Buku dan Cerita Rowan Blake
Rapat Penting Itu Hanya Dusta
Mobilku hancur menabrak pembatas jalan, kakiku terjepit, dan darah mengucur deras di tengah hujan lebat. Dalam kepanikan antara hidup dan mati, aku menelepon suamiku, Roni, memohon pertolongan. Tapi dia malah mematikan teleponku dengan kasar. "Aku sedang rapat penting! Jangan ganggu aku!" bentaknya sebelum sambungan terputus. Aku pingsan menahan sakit, mengira dia benar-benar sibuk menyelamatkan perusahaan. Namun, kebenaran yang kutemukan kemudian jauh lebih menyakitkan daripada luka fisikku. Di fitur 'Close Friend' Instagram sekretarisnya, Chika, terpampang foto tangan Roni sedang memegang obat kucing. Caption-nya menusuk hati: "Makasih Pak Bos selalu ada di saat genting." Ternyata, 'rapat penting' itu hanyalah menemani selingkuhannya ke dokter hewan. Nyawaku ternyata lebih murah daripada seekor kucing peliharaan pelakor. Saat aku menuntut penjelasan, Roni malah menuduhku egois dan drama. "Kamu selamat kan? Bersyukurlah, jangan lebay," katanya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Hingga akhirnya, di hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-10, dia malah memberikan proyek impianku pada Chika di depan umum. Cukup sudah. Aku meletakkan surat cerai dan pengunduran diri di atas meja. "Tanda tangani ini, Roni. Aku pergi." Dia tertawa meremehkan, yakin aku tak bisa hidup tanpanya dan akan kembali mengemis. Dia tidak tahu, kali ini aku tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi.
