img Petal's of Scar  /  Bab 7 Impian yang Dikorbankan | 100.00%
Unduh aplikasi
Riwayat Membaca

Bab 7 Impian yang Dikorbankan

Jumlah Kata:2099    |    Dirilis Pada: 20/06/2022

eladeni panggilan darurat dari rumah sakit. Aku tahu, permintaanku ini mungkin sangat membebanimu. Sementara menjadi perawat ada

rulang-ulang bagaikan kaset rusak. Ini sudah hari kedua sejak gadis itu melakukan shalat istikharah, namun dia bel

asien, dari kalangan anak-anak hingga remaja, yang menjalani perawatan di bangsal kardiologi, begitu menyayangi

amping operasi. Karena Rereー yang baru berusia 8 tahun, pasien asuhan Sora, penderita CHF (Congestive Heart Failure) memberontak sambil menangis histeris ketika hendak dib

n. Ia sudah pasrah karena baginya hidupnya sudah tak ada artinya lagi. Berkali-kali ia menyentak dokter atau perawat yang ingin memeriksa kondisinya hingga akhirnya Sora datang.

Jadwal operasi anak-anak itu telah ditentukan dan semuanya jatuh di dua hari terpenting ーmalam pernikahan dan hari Hー dalam hidup Sor

kan tugasnya. Tugasnya merawat bukan menyembuhkan pasien yang sakit. Akan tetapi, entah menga

r tidak bisa memilih. Lantas, bagaimana bibirku bisa menjawab?'

anpa sadar mengarahkan mulut tremos tepa

irullaha

ang kebetulan melewati pantry denga

ass

n pergerakan tangan Sora

*

Putra yang tengah mengobati tangan yang mulai memerah. Berkali-kali gadis itu merutuki kecer

Dok. Saya benar-benar lalai.

an malah membuat Putra tergelak renyah. Ia sama sek

panas membakar seperti ini." balasnya. Well, sensasi panas di punggung m

. mem-memar k

ya tertarik ke atas mengulas senyum. "Aku

ta membeliak. 'Apa maksud

ktu seolah berhenti ketika tanpa sengaja tatapan matanya be

kau sedang melakukan aktivitas," imbuhnya seraya menerbitkan seny

but dari Hazel. Dia juga sosok yang penyayang lagi penyabar. Putra seorang yang sangat sederhana kendati

bergetar. Darahnya berdesir ambigu dengan membawa dopamin menuju o

eh

akan getaran yang cukup ia ketahui apa artinya. Gadis itu buru-buru me

eaksi alami karena keterkejutanku,' batin Sora merutuki jantun

lah, kau boleh memb

utra Rajendra. Selain alim, tampan, baik, ramah,

r ju

inta pendapatnya peri

tu nurse station. Namun, belum sampai kaki jenjang itu menjajaki ambang pintu, Putra merasakan lengan s

i, apakah saya boleh meminta

tatapan itu. Please, jangan tanya,

meledak karena sak

*

itu cukup sepi, setidaknya mereka tidak berduaan. Suasana di antara residen dan perawat itu tidak terlalu canggung

mendengar perawat cantik itu menceritakan

perasi pada hari itu," keluhnya dengan kepala menunduk. Sedang jemarinya memilin ujung kerudung dengan perasaan campur aduk. "Sejujurnya ... andai saya diizinkan egois, saya

mendengar penuturan terakhir Sora. Ah, apa

di? Sebentar lagi wanita di depanku ini akan me

saya seolah berhenti berputar. Semuanya tampak gelap, dan saya terjebak di dalam kegelapan itu," lanjutnya d

li ya?" celetuk Putra ta

kepala, melempar tatapan be

sama. Apa pun profesiku, entah itu supir bus, supir angkot, atau kuli bangunan. Sesibuk apa pun aku atau sejarang apa pun aku bertemu denganmu ... aku

chle

nar tak bisa

ra memastikan. Dan Sora langsung mengkonfirmasi jawaban

eh dibantah. Apalagi sebentar lagi kau akan menjadi istrinya bukan?" imb

Tidak tahu harus membe

kan ke telinga Sora. "Kalau ucapanku membuatmu ters

mimik wajah Sora yang cukup signifikan. Dari yang semula muram

Namun, ia mengentikan langkah di samping Sora. Melirik penuh akan rasa simpati pada gadis malang yang tengah

i api cinta yang berkobar di dalam bola mata Sora.

erintah suamimu. Kau pasti mengerti maksud dari ucapanku ini kan?" tuturnya sangat lembut dan lirih. Putra men

mereka sampai sembuh. Kau fokuslah pada pernikahanmu, hmm? Sekarang kembalilah ke nurse station dan istira

m di sana. Saat menyadari langkah Putra yang kian menjauh, barulah ia berani mengangkat kepala, lalu menoleh ke

tas kebingunganku." Gadis perawat itu tersenyum sendu sembari menyeka air di pelupu

*

Sora langsung mengirimkan jawabannya pada Hazel melalui aplikasi chatting. Dalam ruang c

Ha

rat resign-ku. Do'a kan ya,

dua di samping ketikan masih berwarna abu-a

uambil ini berasal dari

ngkin ke arah matahari yang mulai

*

u di kediama

h. Itu pun karena ia mendengar g

emaja berbalutkan seragam putih abu-abu dengan ke

AAK

terbuka selebar-lebarnya, menampakkan biner hitam yang berkilat jengkel. Disibaknya selimut teba

etika terhuyung ke depan dan jidatnya

Udah kayak batu gunung!" semb

am dengan w

sana!" usir Hera sambil mengibas-ngibaskan tangan layaknya mengusir ayam.

ngannya ini. Namun, ketika Hera hendak berbalik badan tangan Hazel

n kebawelan dewi Hera-ku ini," seru

pernah hampir meregang nyawa karena penyakit kardiomiopati restriktif. Beruntung ART yang bekerja di rumah orang tua

mbuh setelah menjalani perwa

a Hera. Tapi, bukannya menurut Hazel malah mempere

adik yang kurang

KU DI MANA?! AAAAA

ak m

COM KAK HAZEL K

hahaa

anjutkan langkah ke kamar mandi, Hazel menyempatkan diri untuk memeriksa ponselnya. Dan saat itulah ia mendapati

ll

rat resign-ku. Do'a kan ya,

sudut bibir Hazel berkedut, dan di detik berik

ng aku tinggal menjalankan langkah kedua. Ya

Sebelumnya
Selanjutnya
Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY