Mungkin karena sudah terlalu lama tidak ada balasan, pihak lain mengirim serangkaian pesan. "Emma tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Cepatlah, sobat. Amelia belum curiga, kan? Tapi jangan khawatir. Aku sudah mengatur semuanya di pusat transplantasi organ. Tinggal kamu yang harus membujuk dengan lembut agar mau menjalani operasi. Kecocokannya sangat tinggi, seperti jodoh. Seolah-olah alam semesta sedang membantu Emma."
Akhirnya, ada berkas PDF dengan tanda merah yang telah dikirim bolak-balik.
Laporan pemeriksaan fisik Amelia menunjukkan semua datanya cocok dengan seorang wanita bernama Emma Foster sebanyak 95 persen.
Pancuran air di kamar mandi berhenti. Amelia dengan mekanis menaruh kembali telepon itu di tempatnya dan berbaring.
Jeffrey muncul dengan aroma sabun mandi yang segar dan secara otomatis merangkulnya.
Amelia mulai menjauh, tetapi telepon berdering tepat pada waktunya. Jeffrey melepaskannya hampir seketika.
Beberapa detik kemudian, dia membungkuk untuk mencium puncak kepalanya dan berkata dengan lembut, "Ada darurat di kantor. Aku perlu mengurusnya. Tidurlah lebih awal. Jangan menunggu."
Amelia tetap menutup matanya rapat hingga mendengar pintu depan mengklik tertutup. Kemudian dia bangkit dan duduk di meja komputer Jeffrey.
Setelah lima tahun berpacaran, Jeffrey tidak pernah membawa teleponnya ke kamar mandi.
Amelia selalu mempercayainya. Dia tidak pernah mengintip, bahkan pada teleponnya.
Komputer itu memiliki aplikasi obrolan yang terbuka. Secara alami, dia lupa untuk keluar.
Jari-jari Amelia bergetar saat dia mengetuk trackpad. Obrolan dengan seseorang bernama Emma menatap kembali dari posisi yang disematkan.
Pesan terakhir dikirim sepuluh menit sebelumnya. "Tiba-tiba menginginkan kue dari gang di belakang distrik universitas. Kamu biasa menyelinap melewati tembok untuk membelinya untukku. Dadaku terasa sesak sekarang. Aku tidak bisa makan apa pun. Hanya memikirkan satu gigitan itu."
"Berhenti bercanda. Aku akan datang sekarang. Tidak ada kue. Makanlah sesuai pola makan yang dianjurkan dokter terlebih dahulu."
Yang disebut darurat ternyata adalah keinginan wanita lain akan kue.
Amelia merasa tangan dan kakinya seperti disiram air dingin. Jari-jarinya bergetar saat dia menggulirkan mouse.
Dia tidak curiga. Dia dengan sengaja menyakiti diri sendiri mencari bukti bahwa mereka pernah saling mencintai.
Dia mencari bahkan jejak terkecil yang bisa membuktikan lima tahun ketulusan ini bukanlah lelucon belaka.
Riwayat obrolan memanjang dengan pesan-pesan Emma yang bergantian antara rengekan manja menggoda dan keluhan tentang penyakitnya.
Jeffrey membalas dengan kesabaran dan kebijaksanaan yang belum pernah Amelia lihat. Dia peduli tentang setiap hasil tes dan mengingat kesukaannya sampai ke detail.
Di antara mereka tersebar potongan tentang Amelia sendiri.
"Kamu sering datang menemuiku. Pacarmu tidak marah, kan? Dia tampaknya cukup menyukaimu."
"Jangan khawatir. Dia mudah untuk ditenangkan. Dan kecocokan ginjalnya sangat tinggi. Begitu dia menyumbangkannya kepadamu, semuanya akan baik-baik saja."
Setiap kata tertoreh dalam hati Amelia.
Dia kehilangan jejak berapa lama dia menggulir hingga mengangkat tangan ke pipinya dan merasakannya basah.
Semua lima tahun cinta ini ternyata untuk dua ginjalnya yang cocok dengan Emma dengan sangat baik.
Tetapi Jeffrey tidak tahu, bertahun-tahun lalu, Amelia sudah mendonorkan ginjal kirinya kepada pasien uremia yang menunggu lama.