img KIBAS DASTER BUNDA  /  Bab 10 Bukan bualan | 8.06%
Unduh aplikasi
Riwayat Membaca

Bab 10 Bukan bualan

Jumlah Kata:1889    |    Dirilis Pada: 14/01/2022

senang bisa ikut kegiatan dengan didampingi, Abang Dimas. Mau tak mau Dimas pun izin tidak sekolah demi mendampingi adik bungsunya itu, ia

Ia masih menggunakan daster dan mencepol asal rambutnya. Sakura yang baru keluar

a! Biar Abang siapin!" Duh, Dimas benar-benar calon menant

ak Akasia dari dalam kama

, Mario memberikan dua lembar uang seratus r

mengambil dompet dari dalam slin

, Bun." Mari

ikan seragam olahraga Akasia yang wajib digunak

wab dengan anggukan kepala. Ia menyugar rambut hitam peka

dua matanya. Ia mena

yah ada di lemari n

nyusul suaminya ke dalam kamar sebelum seisi lemari ru

na, sih?!" Don

kita pertama ketemu di acara festiv

pan lemari. Mario lalu mengangguk. Dona menggeleng kepala heran, ia menuju ke lemari

ngsung berbinar kedua matanya, seak

Mario mengambil jaket

lalu berjalan keluar dan me

makainya. Muat, pas dan benar

a Bundamu, keren kan, kamu." Mario bersedekap. Betapa ban

yi kalian pun, bisa Ayah kamu simpen, tapi buat apaan kan, helaawww ...." Dona jengah menatap hobi suaminya

rang yang memorable harus teta

." Dimas dan Akasia mencium punggung tangan kedua orang tuanya. La

berdiri di depan Ayah dan Bund

gan Basket antar sekolah di GOR deket tempat les K

ribu, namun Sakura masih cemberut

Mario yang tegas. Ia berjalan ke arah meja makan, untuk sarapan seb

ngir, nasi putih, telor dadar dan kerin

pan yok, Nak,

at, Assalamualaikum."

empak. Helaan napas Mario terdengar, ia me

Bun." Mario mulai menyantap sarapannya.

! Dona," s

b Dona. Silvi lalu menghampiri

a menunjuk ke kan

kan Mar, lanjut," celoteh Silvi karena Mario sempat bengong melihatnya datang, salah

l yang biasa jemput dia," tanya Silvi masih berdi

n, Bun," Lirih Mari

lau dia udah pulang sore nanti," Dona menepuk

menin Guntar sama Papinya ke

yam mau diapain!" teria

juga boleh, bye Don!" Silvi ngeloyor pergi

ing pergi ke rumah saudara atau kerabat lainnya. Ke pasar, itu hanya alasan dan modus dia

*

duduk di kursi paling belakang yang sejajar garis lurus itu, Dimas menurutinya. Ia memangku tas yang dibawanya,

ila, teman sekelasnya itu ada di dalam bis yang sama denga

kak aku, Dimas namanya." Akasia begitu semangat. I

anya Dimas ketus ke Kal

, wah, semesta berpihak ke kita, nih." Gadis itu cengar

usu kotak ke Abang, ya?" tanya Aka

uat adek gue ini." Dimas menunjuk Akasia dengan dagun

war Kalila. Akasia menatap Dimas dahulu, meminta persetujuan. Dimas melir

Azka, Dimas hanya sesekali melirik, menatap raut wajah Akasia yang begitu senang. Ia juga ikut senang, tak sia-

*

ng

a makan siang di lapangan luas dengan hamparan rerumputan. Dimas menyiapkan makan siang untuk adiknya itu, di saat Akasia mencuci tangannya. Kalila memperhat

pangg

" jaw

Kalila sungguh membuat Dimas jengah. Akasia dan Azka sudah kembali setel

k makan?" t

makan buruan, jangan sambil ketawa-ketawa kalau maka

si adiknya itu. Ia membuka kotak bekal yang dibawakan bundanya, berisi nasi, telur dadar, dan orek tempe. Menu sarapan tadi pagi. Dimas memakannya tanpa me

Kalila memegang satu kemasan kotak minuman teh dingin. Dimas menerimanya, Kali

kan, masih ada nggak? Bag

letuk Dimas. Ia

a lo?" lanjut Dimas sedikit ketus sa

tu. Dimas meletakan kotak makannya dan mengambil satu

g bisa gue kasih ke elo," ucap Dimas samb

seketika Dimas terbatuk-batuk. Kalila mengambil teh

sorry... sorry," Kalila

rasa lebih lega. Ia sudah tak nafsu makan lagi. Dengan cepat ia

?" Kalila menunjuk wajah Dimas dengan telunjuknya. Dimas malas meladeni Kalila,

a diri menyemangati dirinya terus. Ia lalu berjalan menyusul Dimas. Ia memakan kotak bekal milik Dimas, lalu senyum

*

ngetuk pelan pintu kamar Sakura. Pintu terbuka, tampak Sakura sedang

ah sama siapa?" Dona bertanya dengan n

an Kakak. Udah ya, Bun, Ka

a mau jawaban juju

alam kamar di saat Dona masih ingin berbicara. Ia ingat ka

gkat dan pulang sekolah?!" Dona menatap tajam ke Sakura yang tampak te

kan kepala pun menjadi

lan sama dia lagi, jangan mikirin urusan cowok bisa, kan? Kamu kejar beasiswa kam

mongin bukan bualan, paham?" Untuk pertama kalinya Dona marah

sebel sama Bunda!" ucap Sakura kesal sambil mengacak-ngacak rambu

khir, Mario yang baru turun dari mobil setelah ia memarkirkan di garasi. Dona di

sam

img

Konten

img
  /  2
img
Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY