begitu yakin aku akan memaafkannya. Dia selalu begitu. Dia tidak melihat pengorbananku sebagai hadiah, tetapi sebagai kontrak yang menjamin kepatuhanku. Jadi, ketika dia akhirnya menelepon ke lokasi pernikahan di Bali yang kosong melompong, aku membiarkannya mendengar deru angin gunung dan lonceng kapel sebelum aku berbicara. "Pernikahanku akan dimulai," kataku. "Tapi bukan denganmu."
Mahkota Pewaris yang Dikhianati
Emilia adalah pewaris sah dari Keluarga Hewitt, tetapi orang tua kandungnya dan keempat saudara laki-lakinya, bersama dengan seorang penipu yang mengklaim tempatnya, hampir mengakhiri hidupnya. Setelah mengalami kejadian itu, dia berhenti berpura-pura patuh dan mulai menunjukkan jati dirinya yang sejati. Dia menghadapi siapa pun yang mencoba mengusiknya atau menindasnya, siap melawan dan memberi pelajaran dengan tegas. Dengan mengungkapkan dirinya sebagai dokter yang dihormati dan penilai harta karun yang terampil, dia mempermalukan siapa saja yang mencoba meremehkannya. Namun, ada yang berani mengejeknya dengan mengatakan, "Menjadi kuat tidak ada artinya jika orang tuamu sendiri tidak mencintaimu." Kemudian, keluarga yang paling dihormati di kota datang membelanya. "Dia seperti permata berharga bagi kami. Siapa peduli dengan kasih sayang dari orang-orang yang tidak berarti itu?"
