Unduh Aplikasi panas
Beranda / Romantis / BONEKA PEMUAS CEO
BONEKA PEMUAS CEO

BONEKA PEMUAS CEO

5.0

21+ Hidup sebatang kara tak semudah itu bagi seorang gadis seperti Mingmei Xia. Setiap hari adalah perjuangan untuk mewujudkan impian kedua orang tuanya yang telah tiada. Namun, dia terjebak dalam kehangatan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Sikap pria itu tak dapat di tebak, kadang hangat, kadang dingin, membuatnya seperti boneka yang dikendalikan oleh iblis yang bersembunyi di dalam ketampannya. Akankah dia mencintai Mingmei?

Konten

BONEKA PEMUAS CEO Bab 1 Menjual Diri

"Sekarang, apa yang harus aku lakukan," gumam Mingmei dengan air mata yang menetes.

Mingmei Xia duduk di sudut kamarnya yang kecil, menatap foto keluarga yang kini tinggal kenangan. Dua tahun sudah berlalu sejak kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Sejak saat itu, hidup Mingmei berubah total. Tidak ada lagi canda tawa di meja makan, tidak ada lagi kehangatan pelukan ibu, atau nasihat bijak dari ayah. Semua hilang dalam sekejap, meninggalkan Mingmei yang kini hidup sebatang kara di usianya yang masih belasan tahun.

Mingmei adalah gadis keturunan dari dua negara yang sering dijuluki negeri tirai bambu dan juga negeri seribu candi atau seribu pulau. Kulitnya seputih salju, mata bulat yang indah, dan bulu mata yang lebat dengan tubuhnya yang kurus namun berisi di bagian yang seharusnya menonjol. Penampilannya yang sempurna sering membuat orang-orang terpana. Wajahnya yang menyerupai boneka Barbie membuatnya banyak dilirik para pria, namun di balik penampilan yang memukau itu, tersimpan beban hidup yang begitu berat. Dia berjuang untuk tetap hidup dan bisa melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi meskipun harus menahan lapar, kelelahan, dan kesedihan yang terus menghantui.

Sekarang, hanya tersisa satu bulan untuk menyelesaikan biaya tunggakan agar bisa menebus ijazah SMA sebelum melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi seperti keinginan kedua orang tuanya. Namun, kebutuhan hidup sehari-hari yang tak tercukupi, semua membuatnya tenggelam dalam kesedihan, belum lagi biaya pendaftaran ke perguruan tinggi sangatlah mahal. Pekerjaan sampingan yang selama ini dia lakukan tidak mampu menutupi semua kebutuhannya dan biaya sekolah. Mingmei tahu bahwa dia harus segera menemukan jalan keluar, tapi apa? Bagaimana?

Mingmei akhirnya memutuskan untuk bertemu dan berbicara dengan Zay, satu-satunya teman yang dia percayai.

"Zay, aku sangat butuh uang," ujar Mingmei dengan suara yang nyaris berbisik saat mereka bertemu di sebuah taman yang sepi.

Zay Anderson adalah seorang pemuda yang sederhana yang lahir dari keluarga miskin. Ibunya bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga Fransisco, sebuah keluarga kaya raya yang memiliki pengaruh besar di kota mereka. Meski hidupnya sendiri sulit, Zay selalu berusaha membantu Mingmei sebisa mungkin. Namun, kali ini, Mingmei meminta sesuatu yang sangat berat bagi hati Zay tetapi pria itu akan melakukan apa yang di minta Mingmei.

Zay menatapnya, dia tahu jika Mingmei memang selalu membutuhkan uang, termasuk dirinya sendiri. Zay terdiam tanpa kata mencoba menunggu kelanjutan perkataan gadis yang ada di sampingnya. Wajahnya menunjukkan rasa iba yang mendalam. Namun, tak mampu untuk memberikan yang terbaik untuknya.

"Aku sudah berusaha keras, Zay. Tapi ... ini terlalu sulit. Aku tidak bisa melunasi tunggakan sekolahku, dan menebus ijazahnya nanti," lanjut Mingmei, air mata mulai menggenang di matanya yang indah.

Zay terdiam, merasa tak berdaya melihat temannya yang begitu putus asa.

"Aku ... aku berpikir untuk ... mencoba menjual diri pada pria kaya," kata Mingmei akhirnya, kalimat itu keluar dengan begitu sulit. "Aku butuh uang, Zay. Tolong bantu aku untuk yang terakhir kali. Carikan aku pria yang bisa ... yang bisa membayar semua hutangku."

Zay terkejut mendengar permintaan itu. Detak jantungnya seakan berhenti berdetak, tenggorokannya terasa tercekat, hatinya seakan hancur mendengar kata-kata yang memang sudah beberapa kali Mingmei katakan padanya. Zay selalu mencoba membujuk Mingmei untuk bekerja lebih keras lagi, begitupun dengan Zay yang berusaha bekerja lebih keras lagi agar bisa memberikan yang terbaik pada ibunya dan bisa memberikan sisa uangnya pada Mingmei.

"Mingmei, apa sekarang kamu benar-benar serius? Ini bukan solusi yang baik. Kamu tidak perlu melakukan ini," kata Zay terlihat tidak rela bila Mingmei melakukan hal seperti itu.

"Aku tak punya pilihan lain, Zay. Aku sudah mencoba semua cara, tapi ... tidak ada yang berhasil. Aku tidak mau menyerah begitu saja. Aku harus bisa masuk ke perguruan tinggi, demi orang tuaku," jawab Mingmei dengan suara bergetar.

Zay menundukkan kepala, merasa bimbang. Dia tahu bahwa Mingmei benar-benar terdesak, tapi dia juga tahu betapa berat keputusan ini. Setelah beberapa saat, Zay akhirnya mengangguk, meski hatinya hancur dan hanya bisa pasrah merelakan.

"Ehemmm..." Zay berdehem menetralkan perasaannya walaupun sulit. Dia pun kembali berkata, "Aku akan coba bicara dengan Tuan Gibson Fransisco. Dia... dia mungkin bisa membantu."

"Zay, apa kau sudah tidak waras? Orang seperti dia mana mungkin mau denganku, lebih baik kau cari saja pria lain," ujar Mingmei yang merasa tidak percaya diri dengan kecantikannya.

Gibson Fransisco adalah putra dari keluarga yang sangat kaya dan berpengaruh di kota itu. Dia dikenal sebagai pria dewasa yang tegas, sedikit misterius, dan memiliki karisma yang tak bisa diabaikan. Meski tak pernah benar-benar berinteraksi langsung dengan Zay, Gibson kerap melihat Zay saat membantu ibunya di rumah mereka.

Zay hanya berharap Gibson bisa melihat Mingmei sebagai seseorang yang layak dibantu, bukan hanya sebagai barang dagangan.

****

Ketika Zay menjemput ibunya pulang kerja akhirnya berkesempatan untuk bertemu dengan Gibson. Zay diam-diam membuka pintu ruang kerja yang di dalamnya terdapat Gibson yang sedang fokus dengan pekerjaannya yang ada di atas meja.

Dia merasakan jantungnya berdegup kencang. Ruangan itu dipenuhi dengan buku-buku tebal dan perabotan mewah, menambah aura yang terpancar dari Gibson.

"Malam Tuan Gibson, maaf telah lancang masuk ke ruangan ini, aku ... aku hanya ingin bicara soal temanku, Mingmei," kata Zay gugup. "Dia sedang kesulitan dan sangat membutuhkan uang. Aku tahu ini terdengar buruk, tapi ... dia bersedia melakukan apa saja untuk melunasi hutang sekolahnya."

Gibson yang awalnya sibuk menandatangani beberapa dokumen, mendadak terdiam dan mengangkat kepalanya. Matanya menatap Zay dengan tajam, seolah menilai setiap kata yang keluar dari mulut pemuda itu. Zay merasa gugup, berpikir bahwa mungkin dia telah membuat kesalahan besar.

Namun, Gibson tidak langsung merespons. Dia hanya diam, menatap Zay dengan ekspresi yang sulit diartikan. Merasa tidak ada harapan, Zay mencoba untuk pergi.

"Maafkan aku, Tuan Gibson karena telah berbicara seperti ini. Aku ... aku tidak seharusnya mengajukan permintaan seperti ini," kata Zay dengan nada putus asa. "Aku akan pergi sekarang."

Zay buru-buru meninggalkan ruangan itu, takut ketahuan ibunya karena telah berani masuk kedalam ruangan tuannya.

Ketika sampai di luar ruangan, Zay menarik napas panjang dan langsung bergegas keluar dari rumah besar itu.

Sesampainya di luar, Zay segera datang ke rumah Mingmei untuk menemuinya. Dengan wajah penuh penyesalan, Zay memberitahunya bahwa dia tidak bisa membantu.

"Mingmei, aku minta maaf! Ternyata dia tidak memberikan jawaban apa-apa. Aku rasa kita tidak bisa mengandalkannya. Mungkin... mungkin kamu harus cari cara lain," ujar Zay dengan nada penuh kesedihan.

Mingmei menundukkan kepala, merasa harapannya hancur seketika. "Mungkin kamu benar, Zay. Terima kasih sudah mencoba."

Zay menggenggam tangan Mingmei, berusaha memberikan kekuatan. "Aku tahu ini sulit, tapi kamu masih punya waktu untuk menemukan solusi lain. Jangan menyerah, ya."

Namun, jauh di dalam hatinya, Mingmei tahu bahwa waktu semakin menipis.

Zay, yang melihat kesedihan Mingmei terlihat jelas dari raut wajahnya, merasa putus asa karena tidak bisa membantu temannya. Akhirnya dia menyarankan satu opsi terakhir, meski itu bukan pilihan yang tepat.

"Mingmei, aku tahu ini mungkin bukan pilihan yang kamu inginkan, tapi ... mungkin kamu bisa coba kerja di klub. Setidaknya, kamu bisa dapat uang cepat di sana."

Mingmei terkejut mendengar saran itu. Klub malam? Dunia yang begitu asing dan berbahaya bagi gadis seperti dirinya. Namun, dengan tidak ada pilihan lain yang tersisa, Mingmei merasa semakin terpojok.

"Aku akan memikirkannya, Zay," jawab Mingmei dengan suara yang nyaris hilang.

Malam itu, Mingmei tidak bisa tidur. Pikirannya terus bergolak, memikirkan nasibnya yang semakin tidak menentu. Dia merasa takut, bingung, dan kesepian. Di tengah kegelapan malam, air mata mengalir di pipinya, membasahi bantal yang sudah usang. Dia tahu bahwa keputusan yang harus diambilnya bukanlah keputusan yang mudah, namun waktu terus berjalan, dan Mingmei harus segera memilih jalan yang akan diambilnya.

Namun, apapun yang terjadi, Mingmei tahu bahwa dia harus tetap bertahan. Meski dunia seolah tidak berpihak padanya tetapi demi mewujudkan harapan orang tuanya dia akan melakukan apapun dan bagaimanapun caranya termasuk bekerja di klub.

Lanjutkan Membaca
img Lihat Lebih Banyak Komentar di Aplikasi
Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY