"Berikan ASImu pada putraku akan kuberikan dunia dan seisinya!" Ujar El Zibrano Elemanus. "Kau gila? Aku masih sekolah, mana mungkin bisa menyusui anakmu!" marah Lea kesal "Bisa, dengan bantuan ku!" El tanpa segan meremas benda kenyal Lea.
"Berikan ASImu pada putraku akan kuberikan dunia dan seisinya!" Ujar El Zibrano Elemanus. "Kau gila? Aku masih sekolah, mana mungkin bisa menyusui anakmu!" marah Lea kesal "Bisa, dengan bantuan ku!" El tanpa segan meremas benda kenyal Lea.
Club Casino
Terdapat El dan teman-temannya yang tengah bersenda gurau sembari menikmati koktailnya.
"Eh tahu enggak sih, kemarin ada yang dijodohin lagi sama om Wendles," sindir Glen pada Safrel.
"Udah diem," ketus Safrel yang kesal.
El tampak tertawa puas melihat wajah kesal Safrel.
"Kali ini sama cewek mana lagi?" tanya El penasaran.
Safrel menghela napas sembari menuang koktailnya sekali lagi.
"Masak sih papa mau jodohin aku sama anak temennya, mana dia udah tua lagi," dumelnya dengan kesal.
"Tua? Masak sih? Setua apa?" tanya Glen penasaran.
Safrel menghela napas gusar dan menatap jengah Glen.
"Tanya aja sama papa, atau kau aja yang gantikan aku untuk menikah dengannya," ketusnya kesal yang mana melemparkan perjodohan itu pada Glen.
"Enggak, wanitaku sangat banyak, enggak perlu dijodoh- jodohin, entar kalau udah pengin nikah tinggal pilih aja nanti," jawabnya dengan begitu gamblangnya membuat Safrel dan El tertawa keras.
Mereka yang asyik mengobrol dan bersenda gurau sontak langsung terhenti kala ada seorang perempuan mendatangi meja mereka.
"El mau enggak nikah sama aku?" sontak semua mata tertuju pada wanita itu.
Tampak terlihat wanita tinggi berdiri di depan meja mereka sembari membuka kotak berudu yang memperlihatkan cincin permata mengkilap.
"Wah, kau dilamar?" gumam Safrel berbisik.
"Berapa nyawa yang kau punya? Kau sungguh berani sekali melamar singa jantan yang sudah lapuk ini," gumam Glen membuat El berdecak kesal.
El dengan tatapan dinginnya menatap wanita tersebut.
...

...
Ziko, selaku tangan kanan serta asisten El, yang paham dengan tatapan marah tuannya tersebut sontak langsung mendekati perempuan itu untuk membawanya pergi, selagi El masih berkepala dingin.
"Jangan mengganggu waktu tuan El, kamu bisa membicarakan hal ini di lain waktu lagi," pinta Ziko yang mengusir wanita itu secara halus.
"Tolong jangan halangi aku, aku sedang melamar El," tolaknya sembari mendorong Ziko ke samping.
"El kumohon terimalah lamaranku, aku akan menerima putramu dengan baik dan akan memperlakukan ia seperti putraku sendiri," ucapnya dengan memaksa membuat El meletakkan gelasnya.
Semua wanita di sana tampak begitu penasaran dengan jawaban El.
Tapi mereka lebih penasaran dengan nasib wanita tersebut.
El Zibrano Alemannus , siapa yang tidak tahu sosok iblis berupa tampan nan rupwan itu.
Semua orang tahu sikapnya yang sangat membenci wanita dan tak segan untuk membunuhnya.
Jadi, bagi mereka para perempuan, mendekati El bagikan mengantarkan dirinya sendiri di ambang kematian.
Karena akan berakhir dengan mati di tangan El atau dipermalukan dengan segala ucapan kasarnya.
"Bagaimana jika aku menolak?" tanya El sembari menuang koktailnya.
"Aku akan melompat dari lantai atas club ini," jawabnya dengan enteng dan begitu gamblang.
El tampak manggut-manggut santai namun tidak dengan ekspresi orang-orang yang mencemaskan wanita tersebut.
El beranjak dari sofa dan mendekati wanita itu.
"Ayo ikut denganku," ajaknya membuat semua orang di sana terkejut dan begitu penasaran kemana El akan membawa perempuan itu.
"Apa mereka akan melangsungkan pernikahannya di kamar?" tanya Glen pada Safrel dan Ziko.
Bugh
"Nih otak enggak pernah dipakai yang bener, mana ada nikah di kamar yang ada eksekusi mati," jawab Safrel yang sudah tahu dengan apa yang akan El lakukan pada wanita itu.
Sedangkan di tempat yang sama namun disisi yang berbeda ada Lea yang tengah sibuk dengan ponselnya tanpa memedulikan keributan yang ada.
Ia sibuk meminjam uang ke sana kemari untuk biaya rumah sakit papanya yang saat ini tengah dirawat di rumah sakit.
Ya Cornelio terkena serangan jantung setelah mendengar perusahaannya bangkrut.
Dan mendadak semua aset ditahan oleh bank untuk membayar kerugian serta gaji karyawan yang belum terbayarkan.
Lea yang faktanya anak tunggal dan juga merupakan anak yatim, kini sedang pontang-panting ke sana kemari mencari pinjaman untuk biaya rumah sakit papanya.
Bagaimana tidak pontang-panting jika sepeserpun Lea tidak punya uang untuk biaya rumah sakit papanya.
Bahkan paman dan bibinya enggan untuk meminjami dirinya uang meski hanya untuk pengobatan papanya di rumah sakit.
Padahal dulu Cornelio lah yang membuatkan rumah untuk mereka.
"Arghh bangsat, kenapa tidak ada yang mau meminjami sepeserpun," umpatnya kala ia tak mendapatkan pinjaman dari siapapun.
Lea yang sudah merasa frustasi tapi tak putus asa, langsung menyambar koktailnya kembali.
Ia mengatur napasnya lalu menatap gelasnya.
Sudah kosong.
Lea tak ingat sudah gelas keberapa ia minum.
Dan kini ia sudah merasakan pusing yang begitu hebat.
Kringgg
Lea tersentak kaget kala ponselnya berdering.
Dari rumah sakit.
Dengan cepat Lea beranjak dari sofa dan pergi ke kamar mandi untuk mengangkat telponnya.
BRUGH
Lea yang sedikit pusing dan berjalan dengan kepala menunduk membuat ia tak sengaja menabrak seseorang.
"Apa anda baik-baik saja? Maaf saya sedang buru-buru," ucapnya yang mana ia beberapa kali menggelengkan kepalanya untuk membuat dirinya tetap sadar.
Orang itu ialah El.
Ya kalian tidak salah dengar.
Ia hanya diam dan fokus menatap mata cantik Lea yang tampak sayu namun terlihat begitu cantik, membuat El tertegun dan hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaan Lea.
Lea yang merasa orang itu hanya diam saja sontak langsung pergi begitu saja.
Lea lalu menoleh sekilas sebelum ia masuk ke dalam lorong kamar mandi di mana tatapan mereka bertemu.

El baru tersadar kala Lea sudah menghilang dari pandangannya.
Tampak senyum devil terbit di bibir El yang entah menyiratkan apa hal itu.
Ia lalu kembali ke meja teman-temannya dengan wajah yang sedikit sumringah.
"Di mana perempuan itu?" tanya Glen ingin tahu namun seketika langsung diam kala melihat wajah El yang tampak ada percikan darah.
"Jangan bilang jika kau?" tebak Glen membuat El tersenyum tipis.
"Bukankah ia sendiri yang ingin mati? Aku hanya membantunya," jawabnya dengan gamblang membuat Glen tak habis pikir dengan hal itu.
"YAAA, apa kau pikir nyawa orang itu mainan? Bagaimana bisa kau membunuhnya kala ia menginginkannya?" marah Glen yang tak ingin El mendapatkan masalah.
El melepas jasnya dan membuka kancing kemejanya paling atas sembari menyugar rambutnya ke belakang membuat ia terlihat begitu seksi dan tampan.
"Harusnya ia lebih berhati-hati lagi, suruh siapa datang padaku," jawabnya dengan gamblang.
Ziko yang sudah hafal dengan sikap El hanya bisa menghela napas pelan dan terus merapalkan doa.
Bagaimana tidak merapalkan doa jika ia saja bekerja dengan malaikat maut seperti El.
Yang mana kapan saja ia sendiri juga bisa mati di tangan El jika melakukan sebuah kesalahan.
"Ziko ambilkan baju di mobil, aku ingin mandi dan menemui seseorang yang spesial malam ini," perintahnya pada Ziko.
Ziko langsung pergi ke mobil El untuk mengambil pakaian tuannya.
"Orang spesial? Siapa?" tanya Glen dan Safrel penasaran.
El yang melihat wajah penasaran teman-temannya kini begitu senang.
"Besok juga tahu," jawabnya sembari tersenyum devil lalu melenggang pergi ke lantai atas untuk mandi.Club Casino
Terdapat El dan teman-temannya yang tengah bersenda gurau sembari menikmati koktailnya.
"Eh tahu enggak sih, kemarin ada yang dijodohin lagi sama om Wendles," sindir Glen pada Safrel.
"Udah diem," ketus Safrel yang kesal.
El tampak tertawa puas melihat wajah kesal Safrel.
"Kali ini sama cewek mana lagi?" tanya El penasaran.
Safrel menghela napas sembari menuang koktailnya sekali lagi.
"Masak sih papa mau jodohin aku sama anak temennya, mana dia udah tua lagi," dumelnya dengan kesal.
"Tua? Masak sih? Setua apa?" tanya Glen penasaran.
Safrel menghela napas gusar dan menatap jengah Glen.
"Tanya aja sama papa, atau kau aja yang gantikan aku untuk menikah dengannya," ketusnya kesal yang mana melemparkan perjodohan itu pada Glen.
"Enggak, wanitaku sangat banyak, enggak perlu dijodoh- jodohin, entar kalau udah pengin nikah tinggal pilih aja nanti," jawabnya dengan begitu gamblangnya membuat Safrel dan El tertawa keras.
Mereka yang asyik mengobrol dan bersenda gurau sontak langsung terhenti kala ada seorang perempuan mendatangi meja mereka.
"El mau enggak nikah sama aku?" sontak semua mata tertuju pada wanita itu.
Tampak terlihat wanita tinggi berdiri di depan meja mereka sembari membuka kotak berudu yang memperlihatkan cincin permata mengkilap.
"Wah, kau dilamar?" gumam Safrel berbisik.
"Berapa nyawa yang kau punya? Kau sungguh berani sekali melamar singa jantan yang sudah lapuk ini," gumam Glen membuat El berdecak kesal.
El dengan tatapan dinginnya menatap wanita tersebut.
...

...
Ziko, selaku tangan kanan serta asisten El, yang paham dengan tatapan marah tuannya tersebut sontak langsung mendekati perempuan itu untuk membawanya pergi, selagi El masih berkepala dingin.
"Jangan mengganggu waktu tuan El, kamu bisa membicarakan hal ini di lain waktu lagi," pinta Ziko yang mengusir wanita itu secara halus.
"Tolong jangan halangi aku, aku sedang melamar El," tolaknya sembari mendorong Ziko ke samping.
"El kumohon terimalah lamaranku, aku akan menerima putramu dengan baik dan akan memperlakukan ia seperti putraku sendiri," ucapnya dengan memaksa membuat El meletakkan gelasnya.
Semua wanita di sana tampak begitu penasaran dengan jawaban El.
Tapi mereka lebih penasaran dengan nasib wanita tersebut.
El Zibrano Alemannus , siapa yang tidak tahu sosok iblis berupa tampan nan rupwan itu.
Semua orang tahu sikapnya yang sangat membenci wanita dan tak segan untuk membunuhnya.
Jadi, bagi mereka para perempuan, mendekati El bagikan mengantarkan dirinya sendiri di ambang kematian.
Karena akan berakhir dengan mati di tangan El atau dipermalukan dengan segala ucapan kasarnya.
"Bagaimana jika aku menolak?" tanya El sembari menuang koktailnya.
"Aku akan melompat dari lantai atas club ini," jawabnya dengan enteng dan begitu gamblang.
El tampak manggut-manggut santai namun tidak dengan ekspresi orang-orang yang mencemaskan wanita tersebut.
El beranjak dari sofa dan mendekati wanita itu.
"Ayo ikut denganku," ajaknya membuat semua orang di sana terkejut dan begitu penasaran kemana El akan membawa perempuan itu.
"Apa mereka akan melangsungkan pernikahannya di kamar?" tanya Glen pada Safrel dan Ziko.
Bugh
"Nih otak enggak pernah dipakai yang bener, mana ada nikah di kamar yang ada eksekusi mati," jawab Safrel yang sudah tahu dengan apa yang akan El lakukan pada wanita itu.
Sedangkan di tempat yang sama namun disisi yang berbeda ada Lea yang tengah sibuk dengan ponselnya tanpa memedulikan keributan yang ada.
Ia sibuk meminjam uang ke sana kemari untuk biaya rumah sakit papanya yang saat ini tengah dirawat di rumah sakit.
Ya Cornelio terkena serangan jantung setelah mendengar perusahaannya bangkrut.
Dan mendadak semua aset ditahan oleh bank untuk membayar kerugian serta gaji karyawan yang belum terbayarkan.
Lea yang faktanya anak tunggal dan juga merupakan anak yatim, kini sedang pontang-panting ke sana kemari mencari pinjaman untuk biaya rumah sakit papanya.
Bagaimana tidak pontang-panting jika sepeserpun Lea tidak punya uang untuk biaya rumah sakit papanya.
Bahkan paman dan bibinya enggan untuk meminjami dirinya uang meski hanya untuk pengobatan papanya di rumah sakit.
Padahal dulu Cornelio lah yang membuatkan rumah untuk mereka.
"Arghh bangsat, kenapa tidak ada yang mau meminjami sepeserpun," umpatnya kala ia tak mendapatkan pinjaman dari siapapun.
Lea yang sudah merasa frustasi tapi tak putus asa, langsung menyambar koktailnya kembali.
Ia mengatur napasnya lalu menatap gelasnya.
Sudah kosong.
Lea tak ingat sudah gelas keberapa ia minum.
Dan kini ia sudah merasakan pusing yang begitu hebat.
Kringgg
Lea tersentak kaget kala ponselnya berdering.
Dari rumah sakit.
Dengan cepat Lea beranjak dari sofa dan pergi ke kamar mandi untuk mengangkat telponnya.
BRUGH
Lea yang sedikit pusing dan berjalan dengan kepala menunduk membuat ia tak sengaja menabrak seseorang.
"Apa anda baik-baik saja? Maaf saya sedang buru-buru," ucapnya yang mana ia beberapa kali menggelengkan kepalanya untuk membuat dirinya tetap sadar.
Orang itu ialah El.
Ya kalian tidak salah dengar.
Ia hanya diam dan fokus menatap mata cantik Lea yang tampak sayu namun terlihat begitu cantik, membuat El tertegun dan hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaan Lea.
Lea yang merasa orang itu hanya diam saja sontak langsung pergi begitu saja.
Lea lalu menoleh sekilas sebelum ia masuk ke dalam lorong kamar mandi di mana tatapan mereka bertemu.

El baru tersadar kala Lea sudah menghilang dari pandangannya.
Tampak senyum devil terbit di bibir El yang entah menyiratkan apa hal itu.
Ia lalu kembali ke meja teman-temannya dengan wajah yang sedikit sumringah.
"Di mana perempuan itu?" tanya Glen ingin tahu namun seketika langsung diam kala melihat wajah El yang tampak ada percikan darah.
"Jangan bilang jika kau?" tebak Glen membuat El tersenyum tipis.
"Bukankah ia sendiri yang ingin mati? Aku hanya membantunya," jawabnya dengan gamblang membuat Glen tak habis pikir dengan hal itu.
"YAAA, apa kau pikir nyawa orang itu mainan? Bagaimana bisa kau membunuhnya kala ia menginginkannya?" marah Glen yang tak ingin El mendapatkan masalah.
El melepas jasnya dan membuka kancing kemejanya paling atas sembari menyugar rambutnya ke belakang membuat ia terlihat begitu seksi dan tampan.
"Harusnya ia lebih berhati-hati lagi, suruh siapa datang padaku," jawabnya dengan gamblang.
Ziko yang sudah hafal dengan sikap El hanya bisa menghela napas pelan dan terus merapalkan doa.
Bagaimana tidak merapalkan doa jika ia saja bekerja dengan malaikat maut seperti El.
Yang mana kapan saja ia sendiri juga bisa mati di tangan El jika melakukan sebuah kesalahan.
"Ziko ambilkan baju di mobil, aku ingin mandi dan menemui seseorang yang spesial malam ini," perintahnya pada Ziko.
Ziko langsung pergi ke mobil El untuk mengambil pakaian tuannya.
"Orang spesial? Siapa?" tanya Glen dan Safrel penasaran.
El yang melihat wajah penasaran teman-temannya kini begitu senang.
"Besok juga tahu," jawabnya sembari tersenyum devil lalu melenggang pergi ke lantai atas untuk mandi.
"Pak kenapa bimbingannya di dalam kamar?" Tanya Zeya Scopuso. "Akan ada bimbingan tambahan dari saya," jawab Delson Weather seraya meraba paha Zeya dengan lembut.
"Kau sedang mengintip? Bagaimana jika kuajari secara langsung?" Tawari Hunter Oragle kala menangkap basah putri tirinya mengintip dirinya yang tengah bergumul panas dengan ibunya. •••• Perasaan dan hubungan tabu itu menjadi rumit saat fakta dan kebenaran mencuat.
Ini tentang Zhea Logari Gadis SMA yang dijual ibu tirinya pada seorang germo sekaligus Mafia terkemuka di kota Malta. Bukannya dijadikan budak, Zhea malah dijadikan seorang putri. Yang mana hal itu membuat kakak tirinya berusaha menghalalkan segala cara untuk menggantikan posisi Zhea.
"Duke tolong jangan enghh!" Selina berusaha menahan dirinya. Namun Duke terus menggodanya. "Tinggalkan suamimu dan menikahlah denganku!" bisiknya pada telinga Selina. •••• Entah Selina harus bersyukur atau menyesal menghadiri reuni sekolah malam itu. Setelah pertemuannya dengan mantan kekasih, semua hidup Selina berubah berwarna.
"Di negara Turin, tidak ada yang tahu siapa istriku!" Ucap Grey Massimo -polisi paling kejam dengan julukan Hiu Daratan. •••• Grey menyembunyikan pernikahan dan juga istrinya dari publik. Entah karena dia malu tentang disabilitas yang disandang istrinya karena bisu atau memang dia sengaja menutupi dari publik demi keamanan istrinya sebagai istri seorang polisi yang dikelilingi musuh tak terlihat. Hingga suatu hari Grey mendapatkan sebuah telepon misterius jika dia tahu siapa istrinya dan berniat akan membunuhnya jika Grey tidak melepaskan salah satu narapidana yang Grey tangkap dalam buronan selama 3 bulan ini. Kira kira apa yang akan Grey lakukan, melepas narapidana yang sudah lama mereka cari atau mengabaikan telepon yang baginya sebuah penipuan?
"Setelah aku bosan. kamu bisa pergi!" tekan Tyson. "Sekalipun belum genap 1 tahun?" Tyson hanya mengangguk. ••• Karena tidak bisa membayar hutangnya tepat waktu Beatrice Miller terpaksa harus menjadi teman tidur Tyson Lynch selama 1 tahun.
Dua tahun setelah pernikahannya, Selina kehilangan kesadaran dalam genangan darahnya sendiri selama persalinan yang sulit. Dia lupa bahwa mantan suaminya sebenarnya akan menikahi orang lain hari itu. "Ayo kita bercerai, tapi bayinya tetap bersamaku." Kata-katanya sebelum perceraian mereka diselesaikan masih melekat di kepalanya. Pria itu tidak ada untuknya, tetapi menginginkan hak asuh penuh atas anak mereka. Selina lebih baik mati daripada melihat anaknya memanggil orang lain ibu. Akibatnya, dia menyerah di meja operasi dengan dua bayi tersisa di perutnya. Namun, itu bukan akhir baginya .... Bertahun-tahun kemudian, takdir menyebabkan mereka bertemu lagi. Raditia adalah pria yang berubah kali ini. Dia ingin mendapatkannya untuk dirinya sendiri meskipun Selina sudah menjadi ibu dari dua anak. Ketika Raditia tahu tentang pernikahan Selina, dia menyerbu ke tempat tersebut dan membuat keributan. "Raditia, aku sudah mati sekali sebelumnya, jadi aku tidak keberatan mati lagi. Tapi kali ini, aku ingin kita mati bersama," teriaknya, memelototinya dengan tatapan terluka di matanya. Selina mengira pria itu tidak mencintainya dan senang bahwa dia akhirnya keluar dari hidupnya. Akan tetapi, yang tidak dia ketahui adalah bahwa berita kematiannya yang tak terduga telah menghancurkan hati Raditia. Untuk waktu yang lama, pria itu menangis sendirian karena rasa sakit dan penderitaan dan selalu berharap bisa membalikkan waktu atau melihat wajah cantiknya sekali lagi. Drama yang datang kemudian menjadi terlalu berat bagi Selina. Hidupnya dipenuhi dengan liku-liku. Segera, dia terpecah antara kembali dengan mantan suaminya atau melanjutkan hidupnya. Apa yang akan dia pilih?
Danielle tidak menikmati hidup sepenuhnya sebelum dia meninggal. Setelah dia terlahir kembali, dia menyadari betapa bodoh dirinya di kehidupan sebelumnya. Dia merasakan sedikit penyesalan saat melihat suaminya yang sangat tampan. Mengapa dia tidak menyadari pesona pria itu sebelumnya? Apa yang membuatnya menolak pria seperti itu? Dia memercayai orang-orang yang brengsek secara membabi buta, yang mengakibatkan kehancuran seluruh keluarganya. Kini, setelah mendapatkan kesempatan kedua, dia memutuskan untuk menggunakan kecantikan dan kecerdasannya dengan baik. Dia memulai perjalanan untuk membalas dendam dan juga menjalin hubungan dengan orang-orang berpengaruh. Sungguh tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa dia akan menjadi sosok besar dengan berbagai identitas dan koneksi. Segalanya berjalan sangat baik untuknya. Bahkan kelompok pembunuh paling mematikan mengeluarkan pengumuman bahwa siapa pun yang mengusiknya tidak akan bisa hidup untuk melihat hari esok. Empat keluarga terbesar yang dikabarkan berselisih, semua memanjakannya. Bahkan sebuah klan besar yang misterius menyambutnya kembali ke rumah. Dengan senyum, pria paling tampan berjalan ke sisinya dan melingkarkan lengannya di pinggangnya. Pria itu lalu berkata, "Izinkan aku memberikan pengenalan singkat. Teman-teman, kenalkan ini istriku yang cantik." Danielle tidak bisa memercayai apa yang didengarnya. Apa-apaan ini!
Siska teramat kesal dengan suaminya yang begitu penakut pada Alex, sang preman kampung yang pada akhirnya menjadi dia sebagai bulan-bulannya. Namun ketika Siska berusaha melindungi suaminya, dia justru menjadi santapan brutal Alex yang sama sekali tidak pernah menghargainya sebagai wanita. Lantas apa yang pada akhirnya membuat Siska begitu kecanduan oleh Alex dan beberapa preman kampung lainnya yang sangat ganas dan buas? Mohon Bijak dalam memutuskan bacaan. Cerita ini kgusus dewasa dan hanya orang-orang berpikiran dewasa yang akan mampu mengambil manfaat dan hikmah yang terkandung di dalamnya
Briyan seorang CEO mesum berusia 35 tahun jatuh cinta dengan sekertaris nya sendiri, namun ternyata sekertaris nya sudah memiliki kekasih. Akankah Briyan bisa merebut sekertaris nya yang bernama Sessyl tersebut dari kekasihnya.
Semua orang di kota tahu bahwa Amelia telah mengejar Jako selama bertahun-tahun, bahkan menorehkan inisialnya di kulitnya. Ketika rumor jahat menyeruak, dia hanya meluruskan mansetnya dan memerintahkan Amelia untuk berlutut di hadapan wanita yang sebenarnya dia cintai. Amelia, dengan penuh kesadaran dan kemarahan, menggebrakkan cincin pertunangannya ke meja Jako dan pergi. Tak lama setelah itu, dia berbisik "Aku mau" kepada seorang miliarder, dan foto pernikahan mereka langsung membanjiri setiap media sosial. Panik menguasai Jako. "Dia memanfaatkanmu untuk membalas dendam padaku," katanya dengan nada penuh kebencian. Miliarder itu hanya tersenyum. "Menjadi pelindungnya adalah kehormatanku."
© 2018-now Bakisah
TOP
GOOGLE PLAY