Membangun Surga Bersamamu
Perselingkuhan Gila Istriku
Istriku Lidya yang masih berusia 25 tahun rasanya memang masih pantas untuk merasakan bahagia bermain di luar sana, lagipula dia punya uang. Biarlah dia pergi tanpaku, namun pertanyaannya, dengan siapa dia berbahagia diluar sana? Makin hari kecurigaanku semakin besar, kalau dia bisa saja tak keluar bersama sahabat kantornya yang perempuan, lalu dengan siapa? Sesaat setelah Lidya membohongiku dengan ‘karangan palsunya’ tentang kegiatannya di hari ini. Aku langsung membalikan tubuh Lidya, kini tubuhku menindihnya. Antara nafsu telah dikhianati bercampur nafsu birahi akan tubuhnya yang sudah kusimpan sedari pagi.
Bab 1 PART 1. PROBLEMATIK
Ketika istriku memutuskan untuk kembali bekerja, kemudian di tahun yang lalu ia mengalami kenaikan posisi yang berdampak penghasilannya menjadi jauh berada diatasku, awalnya masih terasa biasa saja. Namun kira-kira di 6 bulan terakhir, perlahan ada perubahan yang mulai dirasakan pada sikap istriku.
Lidya, begitulah nama istriku. Sebagai seorang istri sikapnya memang masih sama seperti Lidya yang sudah aku nikahi 3 tahun yang lalu. Ia masih hormat dan patuh kepadaku, juga masih dengan sepenuh hati melayani segala kebutuhanku di rumah. Aku sebagai suaminya seharusnya merasa beruntung mendapatkan istri secantik dan sebaik dia. Namun diluar peran istri yang masih ia lakukan dengan baik, ada perbedaan yang menurutku cukup mengganggu, yaitu perkara dia yang sudah hampir tidak pernah melibatkanku untuk bepergian. Misalnya untuk berbelanja, jalan-jalan, menghadiri undangan, dll.
Jika dulu setiap hendak bepergian tanpaku, ia selalu meminta izin, kini hanya pemberitahuan saja. Tahu kan bedanya? Jika izin tentunya harus menunggu keputusanku sebagai kepala keluarga, apakah diizinkan atau tidak. Sedangkan jika pemberitahuan, ya sekedar memberi tahu saja kalau dia ada rencana keluar, mau diizinkan atau tidak... ya kegiatannya akan tetap berlangsung. Begitulah kira-kira.
Mungkin jika aku mau bersikap keras, bisa saja aku melarang dia bepergian jika memang aku tidak berkenan. Tapi jujur selama 6 bulan terakhir ini power-ku sebagai seorang suami memang sedang down. Aku bukanlah seorang yang memiliki penghasilan tetap dari gaji bulanan, aku hanya seorang penjual t-shirt yang usahanya menyewa di sebuah trade centre. Namanya bisnis, pendapatannya naik dan turun, bahkan bulan-bulan terakhir terasa sangat berat, omzet penjualan menurun drastis.
Dari pendapatanku, setelah dikurangi biaya sewa tempat dan gaji pegawai toko, yang bisa kudapatkan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga saja. Ada untungnya kami belum dikaruniai anak, kalau sudah… tentu semakin banyak kekurangan untuk menutupi biaya rumah tanggaku. Sementara cicilan rumah dan mobil, istrikulah yang menanggung selama 6 bulan terakhir ini. Memang Lidya tidak pernah perhitungan, sepertinya dia sangat ikhlas dengan apa yang sudah dia keluarkan, walaupun itu sesungguhnya adalah kewajiban suami. Namun aku dengan segala harga diriku, merasa sudah jatuh harkat dan martabat sebagai seorang suami dihadapannya.
Itulah mengapa kini aku tak memiliki keberanian untuk melarang setiap istriku pergi. Jikapun aku memaksakan untuk ikut pergi bersamanya, UANG DARIMANAAAA???!?!?!!? Dibayarin pun rasanya gengsi.
Aku memang sudah tidak pernah mengajaknya jalan-jalan, aku juga selalu menolak dengan beragam alasan apabila dia mengajakku, apalagi ketika Lidya mengatakan akan mentraktirku… tidak!!! Mungkin dari sikapku itulah awal mula mengapa Lidya sekarang jika ada kegiatan di luar rumah sudah tidak mau melibatkanku lagi.
Lidya yang masih berusia 25 tahun rasanya memang masih pantas untuk merasakan bahagia bermain di luar sana, lagipula dia punya uang. Biarlah dia pergi tanpaku, namun pertanyaannya, dengan siapa dia berbahagia diluar sana? Makin hari kecurigaanku semakin besar, kalau dia bisa saja tak keluar bersama sahabat kantornya yang perempuan, lalu dengan siapa? entahlah, akupun belum bisa memastikan.
***
PAGI YANG TAK BIASA
Aku terbangun dari tidur, sambil memicingkan mata aku melihat jam dinding yang tergantung di kamarku sudah menunjukan jam setengah delapan pagi. Aku memang meliburkan diri setiap hari Minggu. Dan di hari itulah aku sengaja ‘mengistirahatkan’ tubuh dan pikiranku dengan sedikit bermalas-malasan. Kemudian bercengkrama dengan istriku di sepanjang hari, menonton Netflix atau apapun itu, pokoknya masih aktivitas di seputaran rumah yang tak mengeluarkan uang. Tapi sepertinya itu semua tidak akan terjadi di hari ini.
Istriku kemarin malam sudah mengatakan bahwa dia akan pergi hari ini jam 10 bersama Vina, sahabat kantornya. Dan lagi-lagi aku hanya mengangguk tanpa berusaha untuk mencegahnya. Dia bilang hari Minggu ini akan ke salon, creambath, facial, skin care-an, kemudian lanjut dengan gym… jika masih ada waktu. Tidak ada yang aneh dengan kegiatannya itu, Lidya memang rutin merawat wajah dan tubuhnya. Tapi untuk gym, jadwalnya biasanya setiap hari Rabu malam sepulang dia bekerja, tapi entahlah… yang pasti dia mengatakan akan nge-gym di hari Minggu ini.
Biasanya setiap aku bangun kesiangan seperti ini di hari Minggu, aku tidak akan mendapati istriku di kamar. Dia sudah sibuk di dapur memasak masakan favoritku, atau sekedar membuatkan sarapan, seperti itulah kebiasaanya sejak awal pernikahan kami. Namun di pagi ini, aku melihat Lidya masih ada di kamar ini, ia sedang duduk di depan meja riasnya sambil berdandan, posisinya membelakangi tempat tidur. Dengan handuk yang masih membungkus tubuhnya, aku melihat begitu sexy-nya istriku ini. Saking asyiknya dia memoles wajahnya, tampaknya dia tidak menyadari bahwa aku sudah terbangun. Akupun memang sengaja tidak membuat gerakan atau suara yang mungkin akan mengganggu aktivitasnya. Saat ini aku menikmati pemandangan yang membuat batang kemaluanku lebih mengeras dibanding pagi-pagi sebelumnya.
Dari belakang, aku melihat pundaknya yang putih bersih terasa begitu menggairahkan dan bulatan payudara yang kulihat dari pantulan kaca menyembul dibalik lilitan handuknya. Ukurannya 34d, cukup membuat mata lelaki tak berkedip apalagi jika Lidya mengenakan pakaian yang sedikit ketat atau belahan dada yang sedikit terbuka. Pantatnya yang padat kini menempel di kursi rias kecil itu, membuat lekuk di kedua tepinya membulat dan tampak menggemaskan.
Lalu kini aku melihat wajahnya, Lidya bukanlah perempuan yang membuat make up sebagai topeng kecantikan. Tanpa make up sekalipun wajahnya sudah cantik, bulu alis hitam terurai rapi, mata yang bulat… namun selalu teduh setiap kali ia memandang, hidungnya yang mancung asli bukan hasil operasi, bibir tipis, dagu sedikit lancip (INGAT YA….. TAK SELANCIP LUCINTA LUNA!!!) dan lesung pipit yang hanya terlihat saat dia tertawa… ah Lidya istriku, kamu memang begitu sempurna.
Keseharian Lidya termasuk saat ia berangkat kerja biasanya hanya memoles wajahnya dengan sapuan make up yang tipis-tipis saja. Tapi mengapa kali ini dia serius sekali berdandan? Memang kali ini yang dia lakukan belum termasuk kategori menor, tapi cukup diluar kebiasaannya. Entah dari jam berapa dia berdandan, sekarang masih menunjukan jam setengah 8 lebih, sedangkan dia rencana berangkat jam 10. Selama itukah dia mempercantik diri? Se-spesial apa kegiatannya hari ini? Bukankan dia mengatakan hanya bepergian bersama Vina ke salon dan gym saja?
Dengan pikiranku yang liar kesana kemari, tanpa sengaja kakiku tersentak saking kesalnya dengan apa yang kupikirkan, gerakanku itu membuat bunyi yang menyadarkan Lidya dari kegiatan berdandannya.
“Sayang, udah bangun?”, tanya Lidya menoleh ke arahku sambil tersenyum dengan sangat cantiknya.
“Eh… iya, u.. udah Mah”, jawabku terbata seperti seorang anak yang sedang ketahuan mengintip.
Aku langsung beranjak dari tempat tidur, masuk ke kamar mandi yang masih ada di dalam kamar tidurku. Kencing, cuci muka, sikat gigi kemudian aku keluar dan melihat Lidya masih serius di depan meja riasnya. Bahkan kali ini dia seolah tidak menghiraukanku. Melihat hal itu aku langsung keluar kamar menuju ruang makan untuk sarapan.
Begitu terkejutnya ketika aku tidak melihat makanan apapun di atas meja makan… bahkan air minum sekalipun tak ada. Aku sedari kecil bukanlah lelaki manja yang harus disiapkan segala sesuatunya termasuk makan dan minum. Aku sebenarnya bisa menyiapkannya sendiri, aku juga tak pernah menuntut istriku untuk memperlakukanku seperti itu. Tapi sejak pernikahan hingga hari kemarin, tanpa diminta pun Lidya selalu tidak pernah absen menyajikan sarapan setiap pagi dan juga makan malam, air minum untukku pun biasanya sudah dia sediakan di meja makan ini. Bahkan sedang sakit sekalipun, Lidya tetap melakukan pekerjaan itu. Itu yang membuatku kini menjadi sedikit manja dan cukup shock dengan kenyataan yang kudapatkan di pagi ini.
Aku kemudian duduk di meja makan yang kosong. Aku tidak marah, tidak….! Sedikitpun aku tidak merasa marah. Hanya aku bertanya-tanya, ada apa dengan Lidya?
Tak lama kemudian dari arah kamar, Lidya berlari ke arahku, gerakan lari tergopoh-gopoh dengan kondisi tubuhnya yang masih terbalut handuk membuat payudaranya naik turun dengan jelas.
“Pah, maaf… Mamah lupa belum nyiapin sarapan”, kata Lidya panik dan seperti sangat menyesal dengan kekhilafannya. Kemudian dia bergegas hendak ke arah dapur bersih yang berada tepat di belakangku. Aku kemudian menghentikan langkahnya dengan memegang lengannya, akupun berdiri dan mengecup keningnya.
“Sudah Mah, lanjutin aja dulu pake pakaiannya, Papah bisa rebus telur sendiri koq, kasian Mama udah cantik… masa harus masak?”, ucapku mencoba tersenyum untuk menenangkan Lidya. Ucapanku dibuat setegar mungkin seolah aku baik-baik saja, padahal apa yang bergemuruh di dalam hatiku berkata lain.
“Beneran Pah?”, tanya Lidya dengan mata membulat memandangku untuk memastikan kalau aku tidak marah.
“Iya, Sayang…..”, jawabku singkat kemudian berusaha mengecup bibirnya. Namun Lidya menolak ciumanku dengan cara menjauhkan wajah dan tubuhnya dari pelukanku. Jujur, aku sangat kecewa dan semakin bertanya-tanya, mengapa dia sampai menghindar seperti itu? Padahal selama ini tak pernah sekalipun dia menolak setiap kali aku ingin mengecupnya. Apakah takut riasannya menjadi rusak? Atau karena hal lain?
“Nanti malam aja ya Sayang”, Lidya berucap dengan senyuman terukir indah di wajahnya, kedua telapak tangannya pun kini mengelus-elus pipiku, sepertinya ia tahu aku kecewa dari perubahan ekspresi wajahku, dan kini dia sedang mencoba untuk menghiburku.
Belum juga aku terhibur, tak sempat juga aku membalas senyumannya, ia sudah berbalik menuju kamar dan melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Kembali mempercantik diri, yang entah kecantikannya itu akan ditunjukan pada siapa?
Bersambung
Surga Dunia Ibu Kandung
Tanpa membantah sedikit pun, aku berlutut di antara sepasang paha mulus yang tetap direnggangkan itu, sambil meletakkan moncong patokku di mulut kenikmatan Mamie yang sudah ternganga kemerahan itu. Lalu dengan sekuat tenaga kudorong batang kenikmatanku. Dan …. langsung amblas semuanya …. bleeesssss
Aku Membenci Setiap Detik Bersamamu
Dunia Alira Evangeline Moore runtuh dalam sekejap, ketika pria yang selama ini ia percayai-Damian Crestfall, pewaris tunggal Crestfall Group, konglomerasi hiburan terbesar di negeri itu-mengatakan sesuatu yang membuat napasnya tercekat. Setelah tujuh tahun menjalin cinta yang penuh janji, Damian me
Gadis Nakal Sang Bidadari Surga
Seorang gadis yang menjadi ratu dalam genk motor bernama The Wild Ants, dia adalah Ayana. Gadis yang di kenal pemberontak dan nakal yang akhirnya di kirim ke pesantren oleh Papanya. Tanpa di duga ternyata dia juga di jodohkan oleh seorang anak pemilik pesantren, bernama Gus Farhan. Perjodohannya ada
Cahaya Pelangi dari Surga
"Sekarang kau bisa bahagia setelah dia pergi, Halilintar!" "Demi Tuhan, bukan ini yang kuinginkan!" Penderitaan tidak pernah surut menyelimuti Rubby. Siksaan ibu tiri selalu memberikan luka pada tubuh. Kehadiran Rain—sahabat Rubby, menguatkan dirinya. Rain menjanjikan cinta yang tulus. Keti
Surga Yang Direnggut Paksa
Hasna pikir Menjadi Yang kedua mampu membuatnya bahagia, nyatanya itu adalah awal kehancuran Hidupnya karena telah jadi perusak dalam rumah tangga adik kandungnya sendiri.
Surga Terakhir yang Hilang
Ava menarik nafas panjang sebelum melepas penutup terakhir tubuhnya. Dan kali ini, yang hadir hanyalah ketelanjangan yang membebaskan, ketelanjangan yang membebaskannya dari pakaian kepalsuan yang menutupinya selama ini. Ava memejamkan mata, menikmati udara sore dan dingin air yang mengalir membasah
Kamu Milikku (Hasrat Gila bersamamu)
Thania diculik saat perayaan pesta ulang tahun. Kedua orang tuanya dibunuh dan ia dijadikan budak ranjang seorang mafia kejam. Akankah Thania berhasil membuat lelaki itu jatuh cinta dan membantu dirinya menyibak konspirasi keluarga?
Neraka di Matanya, Surga dalam Ciumannya
Gabriela mengetahui bahwa pacarnya telah berselingkuh dan menganggapnya sebagai wanita murahan, sehingga dia melarikan diri dari rasa sakit hatinya dengan petualangan nekat. Pada suatu malam yang gelap dan menggoda, dia berada di atas tempat tidur bersama pria asing, lalu menyelinap pergi saat fa
Aku Bukan Don Juan
Apa salahku kalau memiliki postur tubuh tinggi gagah dan tampan, sudah gen turun temurun memiliki tubuh atletis tanpa kerja keras. Dengan pesonaku semua wanita sukarela membuka lebar kaki mereka, bukan aku yang minta tapi mereka yang mengajakku. Awalnya iseng lama kelamaan aku kecanduan ... Shit!!
AKU dan MAS DIREKTUR
Perjodohan yang tak di harapkan membuat Ajeng bersikeras untuk melarikan diri menghindari pertunangan yang telah di tentukan. Namun, nasib mujur memang membuat Ajeng merasa dirinya telah menang. Lelaki yang di jodohkan tidak hadir di saat waktu yang telah di tetapkan.
