Buku dan Cerita Poppy West
Jodoh Serigala Putih yang Ditolak Sang Alpha
Malam itu adalah malam pameran seni tunggalku yang pertama, tapi pasangan Alpha-ku, Baskara, tidak terlihat di mana pun. Udara di galeri terasa sesak oleh aroma sampanye dan pujian, tapi setiap pujian terasa seperti tamparan, menyebutku "pasangan sang Alpha," bukan seorang seniman. Lalu aku melihatnya di siaran berita. Dia sedang melindungi wanita lain, seorang Alpha Wanita, dari kilatan kamera. Bisikan di dalam ruangan membenarkannya: kawanan mereka akan bergabung, disegel oleh ikatan baru. Ini bukan hanya tentang keterlambatannya; ini adalah eksekusi publik atas ikatan kami. Suaranya menusuk pikiranku, dingin dan tanpa perasaan. "Kania membutuhkanku. Kau seorang Omega, tangani ini." Bukan permintaan maaf, hanya sebuah perintah. Saat itulah helai harapan terakhir yang kugenggam selama empat tahun akhirnya putus. Dia tidak hanya melupakanku; dia telah secara sistematis menghapusku, bahkan mengambil kredit atas aplikasi bernilai triliunan rupiah yang lahir dari visi rahasiaku, menganggap seniku hanya sebagai "hobi." Tapi bagian diriku yang pendiam dan penurut mati malam itu. Aku berjalan ke sebuah ruang belakang dan mengirim pesan kepada pengacaraku. Aku menyuruhnya untuk menyusun dokumen Ritual Penolakan, yang disamarkan sebagai transfer Hak Kekayaan Intelektual untuk karya seniku yang "tidak berharga". Dia tidak akan pernah membaca tulisan kecilnya. Dengan kesombongan yang sama yang dia gunakan untuk menghancurkan jiwaku, dia akan menandatangani kehancurannya sendiri.
Jatuh Cinta dengan Paman Mantan Pacar
Pada hari pernikahan, Brendan meninggalkanku untuk mencari cinta sejatinya. Ketika aku meneleponnya, dia yang biasanya lembut padaku, untuk pertama kalinya menunjukkan ketidaksabaran, berkata, "Ini hanya pernikahan, nanti aku akan menebusnya." Merasa kecewa, aku menyarankan untuk membatalkan pernikahan. Brendan mengira aku hanya keras kepala. Di hadapan nasihat teman-teman, dia berkata, "Tidak apa-apa, kalau dia sudah tenang, pasti dia akan mencariku." Baru ketika Edrence, sang pangeran, memposting sertifikat pernikahan kami, Brendan tiba-tiba menjadi gila dan datang mengetuk pintuku. Ketika dia melihat pria yang membuka pintu, dia sedikit terkejut. Dan aku, berdiri di belakang pria itu, dengan pipi yang masih memerah, mencondongkan tubuh ke depan dan bertanya, "Ponakan, apa yang membawamu larut malam begini?"
