Buku dan Cerita Jasper Quinn
Impian Dongengku Hancur: Pengkhianatan Kejamnya
Selama sembilan tahun, pernikahanku dengan raksasa teknologi Adrian Wijaya adalah sebuah dongeng. Dia adalah taipan perkasa yang memujaku, dan aku adalah arsitek brilian yang menjadi dunianya. Cinta kami adalah jenis cinta yang dibisikkan orang-orang dengan penuh iri. Lalu, sebuah kecelakaan mobil merenggut semuanya. Dia terbangun dengan sembilan tahun terakhir ingatannya terhapus. Dia tidak mengingatku, hidup kami, atau cinta kami. Pria yang kucintai telah tiada, digantikan oleh monster yang melihatku sebagai musuhnya. Di bawah pengaruh teman masa kecilnya yang manipulatif, Helena, dia membunuh adikku karena utang sepele. Dia tidak berhenti di situ. Di pemakaman adikku, dia memerintahkan anak buahnya untuk mematahkan kedua kakiku. Tindakan kejam terakhirnya adalah mencuri suaraku—memerintahkan transplantasi pita suaraku ke Helena, membuatku bisu dan hancur berkeping-keping. Pria yang pernah berjanji untuk melindungiku telah menjadi penyiksaku. Dia telah mengambil segalanya dariku. Cintaku yang begitu besar padanya akhirnya membusuk, berubah menjadi kebencian murni yang absolut. Dia pikir dia telah menghancurkanku. Tapi dia salah. Aku memalsukan kematianku sendiri, membocorkan bukti yang akan membakar seluruh kerajaannya hingga rata dengan tanah, dan menghilang. Pria yang kunikahi sudah mati. Sudah waktunya membuat monster yang memakai wajahnya membayar semuanya.
Keluar dari Kepompong
Setelah tiga tahun di luar negeri, Emma Fowler kembali ke tanah airnya dan mendapati dirinya dikirim ke ranjang Nathan Tate sebagai pendamping. Malam penuh gairah mereka mengungkapkan bahwa Nathan sama sekali tidak mengenalinya. Dia sungguh terpesona dengan perubahan dalam dirinya. Emma memilih untuk tidak mengungkapkan identitas aslinya dan malah mengirimkan pesan diam-diam, menanyakan apakah janji pernikahan yang pernah dibuatnya masih berlaku. "Aku selalu menganggapmu sebagai saudara," jawabnya dengan dingin. Kata-katanya menusuk hati Emma. "Janji-janji itu sekadar untuk menenangkan hatimu saat kamu menjalani pengobatan di luar negeri. Kita sudah selesai. Jangan hubungi aku lagi." Emma dengan tenang mematikan ponselnya, memutuskan kerinduan sepuluh tahun lamanya. Namun pada hari dia berencana pergi, mata Nathan berkaca-kaca saat dia berlutut di depannya, memohon dengan suara lirih. "Emma... jangan tinggalkan aku. Kamu bilang kamu akan menikah denganku..." Dia melepaskan genggamannya tanpa ragu. "Kamu bilang aku seperti saudara bagimu..."
Rivalku, Harapan Satu-Satuku
Di hari ulang tahunku, ibuku bilang sudah waktunya aku memilih seorang tunangan dari deretan bujangan paling bergengsi di Jakarta. Dia mendesakku untuk memilih Alexander Adhitama, pria yang kucintai dengan begitu bodohnya di kehidupanku yang sebelumnya. Tapi aku ingat bagaimana akhir kisah cinta itu. Di malam sebelum pernikahan kami, Alexander memalsukan kematiannya dalam sebuah kecelakaan jet pribadi. Aku menghabiskan bertahun-tahun sebagai tunangannya yang berduka, hanya untuk menemukannya hidup dan sehat di sebuah pantai, tertawa bersama mahasiswi miskin yang pernah kubiayai secara pribadi. Mereka bahkan sudah punya seorang anak. Saat aku mengonfrontasinya, teman-teman kami—pria-pria yang dulu berpura-pura menghiburku—justru menahanku. Mereka membantu Alexander melemparku ke laut dan hanya menonton dari dermaga saat aku tenggelam. Saat air menelan kepalaku, hanya satu orang yang menunjukkan emosi yang sesungguhnya. Rival masa kecilku, Darrian Kencana, meneriakkan namaku saat mereka menahannya, wajahnya dipenuhi duka. Hanya dia yang menangis di pemakamanku. Saat membuka mata lagi, aku kembali ke penthouse kami, seminggu sebelum keputusan besar itu. Kali ini, saat ibuku memintaku memilih Alexander, aku memberinya nama yang berbeda. Aku memilih pria yang meratapi kematianku. Aku memilih Darrian Kencana.
