/0/16228/coverbig.jpg?v=6c4ff6f4dc19505cf8a6235ee23019ee)
"Teruntuk Cinta yang kadang tersesat di hati yang salah dan sulit menentukan arah." Vincent Dawson dan Audrey Dawson. Pasangan yang begitu sempurna dan harmonis bagi semua orang yang melihat, mendengar dan mengetahui pasangan itu. Sejak keduanya melangsungkan pernikahan yang begitu mengejutkan publik Empat tahun lalu, tak pernah sekalipun keduanya diterpa berita miring. Bahkan mereka berdua dijuluki sebagai business couple goals terbaik di negara X tersebut. Benar benar pasangan yang sempurna, tak hanya sempurna secara finansial, namun kisah cinta mereka pun terlihat begitu sempurna. Begitulah yang dipikirkan oleh setiap orang yang memandang pasangan itu. Namun siapa sangka ternyata tidak semua yang kita lihat indah ternyata benar benar indah. Pasangan tersebut begitu banyak menyimpan rahasia dari banyak orang, Vincent Dawson pengusaha sukses terkenal dan juga terkaya di negara X tersebut menikah dengan Audrey Xavier yang kini berganti menjadi Audrey Dawson hanya untuk perjanjian bisnis semata. Keduanya terikat hanya sebatas nama baik untuk meraih keuntungan masing-masing. Semua pertunjukan Harmonis dan romantis yang mereka tunjukkan selama empat tahun ini hanyalah akting belaka.
"Liat liat Tuan dan Nyonya Dawson sudah datang." Ucap salah satu wartawan yang melihat kedatangan mobil mewah berikutnya yang akan melewati red carpet bagi pasangan pengusaha sukses dan terkenal di negara X tersebut.
Setelah pintu mobil penumpang berhenti tepat didepan red carpet tersebut, keluarlah seorang pria yang begitu tampan dengan diikuti oleh sang wanita yang tak kalah mempesona dengan menggunakan gaun tanpa lengan berwarna gold, yang begitu pas di tubuhnya, warna kulitnya yang putih terlihat begitu bercahaya ketika terus menerus ditembaki oleh lampu flash kamera daripada wartawan.
Keduanya tampak begitu harmonis dengan sang pria yang memegang tangan wanitanya sembari berjalan di red carpet tersebut dengan tidak lupa melemparkan senyum kepada setiap wartawan yang memanggil manggil nama mereka.
Vincent Dawson dan Audrey Dawson. Pasangan yang begitu sempurna dan harmonis bagi semua orang yang melihat, mendengar dan mengetahui pasangan itu. Sejak keduanya melangsungkan pernikahan yang begitu mengejutkan publik Empat tahun lalu, tak pernah sekalipun keduanya diterpa berita miring. Bahkan mereka berdua dijuluki sebagai business couple goals terbaik di negara X tersebut. Benar benar pasangan yang sempurna, tak hanya sempurna secara finansial, namun kisah cinta mereka pun terlihat begitu sempurna. Begitulah yang dipikirkan oleh setiap orang yang memandang pasangan itu.
Namun siapa sangka ternyata tidak semua yang kita lihat indah ternyata benar benar indah. Pasangan tersebut begitu banyak menyimpan rahasia dari banyak orang, Vincent Dawson pengusaha sukses terkenal dan juga terkaya di negara X tersebut menikah dengan Audrey Xavier yang kini berganti menjadi Audrey Dawson hanya untuk perjanjian bisnis semata.
Keduanya terikat hanya sebatas nama baik untuk meraih keuntungan masing-masing. Semua pertunjukan Harmonis dan romantis yang mereka tunjukkan selama empat tahun ini hanyalah akting belaka.
"Terus tunjukkan senyummu pada mereka." Bisik Vincent dengan tajam pada Audrey.
Saat ini keduanya tengah berpose di depan para wartawan sebelum mereka memasuki gedung tersebut. Terlihat Vincent merengkuh pinggang Audrey dengan tetap mempertahankan senyum ramahnya.
"Aku tau. Kau tidak perlu memberitahukan hal sekecil itu padaku, empat tahun sudah aku menjalani peran ini, tentu saja aku tau apa yang harus aku lakukan." Balas Audrey dingin, setelah mereka pergi meninggalkan wartawan yang telah mengambil begitu banyak foto mereka.
Saat mereka telah memasuki gedung tersebut, banyak pasang mata yang menyaksikan kedatangan pasangan tersebut, keduanya menatap takjub pada mereka berdua yang malam ini tampak begitu bercahaya. Keduanya mulai berjalan menuju meja yang telah dipersiapkan.
"Selamat malam tuan dan nyonya Dawson, senang rasanya melihat anda datang dengan begitu memukau malam ini." Ucap salah satu rekan bisnis Vincent saat keduanya telah duduk di meja tersebut.
"Selamat malam juga tuan Ronald, namun Saya rasa anda dan istri anda juga tampak sangat memukau malam ini, kalian tampak awet meskipun telah berumur seperti sekarang. Bukan begitu sayang?" Ucap Vincent sembari meminta dukungan dari Audrey atas pujiannya pada Tuan Ronald serta istrinya.
Audrey pun mengangguk sembari tersenyum manis pada Vincent sebelum bersuara. "Kamu benar, saya malah merasa lebih kagum pada anda Tuan Ronald serta Nyonya Ronald. Dibandingkan kami berdua, kalian masih jauh diatas kami, kami masihlah pasangan muda yang belum mempunyai banyak pengalaman seperti kalian."
"Sedangkan kalian, kalian telah melewati banyak hal sampai kalian berusia seperti sekarang, mempunyai anak dan cucu serta hidup bahagia di masa tua kalian kini. Saya justru begitu takjub pada kalian." Ucap Audrey tulus.
Ya, gadis itu memang begitu senang melihat pasangan paruh baya tersebut, keduanya terlihat apa adanya, meskipun mereka bergelimang harta namun keduanya tidak sombong, keduanya juga benar benar harmonis, namun harmonis yang sesungguhnya, bukan seperti dirinya yang hanyalah sandiwara semata. Cinta dan ketulusan antar keduanya begitu terpancar dari sinar mata pasangan paruh baya tersebut.
"Oh ya ampun nyonya Dawson, anda begitu merendah sekali, namun jujur, setiap melihat kalian aku teringat dengan masa muda ku dengan suamiku ini, rasanya benar begitu bahagia." Balas Nyonya Ronald.
"Namun Nyonya Dawson, mengapa anda belum memiliki anak di usia pernikahan anda yang telah menginjak empat tahun ini?" Tanya seorang wanita yang juga duduk di meja tersebut tiba-tiba kepada Audrey.
Tak berselang lama setelah pertanyaan itu dilontarkan, berbondong-bondong beberapa orang yang dominannya adalah wanita kembali melontarkan pertanyaan yang sama karena Audrey yang tak kunjung menjawab pertanyaan tersebut. Hingga akhirnya pertanyaan terakhir muncul kembali.
"Atau mungkin-- Nyonya Dawson mengalami kemandulan??" Tanya wanita itu lagi, yang tadi telah terlebih dahulu menanyakan perihal tersebut.
Deg....
"Saya--"
"Tentu saja tidak Nyonya Earl. Bagaimana mungkin kalian, khususnya anda berbicara seperti itu?" Tanya Vincent yang kini terlihat dingin pria itu menatap tajam pada wanita yang telah melontarkan pertanyaan tadi pada Audrey.
Wanita tersebut pun langsung gugup seketika, setelah Vincent menatapnya seperti itu. "Saya-- saya bertanya hanya sekedar bertanya biasa saja Tuan Dawson, tidak ada unsur lain." Ucap wanita itu berkilah.
"Saya harap anda dan kalian semua tidak perlu terlalu ikut campur dengan urusan pribadi seseorang, karena itu begitu menyinggung. Tak sepantasnya pertanyaan seperti itu dilontarkan, apalagi di depan khalayak umum seperti ini." Ucap Vincent lagi dengan masih mempertahankan nada dinginnya.
Tuan Ronald dan nyonya Ronald yang melihat kondisi di meja itu berubah menjadi mencekam pun akhirnya memutuskan untuk kembali bersuara.
"Hahaha, itu benar sekali tuan Dawson. Anda benar benar keterlaluan nyonya Earl, itu adalah urusan pribadi mereka, mengapa anda harus repot repot mengurus mereka?" Ucap tuan Ronald.
"Kau benar suamiku, nyonya Earl, lain kali tolong jangan berbicara tentang hal seperti itu, ataupun hal hal lainnya yang begitu pribadi. Karena itu sangatlah tidak sopan, biarlah itu menjadi urusan pribadi mereka." Ucap Nyonya Ronald menimpali Ucapan suaminya tadi.
"Bukan begitu nyonya Dawson?" Tanya nyonya Ronald lagi untuk meminta persetujuan Gadis itu.
Audrey pun mengangguk kecil sembari tersenyum tipis. "Anda benar nyonya Ronald."
Nyonya Earl yang akhirnya kepalang malu akibat mendapatkan teguran dari Vincent serta pasangan Ronald pun akhirnya memutuskan untuk meminta maaf pada Audrey. Dia mau tidak mau harus melakukan hal itu, daripada nanti harus mendengar kabar kebangkrutan perusahaannya.
Sejujurnya, wanita itu sendiri melakukan hal itu hanya untuk menjatuhkan pasangan tersebut di depan orang banyak, dia begitu iri melihat kemesraan dua orang itu, tidak seperti rumah tangganya yang lebih sering mendapatkan berita miring. Namun sayang, dia malah terperangkap dalam jebakannya sendiri.
"Aku- aku minta maaf nyonya Dawson. Aku hanya menunjukkan kepedulian ku saja, aku tidak bermaksud apapun padamu." Ucap wanita itu dengan sedikit gugup.
"Baiklah Nyonya Earl. Saya harap lain kali anda tidak melakukan hal seperti ini lagi." Ucap Audrey dengan datar pada wanita itu.
Setelahnya Vincent dan Audrey kini memutuskan untuk diam dan tidak lagi berkeinginan untuk mengobrol bersama dengan mereka yang ada di meja tersebut. Setelah peristiwa barusan, keduanya tidak memiliki mood yang bagus lagi untuk bercengkrama dengan orang orang itu. Sebagian besar orang orang disini hanya ingin menjatuhkan satu sama lain, sama halnya seperti yang mereka alami barusan.
Bersambung.....
Warning!!!!! 21++ Aku datang ke rumah mereka dengan niat yang tersembunyi. Dengan identitas yang kupalsukan, aku menjadi seorang pembantu, hanyalah bayang-bayang di antara kemewahan keluarga Hartanta. Mereka tidak pernah tahu siapa aku sebenarnya, dan itulah kekuatanku. Aku tak peduli dengan hinaan, tak peduli dengan tatapan merendahkan. Yang aku inginkan hanya satu: merebut kembali tahta yang seharusnya menjadi milikku. Devan, suami Talitha, melihatku dengan mata penuh hasrat, tak menyadari bahwa aku adalah ancaman bagi dunianya. Talitha, istri yang begitu anggun, justru menyimpan ketertarikan yang tak pernah kubayangkan. Dan Gavin, adik Devan yang kembali dari luar negeri, menyeretku lebih jauh ke dalam pusaran ini dengan cinta dan gairah yang akhirnya membuatku mengandung anaknya. Tapi semua ini bukan karena cinta, bukan karena nafsu. Ini tentang kekuasaan. Tentang balas dendam. Aku relakan tubuhku untuk mendapatkan kembali apa yang telah diambil dariku. Mereka mengira aku lemah, mengira aku hanya bagian dari permainan mereka, tapi mereka salah. Akulah yang mengendalikan permainan ini. Namun, semakin aku terjebak dalam tipu daya ini, satu pertanyaan terus menghantui: Setelah semua ini-setelah aku mencapai tahta-apakah aku masih memiliki diriku sendiri? Atau semuanya akan hancur bersama rahasia yang kubawa?
Livia ditinggalkan oleh calon suaminya yang kabur dengan wanita lain. Marah, dia menarik orang asing dan berkata, "Ayo menikah!" Dia bertindak berdasarkan dorongan hati, terlambat menyadari bahwa suami barunya adalah si bajingan terkenal, Kiran. Publik menertawakannya, dan bahkan mantannya yang melarikan diri menawarkan untuk berbaikan. Namun Livia mengejeknya. "Suamiku dan aku saling mencintai!" Semua orang mengira dia sedang berkhayal. Kemudian Kiran terungkap sebagai orang terkaya di dunia.Di depan semua orang, dia berlutut dan mengangkat cincin berlian yang menakjubkan. "Aku menantikan kehidupan kita selamanya, Sayang."
Seto lalu merebahkan tubuh Anissa, melumat habis puting payudara istrinya yang kian mengeras dan memberikan gigitan-gigitan kecil. Perlahan, jilatannya berangsur turun ke puser, perut hingga ke kelubang kenikmatan Anissa yang berambut super lebat. Malam itu, disebuah daerah yang terletak dipinggir kota. sepasang suami istri sedang asyik melakukan kebiasaan paginya. Dikala pasangan lain sedang seru-serunya beristirahat dan terbuai mimpi, pasangan ini malah sengaja memotong waktu tidurnya, hanya untuk melampiaskan nafsu birahinya dipagi hari. Mungkin karena sudah terbiasa, mereka sama sekali tak menghiraukan dinginnya udara malam itu. tujuan mereka hanya satu, ingin saling melampiaskan nafsu birahi mereka secepat mungkin, sebanyak mungkin, dan senikmat mungkin.
Binar Mentari menikah dengan Barra Atmadja,pria yang sangat berkuasa, namun hidupnya tidak bahagia karena suaminya selalu memandang rendah dirinya. Tiga tahun bersama membuat Binar meninggalkan suaminya dan bercerai darinya karena keberadaannya tak pernah dianggap dan dihina dihadapan semua orang. Binar memilih diam dan pergi. Enam tahun kemudian, Binar kembali ke tanah air dengan dua anak kembar yang cerdas dan menggemaskan, sekarang dia telah menjadi dokter yang berbakat dan terkenal dan banyak pria hebat yang jatuh cinta padanya! Mantan suaminya, Barra, sekarang menyesal dan ingin kembali pada pelukannya. Akankah Binar memaafkan sang mantan? "Mami, Papi memintamu kembali? Apakah Mami masih mencintainya?"
Kulihat ada sebuah kamera dengan tripod yang lumayan tinggi di samping meja tulis Mamih. Ada satu set sofa putih di sebelah kananku. Ada pula pintu lain yang tertutup, entah ruangan apa di belakang pintu itu. "Umurmu berapa ?" tanya Mamih "Sembilanbelas, " sahutku. "Sudah punya pengalaman dalam sex ?" tanyanya dengan tatapan menyelidik. "Punya tapi belum banyak Bu, eh Mam ... " "Dengan perempuan nakal ?" "Bukan. Saya belum pernah menyentuh pelacur Mam. " "Lalu pengalamanmu yang belum banyak itu dengan siapa ?" "Dengan ... dengan saudara sepupu, " sahutku jujur. Mamih mengangguk - angguk sambil tersenyum. "Kamu benar - benar berniat untuk menjadi pemuas ?" "Iya, saya berminat. " "Apa yang mendorongmu ingin menjadi pemuas ?" "Pertama karena saya butuh uang. " "Kedua ?" "Kedua, karena ingin mencari pengalaman sebanyak mungkin dalam soal sex. " "Sebenarnya kamu lebih tampan daripada Danke. Kurasa kamu bakal banyak penggemar nanti. Tapi kamu harus terlatih untuk memuaskan birahi perempuan yang rata - rata di atas tigapuluh tahun sampai limapuluh tahunan. " "Saya siap Mam. " "Coba kamu berdiri dan perlihatkan punyamu seperti apa. " Sesuai dengan petunjuk Danke, aku tak boleh menolak pada apa pun yang Mamih perintahkan. Kuturunkan ritsleting celana jeansku. Lalu kuturunkan celana jeans dan celana dalamku sampai paha.