Unduh Aplikasi panas
Beranda / Anak muda / Pancaroba
Pancaroba

Pancaroba

5.0
7 Bab
15 Penayangan
Baca Sekarang

Tentang

Konten

Kehidupan Aretha yang mulanya biasa-biasa saja, seketika berubah sejak pertemuannya dengan cowok yang di cap aneh di sekolahnya. Cowok yang sulit di tebak jalan pikiran hingga kehidupannya.

Bab 1 Bertemu Dia

Aretha kian menambah kencang larinya, pasalnya gerbang sekolah sebentar lagi akan ditutup oleh Mang Jaka. Security sekolah yang terkenal dengan keangkerannya. Hmm ... lebih tepatnya galak.

Bukan apa-apa, cewek berambut ikal ini juga sudah keseringan datang terlambat. Terlalu sering, dengan kata lain hampir setiap hari. Ya ... bukan Aretha namanya jika muncul di sekolah tepat waktu.

Jika biasanya gadis manis ini datang terlambat sendirian, kali ini ia mendapat teman. Seorang cowok terkenal aneh di sekolahnya. Ia terlihat sedang berusaha membujuk Mang Jaka.

Melihat itu, Aretha memutuskan untuk berhenti sejenak dan menjadi penonton perdebatan seru antara Mang Jaka dengan cowok yang ia ketahui bernama ...

Siapa ya? Aretha mendadak lupa.

"Mang bukain pagarnya donk," pinta cowok berkulit kuning langsat ini dengan wajah memelas.

Dan bukan Mang Jaka namanya, jika mempan di bujuk. "Nggak bisa!!" sahut Mang Jaka tegas tanpa mau di bantah.

"Ayolah Mang, lagian seumur-umur saya baru kali ini terlambat. Masa' iya saya nggak dapat toleransi gitu." Dia masih belum menyerah.

Aretha yang sejak tadi jadi penonton memutuskan untuk mendekat dengan senyum tanpa dosanya. Rambut panjangnya yang tergerai, kini tampak sedikit berantakan disapu angin pagi. Perempuan berlesung pipi ini terlihat begitu yakin bisa melewati gerbang.

"Mang, Ayolah saya mohon." Cowok yang masih belum bisa Aretha ingat namanya ini, masih berusaha keras membujuk Mang Jaka.

"Nggak bisa! Walaupun baru sekali, judulnya sama aja. Kamu terlambaaaatt."

Mang Jaka juga masih tak mau kalah.

Perdebatan yang tampak seru di mata Aretha, tapi tentu saja dia tak akan membuang waktu hanya duduk menonton. Pasalnya dia juga harus bisa masuk kekelas kali ini.

"Lagi pada ngapain sih?" tanya Aretha mencoba akrab dan sok asyik.

Bukan jawaban yang dia dapat, melainkan tatapan sinis dari cowok misterius itu.

"Dih, biasa aja donk ngeliatinnya. Gue tahu, gue cakep tapi nggak begitu juga mata lo," komentar Aretha dengan nada kesal.

"Lagian lo nggak ada niatan minta bantuan gue gitu buat ngebujuk Pak Kumis ini?"

"NGGAK!!" ketusnya lalu kemudian beranjak pergi menyusuri trotoar. Membujuk Mang Jaka yang tak kunjung luluh hatinya, hanya akan membuat tenaganya habis saja.

Aretha hanya diam memandangi kepergian cowok tadi yang kian menjauh. Ah ... abaikan sajalah, toh mereka tidak cukup akrab bahkan tidak cukup kenal untuk saling peduli. Aretha harus bisa masuk kekelasnya hari ini.

Come On Aretha, keluarkan semua jurus rayuan kamu.

"Kamu ngapain masih di sini?!"

Huft, belum apa-apa Aretha sudah di hadiahi ucapan ketus Mang Jaka. Kejam amat sih.

"Mau kekelas. Boleh ya Mang? Please, please, please ... ," bujuk Aretha dengan mimik muka super memelasnya. Tak lupa dia juga menangkupkan kedua tangannya dan meletakkannya di depan dada. Bermaksud memohon kebaikan hati Mang Jaka.

"Aku traktir nasi padang deh. Atau kalau nggak rujak cingur yang ada di pengkolan jalan sono," sambung Aretha lagi mulai melancarkan rayuan sogokannya.

"Neng Pulang," titah Mang Jaka dengan muka terat seriusnya.

"Oh ... atau kalau nggak Aku traktir makan di kantin selama seminggu deh." Aretha masih tak menyerah.

"Neng ARETHA SAQUILA, PULANG SEKARANG. Atau Neng Aretha mau saya kena kan pasal berlapis karena telah berusaha menyogok saya?"

"Dih emang ada yang kayak begitu di sekolah?" Aretha malah memamerkan raut wajah cemberutnya.

"Lagian nggak usah ngegas gitu mang. Niat aku kan baik mau traktir."

"Pulang!!" perintah Mang Jaka lagi tanpa tapi.

"Iya ... iya ... aku pulang. Galak amat sih."

Dengan perasaan kesal bercampur kecewa, Aretha meninggalkan gerbang sekolahnya. Dia bisa saja pulang sekarang seperti perintah Mang Jaka tadi, tapi itu artinya Ia harus siap dengan omelan bundanya. Kalau sudah begini mau nggak mau deh dia pakai trik lama.

Hm persisnya trik yang selalu dia pakai saat dia telat ke sekolah. Ya ... tidak ada pilihan lain.

***

Seperti kebanyakan siswa yang terlambat dalam film atau bahkan di reallife sekalipun, mereka akan memanjat tembok sekolah saat terlambat. Dan ya ... itu juga yang akan Aretha lakukan kali ini.

Hm no ... persisnya dia sudah terlalu sering melakukannya. Bisa di bilang selama satu tahun terakhir ini. Mohon jangan ditiru kelakuan Aretha yang satu ini ya. Terlambat ke sekolah saja sudah salah, dan masuk ke sekolah lewat jalur belakang tentu salah juga.

Di belakang sekolah, Aretha kembali di pertemukan dengan cowok tadi. Cowok yang bisa di bilang cukup tampan bak aktor korea itu terlihat berdiri tegak menghadap tembok yang cukup tinggi dengan kepala mendongak. Tanpa banyak pikir, Aretha mendekat ke arahnya.

"Lo lagi ngapain?" tanya Aretha pura-pura lugu, padahal dia tahu persis apa yang akan di lakukan manusia aneh satu ini.

"Bukan urusan lo!"

Lagi-lagi Aretha mendapat respon tak menyenangkan darinya. Aretha baru tahu, ternyata selain aneh dia menyebalkan juga.

Cowok tadi berniat pergi, namun ucapan Aretha membuatnya seketika urung.

"Lo mau masuk ke sekolahkan? Gue bisa bantuin lo kalau lo mau."

"Bantuin gue? Lo sendiri aja nggak bisa ngebantu diri lo sendiri."

"Woah, lo ngeremehin gue? Lagian, salah lo sendiri yang dari tadi nggak kooperatif banget. Marah-marah mulu' kayak ABG PMS."

"..."

"Kita itu harus kerja sama ... " Aretha menajamkan penglihatannya agar bisa melihat nametag di seragam cowok berkulit kuning langsat ini. Serius ... Aretha lupa siapa namanya.

"Ma-he-sa." Aretha berhasil mengeja nama cowok aneh nan menyebalkan ini.

Sementara Mahesa hanya menghela nafas kasar sambil memutar kedua bola matanya. Kesal.

"Sekarang bantuin gue susun-susunin ini batu bata. Biar kita bisa manjat nih tembok." Aretha mulai sibuk sendiri, menyusun batu bata. Mahesa tak tergerak sedikitpun membantunya.

"Lo siapa ya?"

Aretha menyodorkan tangannya sambil tersenyum lebar, seperti bocah kecil yang dapat jatah permen sepabrik.

"Nama gue Aretha. Aretha saquila. Anak kelas XI IPS 1."

"Gue nggak perlu tahu nama lo siapa. Yang gue maksud, lo siapa berani-beraninya nyuruh gue?"

Aretha mulai kesal, ia tampak beberapa kali menghempaskan kakinya, saking emosinya. Aretha kembali sibuk menyusun batu bata, ini bukan saat yang tepat untuk melampiaskan kemarahannya. Ia sudah tidak punya banyak waktu, ia harus segera masuk ke kelas.

"Ya Allah ... mimpi apa Aretha semalam harus ketemu sama cowok model kayak begini? Apa susahnya coba menghargai niat baik orang, toh nggak ada ruginya ini. Malah untung karena dapat bantuan dari cewek terkece badai di sekolah. Apa semua cowok sekarang modelannya kayak begini?"

Aretha terus mengoceh tidak jelas. Namun jelas sekali ia tengah menyindir Mahesa. Sementara yang di sindir tampaknya tak terpengaruh sama sekali. Masih setia jadi penonton.

"Semoga aja, jodohnya Aretha nggak kayak dia ya Allah. Naudzu-."

Suara Aretha yang tadinya kencang terhenti begitu saja, karena tiba - tiba Mahesa turut membantunya, ya walaupun sudah hampir selesai sih. But ... its okay.

"Lo yakin dengan cara ini kita bakalan aman sampe ke kelas?" tanya Mahesa terlihat agak tak yakin.

"Tenang aja. Gue udah ahli banget sama yang beginian. Tembok bagian sini itu, berada persis di area sanggar seni yang lama. Dan area sini itu yang paling aman dan jauh dari pantauan guru piket yang patroli." Aretha menjelaskan secara detail karena memang dia sudah hafal betul dengan keadaan setiap area di sekolahnya. Efek sering terlambat sepertinya.

"Maksud lo sanggar seni yang udah nggak kepake itu?"

"Iya. Yang katanya ada-."

"Udah jangan di terusin." Lagi-lagi Mahesa menyela ucapan Aretha.

"Kenapa? Gue kan cuma mau bilang kalau sanggar seni itu jadi sarangnya kuntilanak."

Mahesa terdiam, wajahnya tampak begitu cemas dan ketakutan sekarang. Aretha merasa heran sendiri. Nih bocah kenapa sih?

Iya ... Aretha tahu dia sering di cap aneh karena sifatnya sama orang yang suka berubah-ubah, tapi nggak seaneh ini juga kan? Kenapa ekspresinya jadi kayak orang habis ketemu setan begitu?

"Lo kenapa?"

"Nggak apa-apa."

"Hm ... jangan bilang lo takut sama kuntilanak."

"Siapa bilang? Nggak kok." Mahesa tampak makin panik. Jelas sekali dia hanya sedang berusaha menutupi ketakutannya.

"Fix, lo takut sama kuntilanak. Hahahah," komentar Aretha terlihat puas sekali menertawakan Mahesa.

"Mahesa ... Mahesa ... hari gini takut sama setan, yang benar aja lo? Setan juga males nakut-nakutin lo."

"Udah. Buruan panjat. Gue bakal bukti'in sama lo kalau gue nggak takut."

"Takut juga nggak apa-apa kalik. Hahaha," Aretha makin menjadi menggoda Mahesa.

Saat Aretha sibuk menertawakan Mahesa. Mahesa justru sudah melakukan aksinya memanjat tembok.

"Lo masih mau di situ dan ketawa sendiri kayak orang gila?" tanya Mahesa yang kini sudah nangkring di atas tembok.

Gila udah manjat aja tu cowok. Cepat bener. Keturunan spiderman apa gimana? Batin Aretha tak percaya.

Aretha mulai memanjat. Beberapa menit kemudian, Keduanya kini berhasil melewati tembok, dan sudah berada di halaman dekat sanggar seni.

"Huft, akhirnya berhasil juga," ucap Aretha dengan nada lega.

"Thanks."

"Apa? Lo bilang apa? Gue nggak denger."

"Thanks."

Aretha bukannya tidak mendengar. Ia sengaja mempermainkan Mahesa. Kapan lagi ngejahilin manusia pancaroba? Benarkan?

"Apa? Gue masih nggak dengar. Lo kalo ngomong yang jelas donk," Aretha masih saja usil.

"TERIMA KASIH ARETHA SAQUILA."

"Oohhhh ... sama-sama Ma-."

"HEI KALIAN!!! SEDANG APA DI SANA???!!!"

Suara lantang Bu Sondakh, guru BK yang paling ingin Aretha hindari kini berada persis di depan mereka.

Alamat kalau mereka akan mendapat hukuman pagi ini. Huft.

***

Lanjutkan Membaca
img Lihat Lebih Banyak Komentar di Aplikasi
Rilis Terbaru: Bab 7 Gara-gara lo!   02-21 16:18
img
Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY