Buku dan Cerita Lila Hart
Kekasih Bersama: Penghinaan Seorang Istri
Kupikir suamiku berselingkuh adalah lelucon terbesar dalam hidupku. Hingga dia membawa selingkuhannya ke rumah, dan mertuaku yang sudah berumur lebih dari lima puluh tahun langsung menyerangnya dengan penuh amarah. "Coba saja kalau kamu berani menyentuh dia!" bentak mertuaku, Julio James, pada putranya sendiri. Ayah dan anak itu bertengkar di tempat tentang seorang wanita, dan aku menjadi penonton paling canggung dalam sandiwara keluarga kaya ini. Keesokan harinya, berita utama "Ayah dan Anak Berbagi Selingkuhan" menjadi viral. Dalam semalam, aku menjadi lelucon terbesar dan bahan belas kasihan seisi kota.
Dari Cinta ke Benci: Kejatuhannya
Setelah lima tahun menikah dan melahirkan putranya, aku akhirnya akan diterima di keluarga Adhitama yang berkuasa. Aturannya sederhana: lahirkan seorang putra, dan kau akan masuk dalam dana perwalian keluarga. Aku telah melakukan tugasku. Tetapi di kantor pengacara, aku menemukan seluruh hidupku adalah sebuah kebohongan. Suamiku, Baskara, sudah memiliki seorang istri yang terdaftar dalam perwalian: Clara Gunawan, kekasih masa SMA-nya yang seharusnya sudah meninggal satu dekade lalu. Aku bukan istrinya. Aku hanyalah seorang pengganti, sebuah wadah untuk menghasilkan ahli waris. Tak lama kemudian, Clara yang "mati" itu tinggal di rumahku, tidur di ranjangku. Ketika dia dengan sengaja menghancurkan guci abu nenekku, Baskara tidak menyalahkannya. Dia malah mengurungku di gudang bawah tanah untuk "memberiku pelajaran". Pengkhianatan terbesar datang ketika dia menggunakan putra kami yang sedang sakit, Banyu, sebagai pion. Untuk memaksaku mengungkapkan lokasi Clara setelah wanita itu merekayasa penculikannya sendiri, Baskara merenggut selang pernapasan dari nebulizer putra kami. Dia membiarkan anak kami sekarat sementara dia berlari ke sisi wanita itu. Setelah Banyu meninggal dalam pelukanku, cinta yang kumiliki untuk Baskara berubah menjadi kebencian murni yang sedingin es. Dia memukuliku di makam putra kami, berpikir dia bisa menghancur-leburkanku sepenuhnya. Tapi dia lupa tentang surat kuasa yang kuselipkan di antara tumpukan akta arsitektur. Dia menandatanganinya tanpa berpikir dua kali, meremehkan pekerjaanku sebagai sesuatu yang tidak penting. Keangkuhan itulah yang akan menjadi kehancurannya.
