img Ibuku Mati Dua Kali  /  Bab 2 Dua | 40.00%
Unduh aplikasi
Riwayat Membaca

Bab 2 Dua

Jumlah Kata:1114    |    Dirilis Pada: 16/01/2024

a

melontarkan guyonan. Meski menurut Ayu dan Septi yang dud

sikan diri adalah sekolah. Di hadapan para sahab

uka. Aku tak ingin teman-teman tahu bahwa kehidupan di

ng terakhir memakai sepatu. Rania, Ayu dan Septi tentu langsung meninggalkanku. Seb

nggu!" T

kakiku sedikit sulit untuk masuk. Bagian sisi solnya juga ada yang

elempar tasnya ke arahku. Untung dengan cekatan tertangka

kemudian men

egangan tangan seperti d

u

tadi, Banyu berlari lebih dulu. Sedangkan aku berusaha mengambil langkah

t berbaris. Untung saja aku tiba tepat saat h

g ada luka?" Banyu berbisik di sebelahku. Ia pasti

eda," jawabku singka

san yang mulai hening, jelas tawanya sangat kentara. Aku seger

elesaikan terta

, k

dibubarkan, kecuali Banyu. Dia sepertinya diminta untuk memu

Ia masuk dengan tak bersemangat, lalu setel

suara lemas ia menanyakan k

di hanya menca

atatanmu. Nanti s

ya tadi kutulis dengan rapi. Banyu akan mudah memba

tnya loh, Nyu. Lebih e

g lebih baik. Tapi, Banyu menggeleng. Ia tet

*

ada sebutir nasi pun yang masuk perut. Air putih yang kubawa dari

ih dulu. Karena takut dengan Ibu, aku tak berani mengambil sep

sekolahnya tak terl

i melangkah gontai meninggalkan area sekolah. Saat belum te

a jala

awa sepeda,"

g dulunya teman sekelasku dari kelas sepuluh m

Namun, baru saja duduk deng

s menatapku." Dari sika

tak gr

, k

gi sambil menghentakkan kaki. Tetapi, Marisa

. Aku tahu kamu miskin." Mulut Maris

bertele-tele.

kami ya, Feb.

ke arah Marisa yang me

karena milik paman Un

angsung naik

gatkanku kalau kami akan bertemu lebih dulu

ntuk menjaga warung. Sebagai kesepakatan, nanti pulang la

ru saja kunaiki sepeda Ibu datang

kem

, Bu. Tak apa biar aku yang jaga warung."

rot, "Aku tak menanyaimu. Apa

iut dan memilih un

embali sepeda dan meminta

gan Marisa. Boleh ya

arang ke pusat perbelanjaan sana, jual ini!" Ibu melepaskan cincin dar

bu, aku akan terlambat menemui Marisa dan teman-teman lai

sepulang sek

elayangkan tamparan ke pipiku. Rasanya p

al harta satu-satunya ini juga gara-gara kamu! Jualan rugi karena banyak sayur yang tak kau beli

i aku jualin, semoga masi

bu. Tapi entah kenapa ia malah menghantam kepal

pelajaran dulu b

endak bangkit sambil menahan

Jangan. Kasia

ng menangkap hal itu memberi isyarat dengan menggelen

erasaan tak berdayanya. Namun, jika memaksa meminta

ndur menjauhi ibu, tapi, hingga terdesak ke dindi

besar kau malah melonjak begini! Apa teman-temanmu itu yang akan menanggung hidupmu?

gan napas yang ter

tuamu, bilang, Feb. Biar kau mati

ulai terbatuk-batuk untuk mencari

sampai di ujung dan kupi

Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY