img BLIND HEART  /  Bab 5 Sikap Aneh | 10.42%
Unduh aplikasi
Riwayat Membaca

Bab 5 Sikap Aneh

Jumlah Kata:996    |    Dirilis Pada: 22/11/2021

a

sa-sisa air mata masih membekas di sana. Rambut k

n untuk kembali ke rumah besar tempatku bekerja beberapa hari ini. Aku mengesampingkan ego dan emosik

menung sendirian, kehela napas berat, kali ini fokusku buk

"Ayah jangan sedih, Silva janji akan cari uang buat bayar hutang kita,"

noleh ke arahku dengan senyum dipaksa

untuk menghidupi kami sekeluarga. "Seharusnya Silva y

Kamu anak Ayah yang hebat, nggak

dah, sekarang Ayah istirahat,

ada sama lelaki yang mendekat

Ayahku

aman tuan besar yang kali ini kuharap tak mengingat sikap tak

ciumannya kembali terlintas, bisa-bisanya a

ampakan keangkuhan yang sama dengan sang empunya. Kutarik napas

i setelah dipersilahkan petugas keamanan, mataku

h datar yang selalu mengiku

, Jo," sapaku

spresi. "Untuk apa kau dat

berdebar-debar. "Kenapa pertanyaanmu sep

ajam. "Tuan Max hampir membunuhku kar

arkah seperti itu? Lalu b

nar-benar tidak seng

ilahkan tinggalkan tem

a. Pekerjaan ini adalah harapanku satu-satunya, jika d

rbicara dengan Tuan Max

mbil resiko kau kembal

keributan, aku akan meminta maaf

tingan benda-benda dari arah kamar Tuan Max. Sontak saja pria itu m

pelayan yang juga baru ti

i kesalahan?" Suara wanita par

tu terdengar, matanya seper

ajam, dadanya naik turun se

uan

sat!" Hardikan Tuan Max

la pelayan mulai mundur perlahan. Tentu saja, s

erakan di lantai. Lalu, aku merasakan jantungku seakan lepas dari tempatnya ketika Tuan

i ke arahnya, menarik lengan kekar i

besar itu oleng dan malah jatuh menimpaku. Kami ja

buru. Tak lama, ia menggeram kasar layaknya srigala yang hend

g lagi," ge

... Say

aumu, hm?" t

, bisakah and

sa!" tukas

ar, berharap pertolongan dari Jo. Tapi, betapa terkejutnya aku saat t

n, hm?" dengus T

napas, badan anda terlalu berat," ujarku kesal.

dalam, lalu setelahnya ia

ekatan dengannya bukan hanya membuat napasku sesak, ta

aha tak menyinggung perasaannya, tapi sayangnya aku tak berh

ya, lalu berusaha berdiri

ertama kali. Kutuntun ia menuju kasur tanpa melewati pecahan benda ya

hkan kamar, Tuan

u bukan tugasmu!"

liknya di sini? Ya, mungkin saja dia menganggap tanganku

ang lagi?" tanya

s kujawab. "Maaf untuk hal kemarin, Tuan. Tapi, sungguh

atakan jangan pergi tanpa izinku. Tapi,

ciumku tanpa permisi!" ujarku keras,

al erat menandakan emosi yang siap meluap. Tapi, kalimat pria itu se

leh menciummu? Atau bahkan menidurimu?"

*

B

Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY