Buku dan Cerita Bella Storm
Putra Rahasia Sang CEO dan Istri Dokternya
Kehidupan rahasia suamiku masuk ke ruang kerjaku di hari pertamaku sebagai Kepala Residen: seorang anak laki-laki berusia empat tahun dengan mata ayahnya dan alergi turunan langka yang sangat kukenal. Bramantyo, pria yang kunikahi, saingan brilian yang bersumpah tidak bisa hidup tanpaku, ternyata punya keluarga lain. Di pesta ulang tahun perusahaannya, putranya secara terang-terangan menyebutku perempuan jahat yang mencoba merebut ayahnya. Saat aku melangkah mendekati anak itu, Bramantyo mendorongku hingga jatuh ke lantai untuk melindunginya. Kepalaku terbentur, dan saat nyawa calon anak kami mengalir keluar dari tubuhku, dia pergi begitu saja tanpa menoleh sedikit pun. Dia tidak pernah menjengukku di rumah sakit. Dia membiarkanku menghadapi kehilangan bayi kami sendirian. Saat itulah aku tahu pria yang kucintai benar-benar telah tiada, dan lima tahun pernikahan kami adalah sebuah kebohongan. Selingkuhannya mencoba menyelesaikan pekerjaan itu, mendorongku dari tebing ke laut. Tapi aku selamat. Dan saat dunia berduka atas kematian Alina Wijaya, aku naik pesawat ke Zurich, siap memulai hidup baruku.
Pengorbanannya, Kebencian Butanya
Bosku, Baskara Aditama, memaksaku mendonorkan sumsum tulang belakang untuk tunangannya. Wanita itu takut bekas luka. Selama tujuh tahun, aku menjadi asisten bagi anak laki-laki yang tumbuh bersamaku, pria yang kini membenciku setengah mati. Tapi tunangannya, Rania, menginginkan lebih dari sekadar sumsum tulangku; dia ingin aku lenyap. Dia menjebakku karena menghancurkan hadiah senilai lima puluh miliar rupiah, dan Baskara membuatku berlutut di atas pecahan kristal sampai lututku berdarah. Dia menjebakku atas penyerangan di sebuah pesta, dan dia membuatku ditangkap, di mana aku dipukuli sampai babak belur di dalam sel tahanan. Lalu, untuk menghukumku atas video seks yang tidak pernah aku sebarkan, dia menculik orang tuaku. Dia membuatku menonton saat dia menggantung mereka dari sebuah derek di gedung pencakar langit yang belum selesai, ratusan meter di udara. Dia meneleponku, suaranya dingin dan angkuh. "Sudah dapat pelajaranmu, Cora? Siap untuk minta maaf?" Saat dia berbicara, tali itu putus. Orang tuaku jatuh terempas ke dalam kegelapan. Anehnya, ketenangan yang mengerikan menyelimutiku. Rasa darah memenuhi mulutku, gejala penyakit yang tidak pernah dia ketahui kumiliki. Dia tertawa di seberang telepon, suara yang kejam dan buruk rupa. "Lompat saja dari atap itu kalau memang sesakit itu. Itu akan menjadi akhir yang pantas untukmu." "Baiklah," bisikku. Dan kemudian, aku melangkah dari tepi gedung, menuju udara yang hampa.
Janji untuk Berpisah
Vivian berdiri di depan pintu kantor Darren, menggenggam kontrak yang didesak oleh bagian hukum untuk segera ditandatangani. Karena kebiasaan, dia hampir mendorong pintu terbuka tanpa mengetuk. Semua orang di perusahaan mengetahui hubungannya dengan Darren, dan mereka biasa melewati protokol kantor yang umum. Namun, hari ini, jarinya ragu sejenak di panel pintu sebelum dia mengetuk dengan lembut. Dari dalam kantor, terdengar suara gemerisik, bercampur dengan tawa pelan seorang wanita. Hati Vivian terasa seperti disiram air dingin, tetapi dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mendorong pintu terbuka. Adegan di dalam kantor terasa seperti kejutan dingin. Darren bersandar di meja, dengan Khloe hampir bersandar di pelukannya, jemarinya yang lincah dengan cekatan memperbaiki dasi Darren. Sinar matahari menerobos melalui jendela besar, memancarkan bayangan keintiman mereka. "Darren, dokumen-dokumen ini..." Suara Vivian terhenti di tenggorokan. Suara Vivian terhenti, Baik Darren maupun Khloe menoleh.
