/0/3194/coverbig.jpg?v=95587cabb759c680d40a5496f0fac9a4)
Annabella tidak pernah menyangka, kehamilannya akan diketahui ketika acara lamaran berlangsung. Freddy Van Halbert-yang merupakan calon suaminya tidak terima mendapatkan calon istri yang telah digarap oleh pria lain. Alhasil, keluarga Halbert memutuskan secara sepihak atas batalnya acara lamaran maupun pernikahan yang telah terencanakan. Namun keluarga Davidson tetap ingin Annabella dan Freddy melangsungkan pernikahan. Davidson-selaku ayahnya Annabella merasa yakin, jikalau yang menghamili puterinya adalah Freddy-tunangannya. Akan tetapi Freddy menentang keras jikalau ia tidak pernah menyetubuhi Annabella. Begitupun sebaliknya, Annabella yang bingung tentang kehamilannya, tidak tahu siapa lelaki yang telah menghamilinya. Dari pernyataan Annabella, Freddy merasa jijik dan meninggalkannya begitu saja. Sedangkan Devian-adiknya Freddy, anak kedua dari keluarga Halbert-maju menghadap Davidson. Ia menyatakan siap untuk menikahi puterinya yang telah berbadan dua. Davidson menyetujui, dan dua keluarga terpandang itu akan tetap melangsungkan pernikahan sebagaimana yang telah disepakati untuk kemakmuran bisnis mereka. Annabella merasa hutang budi pada Davian. Ia tidak menyangka pria yang seharusnya menjadi adik iparnya itu mau pada wanita yang telah ternoda. Lantas di malam pertama pernikahan mereka, Annabella bertanya pada suami yang terkenal dengan sikap dinginnya itu. "Apa alasanmu mau menggantikan Freddy untuk menakihiku?" "Tentu saja aku akan menikahimu, karena janin yang tengah dikandungmu adalah anakku!"
"Positif?"
Mulut Annabella bergetar, begitupun dengan tangannya yang tengah memegang testpack. Ia yang berada di dalam toilet tersungkur mundur. Tubuhnya nyaris jatuh bersamaan dengan rasa tidak percaya.
"Ini tidak mungkin!" lirih gadis berambut lurus itu.
Benda kecil itu dilemparnya ke sudut toilet. Garis dua yang baru saja dilihatnya bagai sebuah misteri. Mana mungkin Annabella bisa hamil lantaran tidak pernah ada pria yang menyetubuhinya.
Ketukan pintu membuat gadis cantik itu terkesiap. Pasti mereka di bawah sana sudah sangat menunggu hasilnya.
"Anna? Anna? Are you okay?"
Itu suara mamanya. Bahkan, untuk sekadar jujur pada orang tuanya pun Annabella takut. Ia tak yakin mereka akan percaya pada penjelasannya. Berdasarkan bukti positif yang tertera pada tespack itu, pasti orang tuanya akan menyangka Annabella sedang membual, berbohong, atau ....
"Anna? Kenapa lama sekali, Sayang?"
Lagi, mamanya bertanya seraya mengetuk pintu. Pikiran Annabella benar-benar buntu. Kepalanya tengah berpikir keras siapa orang yang telah menghamilinya. Bahkan Freddy-calon suaminya pun tidak pernah melakukan itu.
"Buka pintunya, Nak. Jangan buat Mama khawat-"
Giana-dibuat diam dengan kecamuk tanya saat puterinya membuka pintu dengan raut murung. "Kamu kenapa, Anna?" wanita bergaya sosialita itu bertanya cemas.
Annabella pun menghambur memeluk sang mama. Berharap besar pada wanita yang telah melahirkannya akan percaya. "Aku mohon sama Mama ... Mama harus percaya padaku apa pun yang akan Mama ketahui nanti," ucapnya, dengan linangan air mata.
Giana yang tidak paham, melepas pelukan puterinya. Lantas ia membingkai wajah manisnya yang seperti ketakutan. "Ada apa, Sayang?"
Tak ada jawaban dari Annabella, puterinya itu hanya terisak sembari menunduk. Berbagai spekulasi pun mencuat memenuhi isi kepala. Segera Giana masuk ke dalam toilet untuk mencari testpack yang tadi diberikan calon menantunya.
Ternyata benda mungil itu tergeletak di ujung toilet dekat kloset duduk. Kemudian diraihnya dengan harapan hasilnya bergaris satu. Namun seketika Giana limbung, kepalanya mendadak sakit saat melihat hasil testpack itu adalah positif.
Giana pun melangkah gontai keluar dari toilet. "Siapa yang telah menghamilimu, Anna?" tanyanya datar. Suaranya begitu berat seolah menelan kekecewaan.
Annabella pun bersedeku memeluk kaki Giana. "Aku mohon Mama harus percaya padaku. Testpack itu bisa saja salah ... aku sama sekali tidak pernah tidur dengan siapa pun."
"Kamu anggap Mama sebodoh itu, Anna? Lalu ini apa?" Giana balik bertanya dengan memperlihatkan testpack di depan wajah puterinya.
Annabella menggelengkan, dan menengadah menatap Giana yang mengalihkan muka. "Tapi aku sama sekali tidak pernah berhubungan badan dengan siapa pun. Aku tidak hamil, Ma. Aku mohon ... Mama harus percaya,"
"Ada apa ini?"
Bagaikan suara bariton. Pertanyaan Davidson membuat Annabella tersentak mendengar papanya datang.
"Lihat ini!" Giana mengulurkan testpack pada suaminya. Ia masih tidak percaya atas apa yang dilihatnya. Namun hasil testpack itu tak bisa disangkal. Semuanya bak petir yang menggelegar di keheningan malam.
"Berdiri!" titah Davidson setengah marah.
Annabella pun berdiri dengan menunduk. Sungguh ia tak mampu melihat sorot mata kedua orang tuanya sekarang, terutama sang papa. Tetapi diam saja dan pasrah bukanlah jalan keluar. Annabella harus menyuarakan kejujurannya agar mereka tidak salah paham.
"Aku mohon, Pa. Percaya pada Anna ... testpack itu salah. Aku sama sekali tidak-"
"SIAPA YANG TELAH MENGHAMILIMU?" sentaknya. Kubu-kubu jarinya tercetak jelas karena kedua tangan berbulu itu mengepal kuat.
Annabella dan Giana sampai tersentak kaget. Davidson yang berawatak tegas sudah terbayang akan semurka itu. Seketika atmosfer di kamar Annabella berubah tegang. Sungguh, Annabella membutuhkan pelukan orang tuanya sekarang. Namun untuk memeluk mamanya pun rasanya jauh. Bukan soal jarak, tetapi soal Giana yang tak ada pembelaan untuknya.
"JAWAB!"
Lagi. Davidson membentak. Ia kesal melihat puteri sulungnya hanya menangis. Benar-benar memalukan. Apa lagi, sekarang tengah ada keluarga Halbert di lantai bawah sana yang akan bersilaturahmi membicarakan pernikahan esok hari.
Masih tak ada jawaban dari Annabella. Sedangkan Giana menerka-nerka dalam kerjapan matanya. Memang, sejauh ini Annabella tidak pernah jalan dengan pria mana pun. Ia baru mau diajak jalan oleh Freddy, tunangannya yang baru dikenalnya satu bulan ke belakang. Yang merupakan anak dari pengusaha ternama hasil dari perjodohan suaminya dan Halbert-sahabatnya.
Atau mungkin karena Annabella terlalu cerdik bermain di luar rumah, sampai orang tuanya menyangka bahwa puterinya tetap pandai menjaga diri.
"Sepertinya Annabella memang tidak tahu siapa yang menghamilinya, Mas. Kita diskusikan saja dengan keluarga Halbert." usul Giana sedikit melunak. Karena marah-marah pun tidak ada gunanya.
"Jangan gila, Giana. Mau ditaruh di mana muka saya di depan keluarga Halbert kalau Annabella sedang mengandung?" geram Davidson.
"Lebih malu kalau anak yang dikandung Annabella lahir tanpa ayah. Lagi pula kita perlu curiga, Mas. Sebulan ini Anna sering jalan dengan Freddy, besar kemungkinan dia yang meniduri anak kita!" tandas Giana.
"Lantas kenapa Freddy yang mengusulkan untuk Annabella ditestpack dulu kalau dia yang melakukannya?"
Ya, Davidson merasa bingung. Kalaupun memang Freddy yang menghamili puterinya, untuk apa calon menantunya itu memberi syarat sebelum acara pesta pernikahan agar Annabella ditestpack terlebih dulu? Seolah Freddy mawas diri ingin mendapatkan istri yang belum ternoda.
Keduanya pun sama-sama terdiam. Antara kecewa, marah, dan bingung bercampur menjadi satu. Sedangkan Annabella masih tak mampu melihat tatapan orang tuanya. Ia paham apa yang dirasakan dan dipikirkan mereka. Termasuk siapa yang menghamilinya. Entahlah. Semuanya bagai teka-teka besar.
Keluarga Halbert yang tengah bertamu di ruang keluarga ditemani Chloe-puteri kedua Davidson, tampak bingung saat kedatangan Annabella dan orang tuanya yang menuruni anak tangga dengan wajah kusut. Raut mereka tidak sesumringah tadi. Freddy jadi merasa bersalah, terlebih tunangannya, sepertinya gadis bermata hazel itu telah menangis.
"Om? Tante? Bagaimana? Saya yakin hasilnya negatif. Maafkan saya telah lancang memberi syarat ini. Karena ini sudah keputusan keluarga saya."
Freddy-pria bertubuh tegap bak aktor Amerika itu meminta maaf pada Davidson dan Giana karena telah memberi syarat agar Annabella ditestpack terlebih dulu sebelum acara pernikahan berlangsung.
Davidson tidak menjawab. Pria yang sudah memasuki kepala lima itu mengulurkan benda tipis di atas meja, tepat di depan Freddy. "Sejak kapan kamu berani menyentuh anak saya?" tanyanya dingin. Ya, ia yakin jikalau Freddy yang melakukannya. Secara dia adalah tunangan puterinya.
Freddy yang duduk di antara kedua orang tua dan adiknya itu hampir saja terbelalak. Penampakan garis dua di meja bagai menghunus mata. Menyakitkan. Begitu pun Halbert, Helen, dan Devian. Sama-sama shock.
"Maksud Om, apa? Annabella hamil?"
"Iya, Pak David. Ini testpack punya siapa? Tidak mungkin punya Annabella 'kan?"
"Annabell jawab, bisakah kamu menjelaskan maksudnya ini apa?"
Rentetan pertanyaan dari Freddy dan kedua orang tuanya bagai sayatan pisau tajam yang menyerang rongga dada. Menyesakkan. Bahkan untuk sekadar menjelaskan pun Annabella tak mampu. Kelu.
Davidson menghela nafas dengan berat. "Ya, maafkan saya Pak Halbert, Bu Helen. Testpack itu membuktikan kalau puteri saya hamil. Saya dan Istri pun baru tahu sekarang. Akan tetapi kami yakin, jikalau ayah dari janin yang tengah dikandung Annabella adalah ... Freddy!" pungkasnya harap-harap cemas.
Freddy dibuat menganga oleh tuduhannya.
"Apa? Hamil?"
Dua tahun setelah pernikahannya, Selina kehilangan kesadaran dalam genangan darahnya sendiri selama persalinan yang sulit. Dia lupa bahwa mantan suaminya sebenarnya akan menikahi orang lain hari itu. "Ayo kita bercerai, tapi bayinya tetap bersamaku." Kata-katanya sebelum perceraian mereka diselesaikan masih melekat di kepalanya. Pria itu tidak ada untuknya, tetapi menginginkan hak asuh penuh atas anak mereka. Selina lebih baik mati daripada melihat anaknya memanggil orang lain ibu. Akibatnya, dia menyerah di meja operasi dengan dua bayi tersisa di perutnya. Namun, itu bukan akhir baginya .... Bertahun-tahun kemudian, takdir menyebabkan mereka bertemu lagi. Raditia adalah pria yang berubah kali ini. Dia ingin mendapatkannya untuk dirinya sendiri meskipun Selina sudah menjadi ibu dari dua anak. Ketika Raditia tahu tentang pernikahan Selina, dia menyerbu ke tempat tersebut dan membuat keributan. "Raditia, aku sudah mati sekali sebelumnya, jadi aku tidak keberatan mati lagi. Tapi kali ini, aku ingin kita mati bersama," teriaknya, memelototinya dengan tatapan terluka di matanya. Selina mengira pria itu tidak mencintainya dan senang bahwa dia akhirnya keluar dari hidupnya. Akan tetapi, yang tidak dia ketahui adalah bahwa berita kematiannya yang tak terduga telah menghancurkan hati Raditia. Untuk waktu yang lama, pria itu menangis sendirian karena rasa sakit dan penderitaan dan selalu berharap bisa membalikkan waktu atau melihat wajah cantiknya sekali lagi. Drama yang datang kemudian menjadi terlalu berat bagi Selina. Hidupnya dipenuhi dengan liku-liku. Segera, dia terpecah antara kembali dengan mantan suaminya atau melanjutkan hidupnya. Apa yang akan dia pilih?
Bianca tumbuh bersama seorang ketua mafia besar dan kejam bernama Emanuel Carlos! Bianca bisa hidup atas belas kasihan Emanuel pada saat itu, padahal seluruh anggota keluarganya dihabisi oleh Emanuel beserta Ayahnya. Akan tetapi Bianca ternyata tumbuh dengan baik dia menjelma menjadi sosok gadis yang sangat cantik dan menggemaskan. Semakin dewasa Bianca justru selalu protes pada Emanuel yang sangat acuh dan tidak pernah mengurusnya, padahal yang Bianca tau Emanuel adalah Papa kandungnya, tapi sikap keras Emanuel tidak pernah berubah walaupun Bianca terus protes dan berusaha merebut perhatian Emanuel. Seiring berjalannya waktu, Bianca justru merasakan perasaan yang tak biasa terhadap Emanuel, apalagi ketika Bianca mengetahui kenyataan pahit jika ternyata dirinya hanyalah seorang putri angkat, perasaan Bianca terhadap Emanuel semakin tidak dapat lagi ditahan. Meskipun Emanuel masih bersikap masa bodo terhadapnya namun Bianca kekeh menginginkan laki-laki bertubuh kekar, berwajah tampan yang biasa dia panggil Papa itu, untuk menjadi miliknya.
Karena sebuah kesepakatan, dia mengandung anak orang asing. Dia kemudian menjadi istri dari seorang pria yang dijodohkan dengannya sejak mereka masih bayi. Pada awalnya, dia mengira itu hanya kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak, namun akhirnya, rasa sayang yang tak terduga tumbuh di antara mereka. Saat dia hamil 10 bulan, dia menyerahkan surat cerai dan dia akhirnya menyadari kesalahannya. Kemudian, dia berkata, "Istriku, tolong kembalilah padaku. Kamu adalah orang yang selalu aku cintai."
Livia ditinggalkan oleh calon suaminya yang kabur dengan wanita lain. Marah, dia menarik orang asing dan berkata, "Ayo menikah!" Dia bertindak berdasarkan dorongan hati, terlambat menyadari bahwa suami barunya adalah si bajingan terkenal, Kiran. Publik menertawakannya, dan bahkan mantannya yang melarikan diri menawarkan untuk berbaikan. Namun Livia mengejeknya. "Suamiku dan aku saling mencintai!" Semua orang mengira dia sedang berkhayal. Kemudian Kiran terungkap sebagai orang terkaya di dunia.Di depan semua orang, dia berlutut dan mengangkat cincin berlian yang menakjubkan. "Aku menantikan kehidupan kita selamanya, Sayang."
"Tanda tangani surat cerai dan keluar!" Leanna menikah untuk membayar utang, tetapi dia dikhianati oleh suaminya dan dikucilkan oleh mertuanya. Melihat usahanya sia-sia, dia setuju untuk bercerai dan mengklaim harta gono-gini yang menjadi haknya. Dengan banyak uang dari penyelesaian perceraian, Leanna menikmati kebebasan barunya. Gangguan terus-menerus dari simpanan mantan suaminya tidak pernah membuatnya takut. Dia mengambil kembali identitasnya sebagai peretas top, pembalap juara, profesor medis, dan desainer perhiasan terkenal. Kemudian seseorang menemukan rahasianya. Matthew tersenyum. "Maukah kamu memilikiku sebagai suamimu berikutnya?"
"Tolong hisap ASI saya pak, saya tidak kuat lagi!" Pinta Jenara Atmisly kala seragamnya basah karena air susunya keluar. •••• Jenara Atmisly, siswi dengan prestasi tinggi yang memiliki sedikit gangguan karena kelebihan hormon galaktorea. Ia bisa mengeluarkan ASI meski belum menikah apalagi memiliki seorang bayi. Namun dengan ketidaksengajaan yang terjadi di ruang guru, menimbulkan cinta rumit antara dirinya dengan gurunya.