/0/8573/coverbig.jpg?v=5761ea7f304279c68fc7133064008f28)
Olivia tidak pernah menyangka jika kekasih yang selama ini dicintainya tega mengkhianatinya dengan bermain dengan wanita lain di belakangnya. Lebih parahnya lagi kekasihnya itu tega mengakhiri hubungan mereka dengan sepihak di saat Olivia tengah mengandung buah cinta mereka. Tak terima dengan apa yang diperbuat oleh mantan kekasih brengseknya itu, Olivia pun berniat membalas dendam dengan menikahi kakak tiri dari mantan kekasihnya itu. Lalu bagaimana Olivia bisa menikahi saudara mantan kekasihnya itu? Dan langkah apa yang dilakukan Olivia untuk membalaskan dendamnya kepada mantan kekasihnya itu? "Permintaanku hanya satu, yakni melihat dia sengsara atas perbuatanku seperti dia mencampakkanku dan anakku!" ~ Olivia Wingston. "Menikahlah denganku, maka aku bersedia membalaskan dendammu kepada dia, pria yang telah mencampakkanmu." ~ Darren Aldalarict. "Berhentilah sebelum kau menyesal!" ~ Johnny Harvey.
Tampak tubuh seorang wanita bergetar hebat. Dia terlihat kehilangan kemampuan untuk berdiri dan akhirnya tersungkur ke lantai sembari memegang sebuah testpack di tangan kanannya. Dua garis strip berwarna merah menunjukkan bahwa dirinya tengah mengandung hasil hubungannya bersama pria bernama Johnny.
Ini bukan hasil yang diinginkan seorang wanita cantik bernama Olivia, terutama Johnny pastinya. Olivia tahu Johnny pasti tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan mereka.
"Astaga, apa yang harus aku lakukan. Bisa-bisanya aku lupa mengonsumsi pil itu kemarin!" gerutu Olivia seraya menjambak rambutnya frustrasi.
Olivia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Bagaimana bisa dia menerima beban yang begitu berat ini seorang diri. Dia lemah dan tidak tahu apa yang harus dilakukan sebagai calon ibu.
Olivia mencoba menghubungi Johnny, namun panggilannya sama sekali tidak diangkat oleh pria itu, entah sedang apa dia di seberang sana. Karena Johnny tidak mengangkat panggilan teleponnya, Olivia pun terpaksa mengirim pesan kepada pria itu.
"Ke mana kamu, John. Aku butuh kamu saat ini," gumam Olivia seraya menatap gusar layar ponselnya yang menampilkan potret dirinya dengan Johnny yang sengaja ia jadikan wallpaper handphone-nya.
Olivia sadar dia hanya mempunyai dua pilihan, yaitu mempertahankan atau menyingkirkan benih cintanya bersama Johnny. Kedua pilihan yang sama sama sulit dan meninggalkan risiko yang luar biasa. Di antara dia harus mempertahankan anak ini seorang diri tanpa sosok suami yang seharusnya menemani atau pilihan kedua yakni, menyingkirkan anak ini dan membunuh diri sendiri dengan rasa bersalah yang akan menghantuinya seumur hidup. Keputusan berada di tangannya sekali pun Johnny tidak mau bertanggung jawab. Namun tetap saja kehadiran Johnny akan lebih membantunya dalam membuat keputusan.
Malam hari berlalu begitu cepat, Olivia sama sekali tidak menerima pesan balasan dari Johnny. Di mana dia di saat keadaan penting seperti ini?
"Tidak ada pilihan lain, besok aku harus menemuinya. Johnny harus segera tahu mengenai keberadaan bayi ini," kata Olivia.
***
Sesuai niat Olivia semalam, pagi-pagi sekali wanita itu sudah pergi ke apartemen milik Johnny untuk menemui pria itu. Ia sangat yakin sekarang Johnny ada di apartemen tidak pulang ke rumah orang tuanya.
Sesampainya di depan unit apartemen Johnny, Olivia menghembuskan napasnya dalam bermaksud mengusir kegugupannya saat ini. Bagaimana pun apa yang harus ia sampaikan sekarang adalah hal yang besar dan berisiko akan kedamaian hubungannya dengan Johnny.
"Kau pasti bisa, Olivia. Kau harus tetap optimis Johnny akan menerima keberadaan bayi ini," ucap Olivia dengan penuh keyakinan.
Namun saat Olivia hendak memasukan kode apartment, tiba tiba pintu apartment itu terbuka dari dalam. Seorang pria bertubuh atletis dengan penampilan rapi mengenakan setelan jas kantoran keluar dari dalam sana. Lalu selama beberapa saat pandangan mereka saling bertemu hingga Olivia memutus kontak mata itu terlebih dahulu. Mereka memang tidak pernah bertemu sebelumnya, tetapi Olivia langsung mengenal sosok pria itu, dia Darren--saudara tiri Johnny.
Olivia tersenyum lalu masuk ke dalam apartment Johnny. Darren yang tadinya hendak pergi, memilih kembali masuk ke dalam apartemen saudara tirinya itu. Entah kenapa feeling-nya mengatakan jika akan terjadi sesuatu hal yang menarik di dalam sana.
Di sisi lain Olivia tampak terbelalak mendapati Johnny bersama seorang gadis dalam keadaan bertelanjang dan hanya dilapisi oleh selimut tebal. Pakaian dan dalaman yang berserakan di lantai semakin meyakinkan Olivia sesuatu memang terjadi di antara mereka tadi malam.
Air mata pun tidak dapat terbendung lagi. Amarah dan kekecewaan Olivia kini berkumpul menjadi satu.
"Kurang ajar! Jadi ini alasan dia sulit dihubungi sejak semalam," batin Olivia.
Johnny ikut terkejut melihat sosok kekasihnya yang kini tengah menatapnya dengan penuh kecewa di depan pintu kamarnya. Wajah Johnny saat ini sangat pucat persis sebagaimana seorang tertangkap basah selingkuh. Sementara wanita itu tampak memunguti baju miliknya dan tanpa kata dia berlalu menuju kamar mandi.
"Olivia kau salah pa--" Belum sempat Johnny menyelesaikan perkataannya, Olivia langsung memotongnya.
"Apa yang kau lakukan?! Apakah aku saja tidak cukup untukmu?!" bentak Olivia.
"Maaf, kemarin aku mabuk dan--" Lagi-lagi ucapan Johnny dipotong oleh Olivia.
"Bajingan!" Setelah mengatakan itu Olivia pun menampar pipi Johnny sangat keras.
"Dasar pria tidak tahu diri! Aku sudah merelakan diriku padamu dan ini balasanmu? Mengkhianatiku, tidur dengan wanita lain?! Dasar pria brengsek! Aku menyesal telah menyerahkan semuanya padamu!" teriak Olivia.
Johnny masih memegang pipinya yang barusan ditampar oleh Olivia. Ia masih tak percaya, harga dirinya terluka karena tamparan dan juga kata-kata kasar Olivia padanya. Ini pertama kalinya harga dirinya diinjak-injak oleh seorang wanita dan orang itu adalah kekasihnya sendiri.
Olivia mulai kehilangan kendali dengan berteriak sembari memukul Johnny tanpa henti. Hingga akhirnya Olivia lemah dan menangis hebat. Seandainya Johnny bisa mengatakan apa kekurangannya tanpa bermain di belakang dengan wanita lain, mungkin Olivia akan berusaha introspeksi diri.
Namun seperkian detik kemudian Olivia sadar, dia tidak boleh lemah dan harus membalas perbuatan Johnny.
Olivia memicingkan matanya seolah merencanakan sesuatu. Dia mendongak, menatap wajah tampan Johnny. Ketika netra mereka bertemu, Olivia mengumpulkan tenaga, lalu tanpa basa-basi menonjok wajah tampan Johnny yang sempat membuatnya tergila-gila.
Pria itu meringis kesakitan sembari memegang hidung yang menjadi sasaran kemarahan Olivia tadi. Johnny yang tidak terima tampak mengangkat tangannya untuk membalas Olivia. Namun sebuah tangan menahan dan menepis tangannya dengan kasar.
"Kau tahu, pria tidak boleh main tangan kepada seorang wanita. Itu menghilangkan kejantanan seorang pria!" ujar Darren yang sedari tadi berada di sana, menyaksikan semua yang terjadi antara Olivia dan saudara tirinya. Dan ia sangat takjub dengan keberanian Olivia yang menghajar Johnny habis-habisan seperti barusan. Ia kira Olivia akan menangis seperti wanita di luaran sana saat mengetahui pasangannya selingkuh, namun ternyata tidak. Ini benar-benar di luar dugaannya.
Sedangkan Olivia mendongakkan kepalanya, menatap sosok Darren yang baru saja menyelamatkannya. Ia sedikit terkejut mendapati pria itu, karena ia sangat yakin tadi Darren sudah pergi dari apartemen Johnny. Lantas kenapa pria ini masih ada di sini?
"Pergi kalian dari sini!!" Johnny berteriak kencang, mengusir Darren dan Olivia bersamaan.
Air mata Olivia kembali turun. Ia tidak percaya Johnny masih bisa bersikap kasar saat dialah yang bersalah. Wanita itu pun melangkahkan kakinya keluar dari apartemen Johnny dan bersumpah dalam hatinya jika dia akan membalas apa yang telah Johnny lakukan padanya.
Johnny ikut mengantarkan Olivia dan Darren keluar dari pintu apartmentnya dan saat kedua tamu tak di undangnya sampai di depan pintu keluar, dia dengan tega mendorong Olivia sampai wanita itu terjatuh.
"Aku muak denganmu, Olivia. Maka dari itu mulai hari ini kita selesai dan jangan pernah kamu temui atau hubungi aku lagi!" ucap Johnny. Setelah itu pintu apartemen itu pun tertutup rapat, menyisakan Darren dan Olivia yang masih diliputi rasa terkejut atas perlakuan kasarnya barusan.
Melihat barang-barang Olivia tercecer di bawah lantai, Darren sontak membantu membereskan isi tas Olivia. Namun saat sedang asyik memunguti barang-barang milik Olivia, matanya tak sengaja menangkap sebuah benda pipih yang sangat menarik perhatiannya. Dan tanpa sepengetahuan Olivia, pria itu memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celananya.
"Apa kau baik baik saja?" tanya Darren.
"Aku baik baik saja. Terima kasih atas bantuannya, Tuan," ucap Olivia lalu segera pergi dari sana yang tentunya dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Darren melihat punggung mungil Olivia semakin menjauh, lalu perlahan menghilang dari padangannya. Senyuman miring tampak tersungging di wajah tampannya. Gadis itu memberikan jawaban serta jalan keluar akan permasalahannya saat ini.
"Kau akan menjadi kartu As-ku untuk menghancurkan mereka," gumam Darren.
***
Olivia tidak langsung kembali ke rumahnya, dia memilih berdiri di sebuah jembatan besar. Menangis pun sudah tidak sanggup, namun di dalam hati sakitnya masih sangat terasa. Olivia tersenyum getir teringat hampir satu taun bersama Johnny, entah berapa kali pria itu berbohong dan mengkhianati dirinya.
Semua telah dia berikan kepada pria yang salah. Sekarang ia merasa hidupnya tidak berguna lagi. Banyak sekali alasan untuk mengakhiri hidup di benak Olivia saat ini. Olivia tidak sanggup jika harus membesarkan anaknya sendirian. Apalagi dalam keadaan ekonominya yang bisa dikatakan tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Saat Olivia begitu tenggelam dalam pikirannya, suara langkah kaki sesorang menganggu kesendiriannya. Sontak dia pun menoleh ke belakang dan mendapati pria yang menolongnya tadi sedang berjalan ke arahnya.
"Saya ke sini untuk mengantarkan barang kamu yang tertinggal dan sekalian menawarkan sesuatu padamu," kata Darren yang kini sudah berdiri di hadapan Olivia seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
Olivia mengkerutkan keningnya. Ia bingung sekaligus penasaran, penawaran apa yang dimaksud oleh Darren? Perasan ini adalah pertemuan pertama mereka, tidak mungkin 'kan pria itu menawarinya berkaitan dengan bisnis?
Darren mengeluarkan sebuah testpack dari saku celananya. Tubuh Olivia mendadak lemas seketika. Bagaimana bisa benda pipih itu ada di tangan Darren?
"Maksud kedatanganmu ke apartemen Johnny, pasti untuk memberitahu dia atas kehamilanmu?" tanya Darren.
Olivia masih bungkam. Dia tidak mampu berkata-kata, tubuh dan pikirannya terguncang hebat. Semua kata kasar dan makian pun tidak ada yang bisa menggambarkan kebodohannya ini.
"Saya ingin menawarkan bantuan yang sangat menguntungkan buat kamu," ucap Darren.
"Bantuan apa?" tanya Olivia to the point.
"Mari menikah, saya akan menjadi ayah dari anak kamu," jawab Darren yang seketika membuat tubuh Olivia membatu.
Niat untuk melamar pekerjaan sebagai pengasuh, karena membutuhkan pekerjaan tambahan demi menyambung hidup dan membiayai pengobatan ayahnya, justru mengantarkan Laura pada kegilaan Greyson yang merenggut kesuciannya, dan mengikat untuk menjadi pemuas nafsu. Akankah Laura bersedia menjadi budak pemuas Grey demi sejumlah uang untuk pengobatan ayahnya?
Selama tiga tahun pernikahannya dengan Reza, Kirana selalu rendah dan remeh seperti sebuah debu. Namun, yang dia dapatkan bukannya cinta dan kasih sayang, melainkan ketidakpedulian dan penghinaan yang tak berkesudahan. Lebih buruk lagi, sejak wanita yang ada dalam hati Reza tiba-tiba muncul, Reza menjadi semakin jauh. Akhirnya, Kirana tidak tahan lagi dan meminta cerai. Lagi pula, mengapa dia harus tinggal dengan pria yang dingin dan jauh seperti itu? Pria berikutnya pasti akan lebih baik. Reza menyaksikan mantan istrinya pergi dengan membawa barang bawaannya. Tiba-tiba, sebuah pemikiran muncul dalam benaknya dan dia bertaruh dengan teman-temannya. "Dia pasti akan menyesal meninggalkanku dan akan segera kembali padaku." Setelah mendengar tentang taruhan ini, Kirana mencibir, "Bermimpilah!" Beberapa hari kemudian, Reza bertemu dengan mantan istrinya di sebuah bar. Ternyata dia sedang merayakan perceraiannya. Tidak lama setelah itu, dia menyadari bahwa wanita itu sepertinya memiliki pelamar baru. Reza mulai panik. Wanita yang telah mencintainya selama tiga tahun tiba-tiba tidak peduli padanya lagi. Apa yang harus dia lakukan?
Pada hari pernikahannya, saudari Khloe berkomplot dengan pengantin prianya, menjebaknya atas kejahatan yang tidak dilakukannya. Dia dijatuhi hukuman tiga tahun penjara, di mana dia menanggung banyak penderitaan. Ketika Khloe akhirnya dibebaskan, saudarinya yang jahat menggunakan ibu mereka untuk memaksa Khloe melakukan hubungan tidak senonoh dengan seorang pria tua. Seperti sudah ditakdirkan, Khloe bertemu dengan Henrik, mafia gagah tetapi kejam yang berusaha mengubah jalan hidupnya. Meskipun Henrik berpenampilan dingin, dia sangat menyayangi Khloe. Dia membantunya menerima balasan dari para penyiksanya dan mencegahnya diintimidasi lagi.
WARNING 21+‼️ (Mengandung adegan dewasa) Di balik seragam sekolah menengah dan hobinya bermain basket, Julian menyimpan gejolak hasrat yang tak terduga. Ketertarikannya pada Tante Namira, pemilik rental PlayStation yang menjadi tempat pelariannya, bukan lagi sekadar kekaguman. Aura menggoda Tante Namira, dengan lekuk tubuh yang menantang dan tatapan yang menyimpan misteri, selalu berhasil membuat jantung Julian berdebar kencang. Sebuah siang yang sepi di rental PS menjadi titik balik. Permintaan sederhana dari Tante Namira untuk memijat punggung yang pegal membuka gerbang menuju dunia yang selama ini hanya berani dibayangkannya. Sentuhan pertama yang canggung, desahan pelan yang menggelitik, dan aroma tubuh Tante Namira yang memabukkan, semuanya berpadu menjadi ledakan hasrat yang tak tertahankan. Malam itu, batas usia dan norma sosial runtuh dalam sebuah pertemuan intim yang membakar. Namun, petualangan Julian tidak berhenti di sana. Pengalaman pertamanya dengan Tante Namira bagaikan api yang menyulut dahaga akan sensasi terlarang. Seolah alam semesta berkonspirasi, Julian menemukan dirinya terjerat dalam jaring-jaring kenikmatan terlarang dengan sosok-sosok wanita yang jauh lebih dewasa dan memiliki daya pikatnya masing-masing. Mulai dari sentuhan penuh dominasi di ruang kelas, bisikan menggoda di tengah malam, hingga kehangatan ranjang seorang perawat yang merawatnya, Julian menjelajahi setiap tikungan hasrat dengan keberanian yang mencengangkan. Setiap pertemuan adalah babak baru, menguji batas moral dan membuka tabir rahasia tersembunyi di balik sosok-sosok yang selama ini dianggapnya biasa. Ia terombang-ambing antara rasa bersalah dan kenikmatan yang memabukkan, terperangkap dalam pusaran gairah terlarang yang semakin menghanyutkannya. Lalu, bagaimana Julian akan menghadapi konsekuensi dari pilihan-pilihan beraninya? Akankah ia terus menari di tepi jurang, mempermainkan api hasrat yang bisa membakarnya kapan saja? Dan rahasia apa saja yang akan terungkap seiring berjalannya petualangan cintanya yang penuh dosa ini?
Keseruan tiada banding. Banyak kejutan yang bisa jadi belum pernah ditemukan dalam cerita lain sebelumnya.